Misteri Candi Sukuh (1)


Candi Sukuh – yang jaraknya cuma sepelemparan sandal dari tempat tinggal saya waktu kecil dulu, kami memahami dan mengenalnya sebagai candi erotis. Betapa tidak, di pintu gerbang utamanya saja kita sudah disambut relief lingga dan yoni yang siap berpenetrasi. Berdasarkan mitos yang beredar, relief lingga-yoni tersebut bisa untuk mengetes keperawanan seorang gadis dengan cara melangkahi relief tersebut: bagi yang masih perawan akan rusak selaput daranya, dan bagi yang sudah nggak perawan akan dipermalukan yakni pakaian yang dikenakan akan terlepas!

Lingga adalah simbolisasi dari atma atau ruh kita. Dan yoni adalah simbolisasi dari shakti atau kekuatan atma atau kesadaran atma. Dalam wujud lingga yang tengah melakukan penetrasi ke dalam liang yoni, maksudnya adalah kembalinya kesadaran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini tengah terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh maya. Oleh pengaruh prakrti, pengaruh alam materi (Damar Shashangka, 2010).

Kini, pintu gerbang utama Candi Sukuh dipagari dan para pengunjung untuk masuk ke kompleks candi melewati pintu yang lain. Nanti, kita juga akan disuguhi relief adegan erotis. Meskipun adegannya vulgar, sepertinya bukan penggambaran pelampiasan nafsu sex, tapi lebih kepada ritual sakral dilandasi curahan kasih sayang sepasang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan. Di sana juga dapat ditemukan patung tanpa kepala sedang memegang phallus-nya yang super-besar, tidak porporsioal dengan besar tubuhnya. Di ujung phallus tersebut dihiasi piercing (tindik).

Kunjungan ke Candi Sukuh kali ini, dipicu oleh novelnya Mas Rizki Ridyasmara yang berjudul Sukuh: Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu (Coopex Media, Mei 2012). Buku setebal 371 halaman ini menjadi pemandu saya untuk mengenal lebih dalam Candi Sukuh dengan mengunjunginya, tidak hanya terbatas memahami sebagai candi erotis seperti di masa kecil saya dulu.

Novel Sukuh ini adalah novel keempat Mas Rizki Ridyasmara yang saya baca dan nikmati seperti membaca novel-novelnya Dan Brown. Tiga novel sebelumnya yang saya maksud adalah Codex: Konspirasi Jahat di Atas Meja Makan Kita; The Escape: Misteri Kuburan Adolf Hitler di Surabaya; dan The Jacatra Secret: Misteri Simbol Iblis di Jakarta.

***

Di awal tulisannya, Mas Rizki Ridyasmara mengemukakan sebuah fakta:

Pada tahun 1995, NASA mendeteksi adanya sebuah sinar putih misterius yang memancar dari wilayah Gunung Lawu hingga jauh ke luar angkasa. Setahun kemudian, NASA mengerahkan puluhan ahli dari bebagai negara untuk melakukan penelitian di beberapa titik di selatan Jawa Tengah. Mereka berpencar di sekitar area Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Dieng, pantai Parang Tritis dan sebagainya.

Dalam “The Lost Symbol” (2009) Dan Brown menulis, “Pada 1991, sebuah dokumen disimpan dalam brankas Direktur CIA. Kini, dokumen tersebut masih ada di sana. Teks tersandinya antara lain menyebutkan portal kuno dan lokasi tak dikenal di bawah tanah. Dokumen itu juga berisikan frasa, “Terkubur di suatu tempat di luar sana…” Di sekitar Gunung Lawu, portal-portal kuno tersebut sampai hari ini masih terbenam di perut bumi.

Semua organisasi dalam novel ini sungguh-sungguh ada seperti Freedom Fighter, ‘Agensi’, dan Specola Vaticana. Segala ritual, nama dan lokasi candi, piramida, relief dan arca, Garis Ley, dan Vortex atau Star Gate di dalam novel ini adalah NYATA.

Peristiwa diawali dengan kematian Prof. Sjoemandirgo yang dibunuh dengan cara diracun oleh seorang wartawati gadungan bernama samaran Agatha Miller, nama asli Agatha Christie novelis Inggris yang dijuluki Ratu Kriminal itu. Prof. Sjoemandirgo sebagai penulis buku Rahasia Sejarah Nusantara itu ditengarai menyimpan koordinat sebuah portal kuno di Gunung Lawu, di mana di dalam perut buminya tersimpan emas yang jumlahnya sangat besar.

Krisis ekonomi yang terjadi Amerika dan Eropa menyebabkan beberapa negara nyaris bangkrut. Mereka yang mengklaim diri sebagai penjaga dunia tak ingin terpuruk dan menjadi negara kerdil, untuk itulah mereka bertekad mencari cadangan emas di Nusantara. Salah satu ilmuwan yang mengetahui persis di mana emas tersimpan itu adalah Prof. Sjoemandirgo. Namun sayang, data koordinat telah beralih tangan ke sahabat Prof. Sjoemandirgo yang bernama Kasturi, pria gaek mantan anggota Kopasgat AURI terbaik pada masanya untuk disampaikan kepada Dr. John Grant (kedua nama ini juga menjadi tokoh utama dalam novel The Jacatra Secret).

Petualangan pun dimulai saat Grant dan istrinya pergi ke Karanganyar, yang kemudian disusul oleh Kasturi dan Fritz Tumpaka, yang juga mantan anggota Kopasgat AURI. Di lereng Gunung Lawu mereka ditemani oleh Kusumo dan Ki Mahendra, yang sangat paham mengenai seluk-beluk Candi Sukuh.

Sayangnya, kisah perebutan data koordinat portal kuno tidak terlalu seru dan kurang menegangkan dibandingkan novel Mas Rizki Ridyasmara sebelumnya. Terlalu cepat memenangkan Ki Mahendra dan kawan-kawannya itu.

***

Novel ini didukung beberapa informasi yang menarik. Bentuk Candi Sukuh yang mirip piramida terpenggal itu bukan bentuk umum candi di Nusantara. Apakah Sukuh punya hubungan khusus dengan Suku Maya? Apakah benar Candi Sukuh dibangun di masa akhir keruntuhan Majapahit, bukan zaman pra sejarah? Selain Candi Sukuh, di sekitar sana ada tiga situs kuno lainnya yakni Candi Cetho, Candi Kethek dan Candi Plagatan, di mana keempat situs kuno tersebut sama-sama menghadap ke arah Ka’bah, kiblat bagi muslim sedunia.

Dari puncak Candi Sukuh atawa dalam perjalanan Sukuh-Cetho kita dapat melihat bukit piramida ke arah selatan. Konon, di sinilah sesungguhnya keberadaan piramida asli yang dibangun leluhur sebagai bagian utama dari Kraton Bathara Indra di Wukir Mahendra alias Gunung Lawu. Sinar putih yang terekam satelit NASA di luar angkasa pada tahun 1995 kabarnya berasal dari piramida ini.

Bagaimana pun, novel ini telah memberikan pengetahuan dan pencerahan baru, betapa hebatnya leluhur kita. Mereka yang telah membangun peradaban Nusantara yang agung.

Baca juga Misteri Candi Sukuh (2)

Share on Facebook