Pucuk Dicita Ulam pun Tiba

Zaman sekolah dulu, banyak ungkapan dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang tidak/kurang saya pahami. Apalagi kalau itu perkara peribahasa, yang hampir semuanya serapan dari Bahasa Melayu Lama. Sebetulnya, dengan memahami kata per kata dalam peribahasa, otomatis kita akan memahami arti keseluruhan peribahasa itu.

Suatu malam, anak saya mengerjakan PR Bahasa Indonesia dan bertanya kepada saya. Supaya pengalaman waktu kecil saya tidak terulang, saya berusaha menjelaskan kepadanya arti sebuah ungkapan sejelas-jelasnya kalau perlu disertai dengan peragaan/praktek.

Ia menanyakan ungkapan ‘Semata Wayang kok bisa diartikan ‘satu-satunya’ seperti dalam kalimat: Budi anak semata wayang bapak dan ibunya. Saya tunjukkan gambar wayang kepadanya, lalu saya bertanya: wayang ini punya mata berapa? Ya, mata wayang hanya satu, makanya disebut semata wayang.

Soal berikutnya ada di kalimat: Karena begitu cantiknya sang putri, pangeran itu pun menjadi mabuk kepayang. Ia lalu menanyakan arti ‘mabuk kepayang’.  Saya menjawab arti ungkapan ‘mabuk kepayang’ digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang sedang jatuh cinta sehingga ia tidak mampu berfikir secara logis.

Kepayang adalah nama bumbu masak. Kepayang biasa disebut dengan kepahiang atau kluwek atawa keluak (Pangium edule Reinw. ex Blume; suku Achariaceae, dulu dimasukkan dalam Flacourtiaceae) adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tumbuh liar atawa setengah liar. Orang Sunda dan Betawi menyebutnya picung atau pucung. Bijinya dipakai sebagai bumbu dapur masakan Indonesia yang memberi warna hitam pada rawon atawa sup konro. Biji kluwek ini bila mentah sangat beracun karena mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi. Jika dimakan dalam jumlah tertentu menyebabkan pusing (mabuk). Jelas kan sampai di sini, kenapa ada ungkapan mabuk kepayang?

Kemudian ia menanyakan peribahasa ‘Pucuk Dicita Ulam pun Tiba’. Arti peribahasa ini ia hapal: mendapatkan sesuatu yang lebih dari pada apa yang diharapkan atawa dicita-citakan. Saya memberikan gambaran dulu, dicita itu artinya digunting/dipotong. Kemudian saya ke depan rumah mencari tanaman kemangi. Saya pun memotong ‘pucuk’ daun kemangi. Pucuk di sini berarti daun yang masih muda. Pucuk dicita berarti daun yang masih muda dipotong. Bagaimana dengan istilah ulam?

Ulam merupakan istilah untuk tumbuhan yang dimakan secara mentah atawa masyarakat kita menyebut dengan lalapan. Pucuk daun kemangi yang saya potong tadi bisa/datang/tiba menjadi ulam atawa lalapan yang sedap kalau dinikmati bersama sambal, ikan asin dan nasi hangat. Uenak tenan!

Masih ada beberapa peribahasa lagi yang ditanyakan. Tetapi saya berjanji kepadanya kapan-kapan akan saya peragakan. Tahukah Anda apa peribahasa yang dimaksud?

Air beriak tanda tak dalam artinya orang yang banyak bicara biasanya tidak berilmu.

Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri artinya jika menghina  atawa membongkar aib keluarga sendiri maka diri kita juga ikut hina.

Anda bersedia membantu saya untuk berbasah kuyup?

Share on Facebook