The Padeblogan

no komen no krai

Menderas Sejarah Nusantara

Pada beberapa kesempatan, Kika menanyakan tentang Fakultas Sastra UGM. Saya jawab sesuai pengetahuan saya tentangnya, termasuk memperkenalkan karya sastra dosen dan guru besar fakultas tersebut yang sangat terkenal itu: Umar Kayam, di mana karya sastranya selalu aktual jadi bahan pembicaraan hingga kini. Belakangan, saya baru ngeh kalau Fak. Sastra UGM berubah namanya menjadi Fak. Ilmu Budaya sejak tahun 2001. Maka dalam kunjungan ke Kampus UGM minggu lalu, saya ajak Kika menengok ke sana.

Tentu saja, Kampus UGM sangat jauh berubah setelah saya tinggalkan pada tahun 1992-an lalu. Penampilannya lebih hijau, lebih nyaman, dan lebih necis.

~oOo~

“Pa, kalau kuliah di Fak. Ilmu Budaya ntar kalau lulus kerjanya di mana?”

“Coba kamu lihat program studinya, lapangan kerjanya sangat luas. Tuh ada Antropologi Budaya, Arkeologi, Ilmu Sejarah, Sastra Arab, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jepang, Bahasa Korea, Sastra Nusantara, Sastra Prancis, dan Pariwisata. Tinggal pilih kan?”

“Hmm… ada arkeologi dan ilmu sejarah ya?”

“Besok kita berpetualangan ke Candi Sukuh dan Candi Cetho untuk mengenal sejarah nenek moyang kita dan sedikit belajar tentang arkeologi. Kedua candi itu nggak jauh dari rumah mbah Uti Karanganyar.”

Saya pun memaparkan nekjika sejarah Nusantara sudah diubah oleh para penjajah negeri ini. Mereka – para penjajah itu, paham benar bagaimana cara melemahkan suatu negeri yang besar dan perkasa seperti negeri Nusantara ini yaitu dengan cara mengaburkan sejarahnya, lalu menghancurkan bukti-bukti sejarah itu sehingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya, dan ini yang paling keji yakni memutuskan hubungan dengan leluhurnya, dengan cara mengatakan leluhur itu bodoh dan primitif.

Bukti kecerdasan dan kehebatan leluhur kita masih bisa kita saksikan: relief di candi-candi menceritakan kecanggihan teknologi, adanya struktur mirip “tembok” lurus sepanjang 100 km di dalam laut utara Papua, maha karya sastra Mahabharata dan Ramayana, di Sumatera Barat terdapat naskah-naskah kuno seperti Peramalan dan Obat Tradisional Minangkabau, Min Mekkah Ila Mesir, Risal Mau`izat Al-Hasanah, dan masih banyak lagi yang membuktikan selain dikenal dengan tradisi lisannya yang cukup kuat, leluhur kita juga memiliki tradisi penulisan naskah yang sangat maju.

Saya menduga, buku The History of Java-nya Thomas Stamford Raffles dibuat dalam rangka menyaingi Babad Tanah Jawi karya pujangga Jawa waktu itu.

“Dulu, Belanda membawa berton-ton manuskrip dan naskah-naskah kuno Nusantara ke negara mereka. Untuk mereka pelajari dan menyusun strategi bagaimana dapat mengeruk kekayaan yang terpendam di bumi Nusantara.”

“Termasuk membawa arca-arca kuno ya, Pa?”

“Nanti, kalau kamu ada waktu bacalah buku-buku serial Atlantis yang Hilang.”

~oOo~

Kami pun melanjutkan kunjungan ke fakultas lain, termasuk ke Fakultas Geografi UGM.

Share on Facebook