Seni Membaca Buku

Minggu lalu, seorang ayah mengajak anak perempuannya mengunjungi toko buku langganan yang kebetulan beberapa bulan lalu membuka cabang di kota tempat tinggal mereka. Toko buku bukan terletak di sebuah mall, tetapi menempati gedung sendiri yang lumayan keren.

Tempat wisata paling menyenangkan bagi mereka adalah toko buku.

Sejak dini ia memang mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mencintai buku. Dan meskipun gadget selalu di genggaman, membaca buku masih menjadi tradisi mereka. Ia berharap membaca tidak sekedar hobi belaka, tetapi menjadi suatu kebutuhan bagi anak dan cucunya kelak.  Lanjut baca…

Share on Facebook

Pandawa Menyebarkan Berita Hoax

Perang selalu meninggalkan dendam kesumat.

Aswatama mengendap-endap di perkemahan Pandawa. Malam itu ia akan mengeksekusi seluruh Pandawa dan yang menjadi target pertama untuk dibunuhnya adalah Dristadyumna kerabat dekat Pandawa yang telah membunuh Resi Drona, ayah Aswatama.

Dristadyumna yang baru saja melepas baju perangnya ditikam dari belakang oleh Aswatama dan untuk melepaskan dendam kesumatnya ia penggal kepala ksatria yang sudah tak berdaya itu.

***

Aswatama ingat kejadian beberapa hari sebelumnya.

Masih seputar kisah yang terjadi di Padang Kurusetra tempat berlangsungnya pertempuran seru antara Klan Kurawa dan Klan Pandawa. Hari itu, Resi Drona turun ke gelanggang. Mahaguru dan Brahmana para ksatria utama keturunan Bharata itu mengangkat sengaja mengobrak-abrik pasukan Pandawa. Ribuan prajurit Pandawa tewas mengenaskan di tangan lelaki yang sudah berusia sepuh itu.

Keadaan tersebut membuat cemas Pandawa. Tapi, siapa yang sanggup menghentikan amukan Resi Drona? Setahu Pandawa, saat itu Drona belum menggunakan aji pamungkasnya, yakni mantra bramasta. O, mereka membayangkan betapa Klan Pandawa akan hancur lebur jika Drona sudah mengucapkan mantra saktinya tersebut. Puntadewa aka Yudhistira sebagai pimpinan Pandawa memerintahkan kepada Bima aka Werkudara untuk memanggil Kresna untuk dimintai pendapatnya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Dompet itu pun kembali kepada pemiliknya#4

Hari menjelang isya ketika Mas Suryat sampai di rumahnya. Perjalanan dari Jakarta sangat melelahkan, akibat terkena imbas macet di jalan tol Jakarta-Cikampek. Belum juga ia berganti baju dengan kaos Swan kesayangan, bel rumah nyaring berbunyi.

Ia longok dari jendela, terlihat sosok lelaki yang sangat ia kenal. Tamu yang datang bernama Sinung, ia terbiasa memanggilnya Om Sinung membahasakan panggilan untuk anak-anaknya.

Om Sinung adalah bekas tetangga depan rumah Mas Suryat di rumah yang lama. Sudah dua tahun Mas Suryat pindah rumah dan tinggal di kompleks perumahan yang lokasinya cuma sepelemparan sandal dari perumahan lamanya. Lanjut baca…

Share on Facebook