The Padeblogan

no komen no krai

Penerus Tahta Majapahit

Prabu Brawijaya (raja terakhir Majapahit1) itu pun dengan takzim mendengar omongan penasihat spiritualnya. Sang Prabu sudah pusing tujuh keliling dalam mengobati penyakit sifilis2 yang dideritanya sejak lama. Puluhan tabib tak mampu menyembuhkan penyakit kelamin terkutuk itu. Maklum, ia punya ratusan selir yang mungkin dari salah satu atawa salah dua atawa salah banyak dari selir-selirnya yang menularkan sifilis kepadanya. Tentu saja, ia malu. Wong seorang raja kok terkena penyakit yang di Nusantara disebut penyakit rajasinga!

“Sang Prabu mesti mengawini seorang perempuan keling. Darinya akan memberi obat yang mujarab bagi sang Prabu,” tukas penasihat spiritualnya.

Suka tidak suka, Prabu Brawijaya menerima wangsit yang diberikan melalui penasihat spiritualnya. Perempuan berkulit legam didatangkan dari negeri seberang untuk dikawin oleh raja Majapahit.

Memang ajaib. Penyakit sifilis sirna dari raga Brawijaya dan mendapatkan anugerah dengan hamilnya selir keling itu. Arkian, Brawijaya mulai menyayangi dan mencintai selirnya itu. Tetapi, sikap Brawijaya tak lepas dari pengamatan penasihat spiritualnya.

“Di masa mendatang, anak yang dikandung oleh perempuan keling itu,  hamba prediksi akan merebut tahta Paduka!” hasutnya.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan Ki?” tanya Brawijaya.

“Begitu anak itu lahir segera saja dibunuh saja, Paduka Prabu,” jawab penasihat spiritual sambil menyembah.

~oOo~

Prabu Brawijaya memanggil salah seorang adipati kepercayaannya yang bernama Sinom Maruta. Betapa terkejutnya Adipati Sinom ketika mendapat perintah untuk membunuh seorang bayi yang baru lahir. Titah raja tak bisa ditolak, Adipati Sinom segera membawa pulang bayi merah untuk dibunuhnya.

Ketika suaminya pulang membawa seorang bayi laki-laki yang tampan, Nyai Adipati hatinya sangat bersuka. Namun ketika Adipati Sinom menuturkan titah Prabu Brawijaya, Nyai Adipati menjadi lemas lunglai. Saat Adipati Sinom akan menghunjamkan ujung kerisnya ke perut sang bayi, Nyai Adipati pingsan. Karena rasa sayangnya kepada istrinya, Adipati Sinom mengurungkan niat membunuh sang bayi, malah berniat mengasuhnya menjadi anaknya.

Tentu saja ia harus merahasiakannya dari Prabu Brawijaya. Maka, ketika ada pisowanan ageng di balairung kerajaan dan ia ditanya oleh Brawijaya perkara tugas membunuh anak bayinya, ia pun berbohong dengan mengatakan kalau tugas tersebut telah dilaksanakan dengan baik.

~oOo~

Bayi yang malang kini dalam pengasuhan Adipati Sinom dan istrinya. Mereka memberi nama kepadanya Raden Bondan Kejawan. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada suatu ketika, tanpa diketahui oleh Adipati Sinom, Raden Bondan Kejawan mengikuti ayahnya pergi ke istana Majapahit untuk acara pisowanan ageng.

Pada saat para pejabat istana dengan khidmat mendengarkan arahan-arahan rajanya, dari arah dalam balairung terdengar suara gamelan milik kerajaan yang bernama Nyai Sekar Delima. Suaranya mengalun merdu. Prabu Brawijaya menghentikan memberikan petuah kepada bawahannya dan beranjak dari tempat duduknya untuk mengetahui siapa yang memainkan Nyai Sekar Delima tanpa perintahnya.

Amboi, sangat terkejut sang Prabu. Ia melihat seorang anak usia remaja yang wajahnya mirip dirinya duduk di belakang seperangkat gamelan. Prabu Brawijaya segera mengumpulkan orang-orang kepercayaannya untuk mengusut siapa anak yang wajahnya seperti pinang dibelah dua dengannya itu. Dan akhirnya diketahui kalau Adipati Sinom telah mengkhianati Prabu Brawijaya.

Apakah Brawijaya murka?

