The Padeblogan

no komen no krai

SIM-salabim

Suatu malam, Kika berkata kepada saya. “Pa, temanku nanya, SIM kamu nembak ya? SIM nembak apa sih?”

Bulan Mei lalu, Kika berumur 17 tahun saatnya ia punya KTP. Dari kabar yang saya dengar, ngurus KTP untuk saat ini agak sulit dan lama, karena sedang ada program e-KTP. Proses yang lama adalah perekaman data, baik untuk urusan perpanjangan dan pembuatan KTP baru. Untuk perekaman e-KTP di kantor kecamatan, warga RT di mana saya tinggal belum ada undangan dari pihak kelurahan. Maka, saya kasak-kusuk mencari informasi tentang hal itu.

Singkat cerita, saya pun menghubungi seorang teman yang menjadi petugas perekaman e-KTP, untuk membuat 1 KTP baru, perpanjangan 2 KTP, sekaligus perpanjangan dokumen KK. Syarat untuk perpanjangan, disertakan KTP dan KK asli dan kedua dokumen tersebut akan ditarik diganti dengan yang baru. Sedangkan untuk pembuatan KTP baru dilampirkan copy ijazah dan akta kelahiran. Setelah semua persyaratan komplit, dilakukan perekaman e-KTP.

Tiga hari kemudian, para KTP sudah jadi. Sedangkan dokumen KK, seminggu setelahnya.

Kika senang punya KTP baru.

~oOo~

Dengan KTP yang baru itu, saya mengurus SIM C untuk Kika. Pengurusan SIM ini saya lakukan dengan jalur pertemanan, seperti halnya ngurus KTP, sebelum ramainya ontran-ontran kasus simulator di media massa.

Kami antri di depan loket. Ketika nama Kika dipanggil petugas, ia datang sendiri ke loket pembayaran, mengisi formulir dan masuk ruang pemotretan (sebelumnya saya memberi tahu kalau proses pemotretan hampir sama ketika membuat paspor). Tak sampai menunggu 10 menit, namanya kembali dipanggil untuk menerima SIM C-nya.

Wajahnya sumringah, punya SIM baru!

“SIM nembak itu, prosesnya lebih cepat!” jawab saya, nyengir.

Share on Facebook