The Padeblogan

no komen no krai

Jalur Pantura

Tahun 2012 ini, setidaknya sudah dua kali melakukan perjalanan ke Solo melalui jalur Pantura. Perjalanan pertama, pernah saya ceritakan di sini. Kali kedua, ketika ada libur panjang pertengahan Mei 2012 kemarin. Sebetulnya ke Solo bukan untuk liburan – nyatanya hanya muter sekitaran Karesidenan Surakarta saja, tetapi untuk bersilaturahim dengan orang tua dan berobat.

Perjalanan panjang ke Solo kemarin  saya tempuh selama 22 jam itu. Lha kok lama? Maklum saja, umur semakin tuwir  sehingga fisik cepat lelah. Karena rencana tersebut mendadak, saya ambil waktu berangkat tanggal 16 Mei 2012 di malam hari dan tetap memilih jalur Pantura, untuk menghindari kepadatan lalin di sekitar Jomin Cikampek esok harinya (libur panjang suasana di jalan seperti menjelang lebaran, banyak yang memanfaatkan waktu untuk mudik ke kampung halaman). Sejatinya saya lebih suka melakukan perjalanan siang hari, karena malam hari lebih banyak hell-driver di jalur Pantura.

Kami makan malam di Pamanukan Subang, lalu segera melesat menuju rest area tol Palikanci Cirebon, untuk istirahat tidur. Subuh menjelang, kami melanjutkan perjalanan. Karena fisik yang semakin cepat lelah tadi, maka sepanjang perjalanan saya banyak istirahat di SPBU – sekedar tiduran – sehingga baru sekitar jam 4 sore sampai di Solo.

~oOo~

Untungnya saya sudah membaca buku Jalan Raya Pos-nya Pramoedya Ananta Toer, sehingga sepanjang perjalanan melalui jalur Pantura saya bisa menceritakan kepada Kika dan Lila kisah di balik pembangunan jalur Pantura di jaman Gubernur Jenderal Daendels yang memakan banyak korban jiwa itu. Maka, di sela istirahat shalat saya menyempatkan berdoa bagi para marhum yang dulu membanting tulang memeras keringat sehingga jalur Pantura dapat dilewati hingga sekarang ini. Jalur Pantura seksi Karawang – Semarang yang saya lewati hanya sepenggal saja dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh moyang kita dari Anyer hingga Panarukan.

Perjalanan malam kemarin ada sedikit kejutan “penampakan” di jalur perbatasan Karawang – Subang. Di kiri-kanan jalan, terdapat warung-warung karaoke/rumah makan yang di emperannya “terpajang” perempuan-perempuan nan seksi yang menawarkan diri kepada para lelaki hidung belang.

~oOo~

Pemandangan lain di jalur Pantura adalah banyaknya mesjid yang sangat megah dan indah yang siap disinggahi para musafir untuk shalat atawa sekedar beristirahat. Kondisinya sangat kontras dengan lingkungan di sekitar mesjid yang masih banyak rumah kumuh. Jika musim mudik lebaran tiba, mesjid-mesjid tersebut akan penuh dengan orang beristirahat, halamannya penuh dengan mobil/motor yang diparkir, sementara di sudut-sudut halamannya digelar berbagai macam makanan/minuman. Hari-hari sebelum lebaran, mesjid-mesjid di sebelah kanan jalur Pantura lebih sepi dibandingkan mesjid di jalur kiri. Pemudik malas untuk memutar arah mencari mesjid di seberang jalan. Kondisi ini berlaku juga untuk SPBU.

Bicara SPBU, di sepanjang jalur Pantura banyak sekali SPBU sehingga para pemakai jalan tak perlu kuatir kehabisan BBM. SPBU juga menjadi tempat istirahat, meskipun sering ditemui mushala atawa toiletnya jorok. Kalau ingin nyaman beristirahat cobalah di SPBU MURI di luar Kota Tegal. SPBU peraih rekor MURI untuk toilet terbanyak dan terbersih ini sangat diminati pemudik.

Ketika dalam perjalanan ke Solo, saya mempunyai mesjid langganan, seperti Mesjid Al Fairus Pekalongan. Mesjid yang sangat megah, beberapa ornamennya mengingatkan Mesjid Nabawi. Kalau toilet saya akan mampir di SPBU yang toiletnya bersih. Pun dengan rumah makan, misalnya Rumah Makan Bie Seng di Tanjung Brebes tersedia berbagai macam masakan Jawa.

Ada apa lagi di jalur Pantura? Kapan-kapan tulisan ini saya sambung.

Share on Facebook