Kangen Lila
Sejak Lila masuk asrama, rumah terasa sangat nglangut. Sepi. Maka, saya pun mencetak foto Lila ukuran besar dan memasangnya di ruang keluarga. Nah, Lila pun hadir kembali di rumah meskipun cuma fotonya doang. Tetapi dengan “penampakannya” itu sedikit bisa mengobati rasa kangen kepadanya.
Suatu tengah malam saya pandangi foto itu cukup lama, dan menyapanya: sekarang ini kamu sedang mimpi apa, Giz?
Dia – yang ada di foto itu – hanya tersenyum. Nanti jam 4 subuh saya kembali terbangun, untuk sekedar menemaninya (sesuai jadual hariannya, ia sudah harus bangun untuk melaksanakan shalat tahajud di mesjid asrama sampai menunggu subuh tiba).
Satu minggu terasa sangat lama bergulirnya.
~oOo~
Wali asrama mengabarkan kalau di hari Minggu 15 Juli 2012 orang tua diperkenankan menjenguk anak-anaknya. Tentu saja, kabar ini kami sambut dengan suka cita. Biasanya sih, sebulan lamanya setelah tinggal di asrama anak baru boleh dijenguk. Waktu tempuh dari rumah ke asrama Lila kurang lebih 150 menit, maka pagi-pagi benar kami berangkat agar segera dapat bertemu dengan Lila.
Kami tidak langsung bertemu dengannya, karena ia sedang mandi. Karena di asrama putri tamu pria tidak diperbolehkan masuk kamar asrama, maka saya menunggu di emperan kantor asrama saja. Sekitar lima belas menit kemudian, Lila datang menghampiri kami. Kika dan Lila punya cara tersendiri melepaskan kangen mereka. Beberapa boneka yang sering mereka mainkan bersama, kemarin sengaja dibawa Kika untuk diajak bertemu dengan Lila.
Kika mendekati saya dan membisikkan sebuah kalimat kalau Lila “sudah dapet”. Ia juga bilang kalau jauh-jauh hari ia sudah mengajari dan melatih Lila jika sewaktu-waktu mendapatkan tamu kehormatan untuk pertama kalinya. Dan ternyata Lila bisa mengatasi itu dengan baik.
~oOo~
Kami segera memastikan kalau Lila baik-baik saja di asrama selama semingguan ini dengan bertanya ini-itu. Ia pun menceritakan pengalaman seminggu tinggal di asrama dan mengikuti masa orientasi sebelum KBM dilaksanakan per hari ini: merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, makan dan mencuci piring, shalat dan ngaji, pembentukan pengurus kamar, berkenalan dengan teman-teman, saling bagi makanan kecil, saling membantu teman yang kesulitan, saling menghibur karena kangen keluarga.
Kamu menjadi cepat mandiri, nak.
Ia juga menceritakan acara penutupan masa orientasi minggu malam yang seru. Masing-masing kamar menampilkan karya seni. Ia bersama teman-teman kamarnya menyanyikan lagu Bunda yang membuat menangis banyak orang. Capek tapi menyenangkan.
Selepas asar kami pamit pulang, Sementara Lila dan kawan-kawannya mesti menyetrika pakaian mereka.
Share on Facebook