Hikayat Jamban

Pada tahun 70-an, saya dan kebanyakan tetangga kalau ingin buang hajat akan pergi ke sungai, bisa sungai alam atau saluran irigasi. Masing-masing orang sudah punya teritori yang dianggap pewe untuk kegiatan selama buang hajat.

Pada suatu hari, kampung saya kedatangan keluarga kaya dan modern gaya hidupnya. Mereka mengontrak rumah salah satu nenek saya, yang lokasinya bersebelahan dengan rumah yang kami tinggali (juga rumah nenek). Baru sehari tinggal di sana, ada tukang yang membikin bangunan jamban di atas sungai yang biasa menjadi tempat kami buang hajat. Bangunan jamban tersebut dari kayu tanpa atap tetapi dilengkapi dengan pintu yang bisa digembok. Cara buang hajat di dalam bangunan tersebut sama dengan cara kami membuang hajat di sungai, tanpa resapan tanpa bak penampung, bedanya hanya dilakukan di tempat yang tertutup. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pulang malu, tak pulang rindu

Beberapa hari ini lalu-lintas jalan dari rumah ke kantor macetnya sedang lucu-lucunya. Untuk menyiasatinya, saya menggunakan motor. Selain bisa nyelap-nyelip di sela-sela kendaraan besar juga memudahkan mencari jalan tikus alternatif.

Tetapi kalau sedang malas kendarai motor sendiri, saya akan nge-grab untuk rute perjalanan ke kantor, dan ketika pulang kantor mbonceng teman (pesan transportasi online sekitar kantor saya susah sekali terdeteksi). Selama nge-grab saya selalu ngobrol dengan  mas Biker sambil menunggu antrian motor kembali berjalan di tengah kemacetan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Putri Johar Manik

Kerajaan Baghdad sibuk sekali pagi itu. Mereka tengah mempersiapkan keberangkatan Raja Abbas yang akan berangkat beribadah haji ke Tanah Suci. Seluruh keluarga besar kerajaan berkumpul di balairung istana untuk melepas kepergian junjungan mereka.

Di tengah hingar-bingar upacara pelepasan keberangkatan, Raja Abbas memanggil putri bungsunya, Johar Manik. Gadis cantik usia belasan tahun itu pun segera bersimpuh di depan ayahnya.

“Anakku, selama aku tinggal beribadah haji di Tanah Suci tetaplah belajar pada Guru Mustakim. Aku berharap ketika pulang nanti engkau telah menyelesaikan pelajaranmu.” Lanjut baca…

Share on Facebook