mBah Kakung

Semalam saya bermimpi ketemu mBah Kakung yang sudah marhum sekian puluh tahun lalu. Kalau sudah begitu, nanti ketika saya ke Karanganyar mesti nyekar ke kuburnya. Jangan-jangan mBah Kakung sedang kangen putu.

mBah Kakung yang saya maksud bapak dari ibu saya, yang biasa dipanggil oleh orang sekitarnya dengan mBah Reso atau mBah Dhuwur, karena tinggi badannya. Ia adalah pensiunan polisi (entah apa pangkat terakhirnya). Saya tak pernah menangi ia menggunakan seragam polisinya, sebab sependek ingatan saya, waktu saya ‘mengenal’ mBah Kakung ia sudah pensiun dari dinas kepolisian.

Waktu kecil dulu, rumah mBah Kakung dan rumah ibu saya beda kampung sehingga kalau saya ingin main ke rumahnya, mesti menyeberangi sungai Siwaluh – sebuah sungai yang membelah Kota Karanganyar – dalam arti menyeberang yang sebenarnya, karena jembatan Siwaluh cukup jauh dari rumah saya. Lanjut baca…

Share on Facebook

30 S

Akhir bulan September, kira-kira tiga puluh empat tahun lalu.

Anak-anak sekolah menyesaki gedung bioskop. Kapasitas gedung tak sebanding dengan jumlah penonton. Membludak. Tak hanya hari itu, bahkan hari sebelum dan setelahnya tetap penuh sesak, sebab anak-anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA diwajibkan menonton sebuah film di gedung bioskop yang terletak di wilayah kota. Bagi murid yang sekolahnya masih di radius perkotaan, mereka akan berjalanan kaki dengan berbaris rapi menuju gedung bioskop.

Saya ingat betul nama gedung bioskop tersebut, yakni Lawu Theatre di Karanganyar, sebuah kota kecil di lereng gunung Lawu, tempat kelahiran saya. Kenapa murid-murid sekolah diwajibkan nonton bioskop pada saat jam belajar? Mereka konon sedang belajar sejarah, dengan nobar film di gedung bioskop. Film yang diputar mengandung pelajaran sejarah bangsa yang terjadi pada tahun 1965. Ya, mereka sedang nobar film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI sebagai film pendidikan dan renungan karya Arifin C. Noer1. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mengatasi perut buncit

Kira-kira dua minggu lalu saya ketemu seorang kawan yang hampir setahun tidak bersua. Ia kaget melihat kondisi postur tubuh saya: saiki kok lemu banget. Wetengmu kok kaya wong meteng. Iya sih, saya menyadari kalau saya sekarang gemuk banget dan perut mirip bumil 7 bulan.

Bagaimana tidak gemuk dan buncit, untuk bergerak saja malas rasanya. Gerakan paling ekstrem yang saya lakukan misalnya saat ngepel, selebihnya jalan kaki yang cuma beberapa langkah saja. Tapi gerakan-gerakan tersebut tentu saja tidak maksimal membakar lemak, sementara makanan yang masuk ke perut saya jumlahnya lumayan banyak.

Bukannya saya tidak menyadari kondisi tubuh yang semakin membengkak. Makin tambah makmur ya? Demikian seloroh kawan saya tadi. Tepatnya, subur dan makmur untuk menggambarkan tubuh saya saat ini. Lanjut baca…

Share on Facebook