Merindu ibu

Di tengah belantara gedung pencakar langit Jakarta, seorang eksekutif muda sedang melakukan presentasi. Ia melirik ponsel pintarnya yang tergeletak di meja layarnya menyala sebagai tanda ada panggilan masuk. Sejenak ia lirik ponselnya itu, ada panggilan dari ibunya. Ia tak mau meeting dengan rekan bisnisnya terganggu, maka ia matikan ponsel. Lalu melanjutkan presentasinya.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia menerima telepon dari seseorang. Sambil tetap menyetir mobilnya, ia berkomunikasi dengan ponselnya. Sementara itu ponsel miliknya yang lain yang terletak di dasbor mobil layarnya menyala sebagai tanda ada panggilan masuk. Ia raih ponselnya itu, ada panggilan dari ibunya. Karena ia masih sibuk berkomunikasi dengan ponsel yang lain, ia matikan panggilan ibu.

Sementara itu, nun di sebuah kota yang jaraknya lebih dari seratus kilometer ada seorang ibu yang tengah merana. Betapa ia merindui anak lelakinya itu, beberapa kali ia menghubungi ponsel anaknya tiada terjawab. Untuk melampiaskan kerinduan kepada anak lelakinya, ibu itu mengumpulkan mainan masa kecil anak lelakinya, satu per satu ia bersihkan mainan-mainan itu. Di ruang keluarga yang lapang, ibu yang sedang merindui anaknya itu duduk sendirian. Ia kadang menyapukan pandangan, di sana ada banyangan bocah lelaki sedang berlainan sambil bermain pesawat terbang.

Eksekutif muda menghentikan mobilnya di sebuah perempatan jalan. Lampu lalu lintas sedang berwarna merah. Dari arah kanan, ia dihampiri oleh seorang anak lelaki berseragam SD menjajakan sebuah mainan baling-baling dari kertas karton. Ia beli semua baling-baling itu, sementara fikirannya melayang ke masa kecil ketika ia bermain baling-baling bersama ibunya.

Perhatiannya kemudian beralih ke anak lelaki berseragam SD. Anak itu berlari ke arah toko bunga. Lelaki eksekutif muda penasaran, ia pelankan mobilnya mengikuti ke mana arah anak lelaki berseragam SD itu pergi. Rupanya ia pergi ke pemakaman umum.

Ia turun dari mobil mengikuti langkah-langkah kecil anak lelaki berseragam SD. Mereka melintasi banyak nisan. Kemudian, anak lelaki berseragam SD bersimpuh di sebuah nisan yang tertulis nama ibunya. Anak lelaki itu meletakkan bunga yang tadi dibelinya, kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar gambar hasil karyanya. Gambar-gambar itu ia bentangkan di atas pusara. Di salah satu gambar ada tulisan ucapan selamat ulang tahun untuk ibunya.

Sejenak eksekutif muda terkesiap dan terharu menyaksikan apa yang dilakukan oleh anak lelaki berseragam SD di kuburan ibunya. Menyaksikan adegan itu, sang eksekutif muda menjadi teringat ibunya.

Ia mencoba menelpon ibunya beberapa kali. Tiada tersambung. Ia gelisah. Ia melajukan mobilnya menempuh jarak ratusan kilometer.

Menuju pangkuan ibu.

Note: Kisah di atas saya terjemahkan dari video klip adzan maghrib RCTI

Share on Facebook