Para Pencari Kerja

Setiap kali melewati jalan yang itu, mata saya selalu menatap baliho besar yang sudah miring karena diterpa angin. Baliho yang dipasang dengan bambu itu bergambar sosok lelaki yang saya kenal.

Ya, kawan yang satu itu tengah pasang badan untuk menarik simpati massa supaya kelak dipilih menjadi seorang legislator tingkat kabupaten di tahun 2014. Ia menulis besar-besar di bawah foto diri: MUDA DAN BERKARAKTER.

Tak hanya satu baliho itu saja. Ia juga menempelkan poster-poster lebih kecil di pepohonan dengan aneka rupa gaya: bercaping dan memanggul cangkul. Kali ini kata-katanya: PEDULI PETANI. Di poster yang lain, ia merangkul nenek-nenek yang di tangan kiri nenek itu seperti menenteng sembako. Ia menulis: DEKAT DENGAN WONG CILIK.

Saya paham betul siapa kawan saya itu. Selama ini ia tak punya pekerjaan tetap, meskipun punya saban hari keluar rumah. Apapun ia kerjakan, yang penting menghasilkan uang. Ia selalu berpakaian safari gelap yang ditempeli badge sebuah organisasi kemasyarakatan. Ia merasa sangat pede jika memakai seragam kebesarannya itu.

“Kalau kepilih jadi anggota dewan lumayan, Boss!” katanya kepada saya¬†suatu ketika.

Sangat gamblang diterjemahkan arti kata lumayan tersebut: lumayan menghasilkan fulus.

Kualitas anggota dewan yang sekarang ini, tak jauh berbeda dengan kompetensi yang dimiliki oleh kawan saya itu. Sebagian dari mereka mencalonkan kembali untuk bisa duduk sebagai seorang legislator, beberapa di antara mereka malah berani mencalonkan diri di tingkat lebih tinggi, bahkan satu orang saya lihat berambisi duduk di tingkat pusat. Elok tenan.

Kenapa nyalon lagi? Kalau perlu pindah partai dulu. Sebab kalau nggak maju lagi, apa siap jadi pengangguran? Lima tahun belakangan hidupnya bergelimang kekuasaan dan kekayaan, sok-sok malah punya bini simpanan. Lah, kalau nganggur apa bini mudanya nggak minta cerai?

Nyalon jadi legislator tak ubahnya seperti mencari pekerjaan. Baguslah, jika nanti betul-betul duduk sebagai anggota dewan ia tak melupakan janji kampanyenya, juga tak memanfaatkan peluangnya untuk menggarong uang negara.

Tapi apa mungkin ia tidak melakukan korupsi? Apa gajinya cukup untuk membayar hutang ke percetakan yang telah membuat ratusan baliho dan poster saat ia kampanye? Apa penghasilannya dapat menutupi modal yang telah ia keluarkan untuk membeli setiap satu suara?

Embuh.

Share on Facebook