Sutawijaya diusir dari Pajang

Rumit nian kehidupan Mas Karebet a.k.a Jaka Tingkir a.k.a Sultan Hadiwijaya, penguasa tertinggi Kerajaan Pajang. Barangkali itu semua karma yang mesti ia peroleh akibat perbuatannya di masa lalu. Singgasana yang ia duduki diperolehnya dengan berdarah-darah, main curang dengan membunuh Sultan Prawata, Raja Demak melalui tangan begundalnya. Lalu, ia membunuh Penangsang melalui tangan anak angkatnya, Sutawijaya.

Kasak-kusuk di kalangan terdekat Mas Karebet, Sutawijaya sebenarnya tak lain adalah anaknya sendiri, hasil perselingkuhannya dengan istri Pemanahan, sahabat dan penasihatnya. Memang di jaman mudanya dulu, Mas Karebet dikenal lelaki tuk-mis, bathuk-klimis alias jidat licin, susah menahan gejolak birahi jika menatap perempuan cantik: hajat kudu dituntaskan!

sigro milir
kang gethek sinonggo bajul
kawan doso kang njageni
ing ngarso miwah ing pungkur
tanapi ing kanan keri
kang gethek lampahnya alon

Itulah tembang Jawa yang merupakan sindiran halus kepada Mas Karebet si buaya darat. Suatu ketika Karebet dalam perjalanan ke Demak Bintoro mampir ke sebuah desa yang bernama Kedung Srengenge. Di desa itu ia bertemu dengan seorang gadis, lalu dipikat dan masuk perangkap  Karebet. Gadis desa itu pun hamil dan minta pertanggungjawaban Karebet, tetapi ia mengelak. Bapak gadis itu dan warga desa marah, dan berniat menangkap dan memaksa Karebet mengawini gadis desa itu. Tentu saja, dengan kesaktiannya Karebet berhasil mengalahkan 40 warga desa yang mengeroyoknya itu. Sang gadis kadung malu, ia pun bunuh diri.

~oOo~

Kepala Sultan Hadiwijaya senut-senut. Laporan yang baru saja ia terima, sungguh mengganggu batinnya. Sebuah informasi sangat penting yang menyangkut Sutawijaya. Obat sakit kepala pancen oye tak bisa menghilangkan peningnya. Di istana belum juga reda pembicaraan mengenai permainan asmara Sekar Kedaton dengan Pabelan, yang berujung tragis dengan tewasnya Pabelan di tangan Hadiwijaya beberapa waktu yang lalu.

Pabelan dan Sekar Kedaton tengah bergumul di atas peraduan. Sultan kalap, harga dirinya telah diinjak-injak oleh seorang playboy. Sekar Kedaton lambang kesucian keputren Pajang telah ternoda. Dengan tangan gemetar, Sultan mencabut keris saktinya. Pabelan tewas seketika. Keris sakti itu telah menancap di dadanya.

Hadiwijaya mendesah panjang mengingat peristiwa kelabu di istana keputren tersebut. Sekar Kedaton yang digadang-gadang untuk meneruskan tahta Pajang sirna sudah. Sekarang, timbul masalah lagi.

Tanpa ia sadari, Sutawijaya telah bersimpuh di hadapannya. Hadiwijaya sengaja memanggil Sutawijaya untuk melakukan klarifikasi terhadap informasi yang ia dengar dari abdi kepercayaannya.

“Saya menghaturkan sembah, Rama Sultan,” uluk Sutawijaya takzim. “Gerangan apa sehingga saya diminta menghadap Rama Sultan.”

“Oalah…. Sutawijaya…… Sutawijaya….. anakku ngger…. cah bagus…!!” gerutu Hadiwijaya.

Diam. Dipandanginya wajah Sutawijaya yang ada kemiripan dirinya. Sultan Hadiwijaya bertubuh pendek-gempal, sedangkan Sutawijaya bertubuh tinggi-atletis. Sampai sekarang, Sutawijaya belum tahu kalau ia sesungguhnya anak kandung Hadiwijaya.

“Apa benar berita yang aku dengar tentang kamu?” selidik Hadiwijaya.

“Berita apa, Rama?” Sutawijaya balik bertanya.

“Kamu bermain asmara dengan selir kesayanganku? Sudah berapa lama? Hahhh!!!!” bentak Hadiwijaya sambil menjambak rambut Sutawijaya.

“Benar Rama Sultan. Saya mengakui itu. Hampir setahun ini…!” jawab Sutawijaya tanpa rasa takut.

Plakkk!! Telapak tangan Hadiwijaya menghajar kedua pipi putranya. Sutawijaya bergeming.

~oOo~

Tiga hari setelahnya, Pemanahan dipanggil oleh Sultan Hadiwijaya.

“Kakang Pemanahanan, ini SK yang aku janjikan kepadamu. Mulai besok tinggalkan Pajang. Ajak serta Sutawijaya. Untuk sementara, aku tak mau melihat mukanya lagi!” Hadiwijaya beranjak dari tempat duduknya, masuk ke dalam kamar pribadinya.

Pemanahan membaca SK di tangannya. Ia tersenyum. Sultan Hadiwijaya akhirnya memenuhi janjinya dengan memberikan sebuah tanah perdikan (terbebas dari memberikan upeti ke kerajaan) di wilayah Alas Mentaok. Sebuah janji jika Pemanahan bisa membantunya menduduki tahta Sultan, akan diberikan tanah perdikan.

Lama sekali Hadiwijaya tidak memberikan tanah perdikan itu. Lalu, dengan akal liciknya ia umpankan Sutawijaya supaya terlibat hubungan asmara dengan selir kesayangan Sultan.

~oOo~

Pemanahan dan Sutawijaya membabat Alas Mentaok. Setelah Alas Mentaok terbuka untuk pendatang dan menjadi sebuah kerajaan kecil, Sutawijaya mulai membangkang kepada perintah Sultan Pajang. Terjadi peperangan, yang mengakibatkan kekalahan Pajang. Raden Benowo menggantikan Hadiwijaya, namun pamor Pajang makin surut. Sutawijaya memproklamirkan kerajaan baru yang bernama Mataram, sementara namanya diubah menjadi Panembahan Senapati.

Share on Facebook