The Padeblogan

no komen no krai

Menganalisa ‘mayat’ di atas kubah Masjid Nabawi

Artikel yang terbit tanggal 11 Pebruari 2011 berjudul “Ada mayat di kubah Masjid Nabawi?“, sampai tulisan ini dibuat setidaknya sudah diklik sebanyak  9.749 kali. Lumayan tinggi dibandingkan artikel lain di Padeblogan.

Sengaja saya tambahkan tanda tanya di belakang judul artikel karena saya masih ragu akan informasi yang menyebutkan ada sesosok mayat di atas kubah hijau Masjid Nabawi, meskipun secara tak sengaja kamera saku saya pernah menangkap gambar ‘sesosok mayat’ tersebut.

Saya juga mendapatkan gambar denah (sebagian) Masjid Nabawi seperti gambar di samping. Saya menandai beberapa bagian: lingkaran yang besar adalah lingkaran kubah lapis ketiga atawa kubah al khadra’ (kubah hijau) yang terlihat dari bagian luar makam Kanjeng Nabi, lalu lingkaran kecil (kuning) adalah lingkaran kubah kecil yang berada tepat di atas makam Kanjeng Nabi. Sedangkan angka 7 menerangkan bangunan persegi yakni dinding kamar Aisyah, yang dibangun sendiri oleh Kanjeng Nabi yang hingga saat ini temboknya masih berdiri kokoh. Lalu, saya menandai dengan panah merah untuk bentuk bangunan yang tak ada penjelasan apa-apa. Saya tak berani menduga bangunan apakah itu, karena pada denah tak diberikan keterangan berupa angka seperti yang lain.

Saya pun mencari literatur yang – setidaknya, pernah menyinggung perkara peristiwa di atas kubah hijau Masjid Nabawi tersebut. Mungkin referensi yang saya punyai terbatas, maka saya tak menemukan penggalan peristiwa tersebut. Berikut referensi yang saya baca adalah (1) Atlas Perjalanan Hidup Nabi Muhammad Napak Tilas Jejak Perjuangan dan Dakwah Rasulullah karya Sami bin Abdullah al-Maghlouth diterbitkan oleh Al Mahira (2008) setebal 458 halaman; (2) Atlas Haji dan Umrah Mengenali Detail Mekah dan Madinah dari Sudut Pandang Fiqih dan Sejarah karya Sami bin Abdullah al-Maghlouth diterbitkan oleh Al Mahira (2010) setebal 361 halaman; (3) Antara Mekah dan Madinah, diterbitkan oleh Penerbit Erlangga (2011).

Hanya pada buku keempat yang berjudul Pelajaran bagi Ulil Abshar: Tempat-tempat Bersejarah di Madinah Munawarah yang ditulis oleh Imtiaz Ahmad yang dibagikan secara gratis untuk para jamaah haji tahun 2008 lalu di pintu masuk halaman Masjid Nabawi. Berikut risalahnya:

Orang kafir membuat beberapa skenario untuk memindahkan jenazah Nabi Muhammad SAW dan dua orang sahabatnya yang dimakamkan di Madinah. Syekh Abduk Haq (wafat tahun 1052 H) telah menerangkan tiga skenario utama seperti dilaporkan oleh para ulama terdahulu.

Skenario pertama. Telah dilaporkan oleh Ibn Najjar di dalam bukunya “Sejarah Baghdad”. Antara tahun 386 – 411 H, Fatimi dan Madinah diatur di bawah pengaturan penguasa Mesir. Ia mencoba memindahkan jenazah Kanjeng Nabi dan dua sahabatnya dari Madinah ke Mesir untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari Madinah ke Mesir. Ia membangun sebuah bangunan yang sangat megah untuk beristirahatnya para jenazah tersebut. Ia mengirim Abu Al Fatuh ke Madinah untuk menyelesaikan rencana kotor ini. Ketika Al Fatuh tiba di Madinah, penduduk Madinah mengetahui skenario ini. Penduduk sangat marah dan akan membunuh Al Fatuh dan pengawalnya. Al Fatuh sangat ketakutan dan berkata tak akan melanjutkan rencana kotornya. Saat itu Madinah disapu badai besar. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Al Fatuh melarikan diri dari Madinah. Penguasa Mesir berusaha untuk kedua kalinya dan gagal lagi. Kedua usaha tersebut dilakukan antara tahun 386 – 411 H. 

Skenario kedua. Adalah Sultan Nuruddin Zanki penguasa Syiria yang bermimpi bertemu Kanjeng Nabi sebanyk tiga kali. Kanjeng Nabi menunjuk dua orang laki-laki yang berdiri di sana dan meminta sultan untuk membantunya dari kejahatan kedua lelaki tersebut. Sultan Nuruddin Zanki pun pergi ke Madinah. Di sana ia bertemu dengan dua orang Maroko, yang wajahnya sama dengan yang dilihat di mimpinya. Sultan memaksa kedua orang tersebut untuk berterus terang kepadanya apa yang mereka lakukan di Madinah. Awalnya mereka bilang sedang melaksanakan ibadah haji, namun Sultan tak percaya. Akhirnya kedua orang tersebut mengaku kalau mereka dikirim ke Madinah untuk memindahkan jenazah Kanjeng Nabi dengan cara menggali terowongan. Ketika mereka mencapai dekat makam Kanjeng Nabi, kilat dan petir menyambar di dekat mereka. Gempa bumi juga mereka rasakan. Mereka pasrah ketika Sultan menangkap mereka  dan memancung kepala mereka.

Skenario ketiga. Tabri seorang sejarawan yang terkenal telah menyebutkan di dalam bukunya “Riyad Nadrah” sebuah kisah tentang beberapa orang datang ke Madinah untuk memindahkan jenazah Abu Bakr dan Umar. Mereka membawa banyak hadiah untuk Gubernur Madinah saat itu. Karena mendapatkan hadiah yang sangat banyak, Gubernur menyetujui rencana mereka. Ia memerintahkan kepada kepala penjaga Masjid Nabawi untuk membukakan pintu bagi mereka. Penjaga Masjid Nabawi melihat ada sekitar empat puluh orang dengan peralatan menggali dan memotong di tangan mereka. Orang-orang tersebut terburu-buru ke arah Ruang Suci. Ketika mereka belum sampai dekat mimbar masjid, tanah yang mereka injak merekah dan menelan mereka semua, termasuk perkakas yang mereka bawa. Penjaga masjid melaporkan kepada Gubernur peristiwa aneh tersebut. Gubernur melihat rekahan tanah dan berkata kepada penjaga agar jangan menceritakan peristiwa tersebut kepada orang lain.

~oOo~

Bisa jadi benar ya, informasi mengenai adanya mayat di atas kubah hijau Masjid Nabawi itu?

Share on Facebook