Dalam terawangan batin Prabu Brawijaya, anak itu memang akan mewarisi tahta Majapahit, tetapi di satu sisi Brawijaya  ingin menutup rapat rahasia kalau ia pernah berniat membunuh darah dagingnya sendiri. Maka, ia memerintahkan kepada Adipati Sinom untuk mengasingkan Raden Bondan Kejawan ke padepokan Tarub, yang dipimpin oleh Ki Tarub3. Agenda tersembunyi dari Brawijaya adalah anaknya itu agar dididik oleh Ki Tarub.

~oOo~

Setelah cukup lama tinggal bersama Ki Tarub, Raden Bondan Kejawan dikawinkan dengan anak Ki Tarub dan Nawangwulan yang bernama Nawangsih. Dari perkawinan mereka lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama Getas Pendawa.

Bagaimana kekuatiran Brawijaya atas singgasananya yang akan diambil oleh Bondan Kejawan?

Tidak langsung seperti itu. Karena, dalam perkembangan selanjutnya Majapahit runtuh dan berdiri kerajaan Islam Demak Bintara. Kerajaan Demak runtuh, digantikan oleh Kerajaan Pajang di bawah kekuasaan Sultan Hadiwijaya a.k.a Joko Tingkir.

~oOo~

Ki Getas Pendawa mempunyai anak yang bernama Ki Ageng Sela – tokoh yang terkenal bisa menangkap petir dan mengikatnya di sebuah pohon gadri4. Ki Ageng Sela mempunyai anak yang bernama Ki Ageng Ngenis, ia adalah orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya. Karena jasanya dalam membangun Kerajaan Pajang, Ki Ageng Ngenis diberi sebuah wilayah pedukuhan di Laweyan, sehingga ia juga dikenal sebagai Ki Ageng Laweyan.

Ki Ageng Ngenis mempunyai beberapa anak, dan anak pertamanya laki-laki yang bernama Bagus Kacung. Ia nanti bergelar Ki Ageng Pamanahan karena diangkat oleh Sultan Hadiwijaya sebagai pimpinan wilayah di Manahan.

Sutawijaya – anak Ki Ageng Pemanahan, oleh Sultan Hadiwijaya dianggap seperti anaknya sendiri. Nanti ia mendapatkan tanah perdikan (merdeka) di Alas Mentaok. Tanah yang masih berupa hutan itu dibabat, lalu dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram. Sutawijaya sendiri setelah menjadi raja Maratam pertama dikenal sebagai Panembahan Senapati5. Ia nanti yang akan menurunkan raja besar Tanah Jawa yakni Sultan Agung Hanyokrokusuma6.

Ramalan penasihat spiritual Prabu Wijaya pun terbukti, meskipun dalam waktu berpuluh tahun kemudian.

Catatan kaki:
1. Brawijaya terakhir ada 2 pendapat, yakni Brawijaya VI – Girindrawardhana, atawa Brawijaya VII – Patih Udara yang berkuasa sebagai pemerintahan transisi dari Majapahit ke Demak.
2. Sekitar tahun 1530, di Italia terbit sebuah sajak karya Fracastoro, selain sebagai penyair ia juga seorang dokter. Sajaknya berjudul Sifilis, menceritakan seekor babi yang bernama Sifilis yang mendapat kutukan dari Dewa Apollo, yaitu berupa suatu penyakit yang sangat dahsyat. Tanda-tanda penyakit yang diuraikan dalam sajak tersebut sangat mirip dengan tanda-tanda penyakit kelamin yang saat itu sedang melanda Itali. Saking terkenalnya isi sajak tersebut, sifilis serta merta digunakan untuk menamai penyakit kelamin tersebut. Lalu, kenapa di masyarakat kita menyebut penyakit ini sebagai rajasinga? He..he.. saya belum ketemu referensinya.
3. Kekonyolan Joko Tarub pernah saya kisahkan di Bidadari Depresi dan Bidadari Lemu.
4. Untuk mengetahui siapa Ki Ageng Sela ini coba baca Ponari dan Petir Ki Ageng Sela.
5. Satu dongeng tentang Pembahan Senapati yang pernah saya tulis berjudul Pertemuan rahasia Senapati dan Nyai Ratu Kidul
6. Di dunia maya, saya bertemu dengan Sultan Agung pas di hari Rebo Kliwon dan saya tuliskan di Karawang dan Kanjeng Sultan Agung.

Share on Facebook