30 S

Akhir bulan September, kira-kira tiga puluh empat tahun lalu.

Anak-anak sekolah menyesaki gedung bioskop. Kapasitas gedung tak sebanding dengan jumlah penonton. Membludak. Tak hanya hari itu, bahkan hari sebelum dan setelahnya tetap penuh sesak, sebab anak-anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA diwajibkan menonton sebuah film di gedung bioskop yang terletak di wilayah kota. Bagi murid yang sekolahnya masih di radius perkotaan, mereka akan berjalanan kaki dengan berbaris rapi menuju gedung bioskop.

Saya ingat betul nama gedung bioskop tersebut, yakni Lawu Theatre di Karanganyar, sebuah kota kecil di lereng gunung Lawu, tempat kelahiran saya. Kenapa murid-murid sekolah diwajibkan nonton bioskop pada saat jam belajar? Mereka konon sedang belajar sejarah, dengan nobar film di gedung bioskop. Film yang diputar mengandung pelajaran sejarah bangsa yang terjadi pada tahun 1965. Ya, mereka sedang nobar film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI sebagai film pendidikan dan renungan karya Arifin C. Noer1. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mengatasi perut buncit

Kira-kira dua minggu lalu saya ketemu seorang kawan yang hampir setahun tidak bersua. Ia kaget melihat kondisi postur tubuh saya: saiki kok lemu banget. Wetengmu kok kaya wong meteng. Iya sih, saya menyadari kalau saya sekarang gemuk banget dan perut mirip bumil 7 bulan.

Bagaimana tidak gemuk dan buncit, untuk bergerak saja malas rasanya. Gerakan paling ekstrem yang saya lakukan misalnya saat ngepel, selebihnya jalan kaki yang cuma beberapa langkah saja. Tapi gerakan-gerakan tersebut tentu saja tidak maksimal membakar lemak, sementara makanan yang masuk ke perut saya jumlahnya lumayan banyak.

Bukannya saya tidak menyadari kondisi tubuh yang semakin membengkak. Makin tambah makmur ya? Demikian seloroh kawan saya tadi. Tepatnya, subur dan makmur untuk menggambarkan tubuh saya saat ini. Lanjut baca…

Share on Facebook

Nge-grab di Yogyes

Dalam bulan Agustus kemarin, saya dua kali mengunjungi Jogja. Tak seperti biasanya – minta tolong ke mas Yoga carikan mobil rental – kali ini saya memanfaatkan transportasi online. Lebih murah, pastinya.

Banyak cerita menarik yang saya gali dari para supir yang mengantar saya. Sekali saya pancing dengan pertanyaan, banyak kisah yang keluar dari mulut mereka.

(1)

Anak saya juga lulusan UGM. Ia seorang dokter yang saat ini ambil spesialis. Adiknya sedang ambil kuliah di UIN, sedang yang bungsu masih SMA. Jadi supir adalah jiwa saya. Dulu saya supir bus, kemudian beralih ke angkot. Saya menyekolahkan anak-anak dari nyupir. Makanya, begitu ada online saya mendaftar.

Mobil yang saya pakai ini dibelikan oleh anak saya yang dokter itu. Silakan bapak tetap nyupir, tapi pakai mobil yang baru ya. Demikian kata anak saya. Sebagai orang tua, saya bangga kepada anak-anak saya. Lanjut baca…

Share on Facebook