The Padeblogan

no komen no krai

Perselingkuhan abadi Banowati dan Arjuna

Mata Arjuna menerawang jauh, seperti menembus gulungan awan. Dari villa di atas bukit yang ia tempati saat itu memang bisa memandang ke segala arah, termasuk awan yang bergerombol seperti bulu-bulu domba yang berwarna putih bersih. Ia rentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot badan yang pegal linu, setelah begadang semalaman dengan Banowati, kekasih gelapnya.

Tanpa ia sadari, Banowati mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Banowati merebahkan kepala di punggung Arjuna, sambil memejamkan mata.

“Cepatlah berkemas, kita segera kembali ke Hastinapura. Jangan membuat Duryodana mencurigai hubungan kita,” kata Arjuna sambil melepas tangan Banowati yang melingkar di pinggangnya.

“Aku masih ingin bersamamu, Jun,” jawab Banowati manja.

“Iya. Aku pun begitu,” tukas Arjuna.

Lalu, mereka bercinta lagi.

~oOo~

Banowati, siapa pun tahu, ia adalah permaisuri Prabu Duryodana raja Hastinapura. Kemolekannya terkenal seantero negeri. Duryodana sangat membanggakan permaisurinya itu. Namun, apakah Duryodana tidak mengetahui hubungan spesial antara istrinya itu dengan Arjuna yang sudah berlangsung selama separoh usia perkawinan mereka? Bukan tidak tahu. Pejabat maupun koleganya di Hastinapura beberapa kali melaporkan mengenai hubungan Banowati-Arjuna, ia selalu menepisnya. Ia terlalu cinta dan sayang kepada Banowati. Lagi pula, ia merasakan cinta dan kasih Banowati tidak ada perubahan, juga kepada anak-anak mereka.

Termasuk urusan di ranjang. Banowati yang pernah melahirkan dua anak, Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati itu pandai merawat diri.

Jadi, apa yang harus dicurigai dari istrinya itu?

Wahai angin yang tak henti berhembus, itulah kelihaian Banowati. Memang sejak kapan sih percintaan Banowati dan Arjuna itu dimulai? Konon, sebelum Banowati direngkuh oleh Duryodana menjadi istrinya, ia dan Arjuna sudah pacaran. Jangan-jangan…. Lesmana Mandrakumara itu bukan anak Duryodana! [Memang bukan. Kisahnya ada di sini]

~oOo~

Mereka kelelahan setelah kulak kenikmatan di atas ranjang. Banowati merebahkan kepala di dada telanjang Arjuna. Telinganya masih mendengar sisa-sisa gemuruh nafsu yang dilontarkan oleh jantung Arjuna.

“Jun, bercinta denganmu aku sangat bahagia.”

“Dengan Duryodana, bagaimana?”

“Tak seindah ini.”

“Anggap saja sebagai bonus, say.”

Mereka tertawa bersama. Lalu, diam. Entah siapa yang memulai. Hening sejenak, sebelum Arjuna angkat bicara.

“Kenapa diam?”

“Tiba-tiba aku menyesali dosa-dosa yang menyertai cinta kita ini, Jun. Kenapa aku mengkhianati suami sebaik Duryodana, sih? Bahkan sampai bertahun-tahun seperti ini. Kamu juga menyesal, Jun?”

“Entahlah. Dosa-dosa yang sangat menyegarkan. Betapa nggak bermutunya cinta kita ya?”

“Hhh… nggak bermutu bagaimana, Jun? Bukankah hubungan cinta ini kita klaim sebagai cinta suci kita? Apa hanya karena didasarkan sekedar demi bonus kenikmatan, kah?”

Embuh lah. Mau dibawa ke mana hubungan kita?”

Mereka segera berkemas dan kembali ke Hastinapura.

~oOo~

Senja belum juga turun, namun Banowati sudah sampai di istananya. Langkah-langkah kakinya kali ini tidak seringan seperti kemarin sehabis berkencan dengan Arjuna. Ia merasa pandangan mata orang yang dijumpai di istana itu mengandung kebencian di hati mereka. O, apakah perasaan ini tanda-tanda rasa bersalahnya karena telah mengkhianati perkawinannya dengan Duryodana? Embuh ra urus! Ia segera masuk ke kamarnya. Di sana ia menemukan Duryodana yang sedang leyeh-leyeh setelah seharian bekerja keras.

“Bagaimana acara semedi-mu di villa kita semalam, sayang?” sapa Duryodana sambil mengecup kening Banowati. Semedi? Xixixi… Banowati punya seribu macam alasan untuk bisa berkencan dengan Arjuna, salah satunya bersemedi di villa mereka.

Banowati hanya memberikan seulas senyum menggairahkan. Dan itu telah membuat lelah Duryodana hilang seketika.

“Para Dewa  selalu memberikan berkatnya padamu, sayang,” kata Duryodana.

“Kenapa begitu, Mas?” tanya Banowati sambil melingkarkan tangannya pada leher suaminya.

“Begini… setiap kali kamu selesai bersemedi, wajahmu selalu sumringah. Bukankah itu pertanda para Dewa memberkatimu, istriku?” kata Duryodana.

Mereka berpagutan. Lalu, sya…la…la…

lakon di atas terinspirasi dari
puisi Percintaan Arjuna dan Banowati karya F. Rahardi

Share on Facebook