Peran ayah
Suatu ketika saya bertanya-tanya dalam hati kenapa bapak saya melakukan ini: mencucikan dan (kadang) menyetrikakan pakaian anak dan cucu-cucunya ketika mereka sedang berlibur (lebaran) di rumahnya. Tak jarang pula ia akan segera mancal pit onthel kesayangannya untuk membeli lauk kesukaan anak-anaknya: sate kambing Bu Tambal atawa tengkleng kulon stadion.
Semenjak Kika ke sekolah naik motor, saya merasa kehilangan momen kebersamaan dengannya. Dulu, saban pagi kami berangkat bersama. Ia turun di depan sekolahnya, lalu saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Nah, di sepanjang perjalanan ke sekolahnya kami sering mengobrol ringan atawa menanyakan ini-itu mengenai pelajaran di sekolahnya. Untungnya, sampai saat ini masih ada momen kebersamaan dengannya di setiap pagi, kami masih sarapan bersama. Tahun depan, nekjika takdirnya kuliah di Solo atawa Jogja, kami akan berpisah.
Bagaimana dengan Lila? Semenjak ia berada di boarding school, momen kebersamaan dengannya praktis harus menyesuaikan dengan jadual kunjungan ke sekolahnya. Dulu, ketika ia kelas 5 dan 6 ia lebih senang berangkat sekolah bersama saya dari pada ikut mobil jemputan. Hari Sabtu menjadi hari yang selalu saya nantikan, karena saya berkesempatan bisa menjemput Lila di sekolah.
Pada setiap hari Minggu, kami main keluar rumah untuk menikmati momen kebersamaan dengan anak-anak. Mereka adalah harta yang tidak ternilai harganya, titipan Gusti Allah yang harus saya jaga dengan segenap jiwa dan raga.
~oOo~
Di kelas tingkat akhir SMA, Kika mulai sibuk dengan sekolahnya. Seperti orang kantoran, pergi pagi pulang petang. Malam ia habiskan untuk mengerjakan PR atawa tugas-tugas sekolah. Mungkin baginya saya ayah yang cerewet ketika menanyakan ini-itu di tengah kesibukannya. Pertanyaan saya memang remeh-temeh belaka: siang tadi makan pakai lauk apa, apakah sudah ke TU untuk konfirmasi bayar SPP, di mana mencucikan motor, jangan lupa besok isi BBM dan lain-lain. Kadang tanpa sepengetahuannya, saya merapikan buku-bukunya yang berantakan atawa membetulkan selimutnya ketika ia mulai terlelap dalam tidurnya. Kadang pula saya mesti memutar kendaraan agak jauhan ketika pulang kantor hanya untuk membelikan lauk kesukaannya.
Hari Sabtu kemarin saya sangat bersemangat ketika berkesempatan bertemu dengan Lila. Ya, Lila mendapatkan jadual pesiar. Hampir empat puluh hari saya nggak bertemu dengannya. Saya kangen bau keringatnya! Sekitar jam 4 sore kami menjemput di asramanya. Ia masih berseragam Pramuka. Anakku sudah besar.
Lila punya waktu pesiar sampai jam 6 di hari minggunya, maka ia kami bawa pulang ke rumah. Setidaknya, butuh waktu hampir 6 jam untuk pulang-balik dari rumah ke asrama Lila, sehingga kebersamaan dengannya kurang dari 24 jam.
Minggu siang menjelang mengantar Lila kembali ke asramanya, saya menyetrika baju-bajunya yang kemarin dibawa pulang ke rumah untuk dicuci. Saya jadi ingat bapak yang menyetrika pakaian anak dan cucunya. Saya menjadi tahu dan paham kenapa ia melakukan dan menikmati pekerjaan itu, karena kini saya yang merasakannya.
Meskipun apa yang saya lakukan itu nggak ada apa-apanya dibandingkan peran yang dilakonkan oleh seorang ibu bagi anak-anaknya, namun saya bangga telah bisa ikut berperan sebagai seorang ayah. Setidaknya di mata Kika dan Lila.
Share on Facebook