Bulik

Bulik adalah ibuku kedua. Siapa bulik? Ia adalah adik perempuan ibuku. Ia mulai ikut ibuku ketika aku berumur setahunan dan ibuku mengandung adikku. Aku tak tahu persis, apakah Bulik tinggal bersama kami itu karena keinginannya sendiri atawa diminta oleh ibu atawa nenekku.

Selama tinggal bersama kami, Bulik juga bersekolah di SPG, Sekolah Pendidikan Guru setingkat SMA dipersiapkan untukĀ guru SD. Bulik tinggal bersama kami hanya tiga tahun saja, karena setelah ia lulus SPG ia ditempatkan sebagai guru SD di sebuah sekolah dasar di pelosok kabupaten.

Bulik adalah ibuku kedua. Menurut cerita ibu, saban hari aku diasuh oleh Bulik, mulai dari mandi dan menyuapiku. Juga menuntunku ketika aku belajar berjalan. Ingatanku untuk penggalan kejadian tersebut susah aku panggil dari otakku. Tapi aku yakin dan percaya dengan cerita ibu itu.

Ketika aku mulai masuk SD, Bulik sering menyempatkan diri menengokku. Pada momen ulang tahunku (kalau tidak salah saat itu aku duduk di kelas 4 SD), Bulik datang ke rumah dan mengajakku ke studio foto. Aku berfoto berdua dengan Bulik. Sehabis berfoto, Bulik mengajakku ke toko buku dan membelikanku beberapa buku tulis dan perlengkapan tulis-menulis lainnya.

Pada suatu kesempatan, aku (bersama bapak dan ibu) mengunjungi Bulik yang tinggal di sebuah desa tempat ia mengajar. Aku diajaknya berkeliling dari kelas ke kelas. Ia memperkenalkan diriku pada guru yang lain. Lalu, ketika aku pulang Bulik memberiku banyak sekali buku bacaan termasuk majalah Kuncung.

Barangkali sudah nasibnya Bulik. Witing tresna jalaran kulina. Bulik yang mondok di rumah pak lurah, akhirnya diambil menantu oleh pak lurah. Meskipun Bulik sudah punya anak, namun aku merasa ia tetap menjadi ibuku kedua.

Suami Bulik memberikan inspirasi kepadaku. Ia dan adiknya – yang nota bene anak desa, bisa kuliah dan lulus dari universitas beken di negeri ini. Aku pun ingin seperti itu. Sudah kersaning Gusti Allah, lulus SMA akuĀ mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru, aku pun bisa masuk ke universitas yang beken tersebut. Bahkan aku masuk fakultas yang sama dengan adik dari suami Bulik.

Waktu bapak memintaku masuk SPG, barangkali untuk mengikuti jejak Bulik.

Note: Artikel Nostalgia bersama Ibu #6 ini untuk menyambut Hari Ibu tanggal 22 Desember

Share on Facebook