Nggak tahan kangen

Kira-kira tiga minggu lalu, Lila ambil jadwal pesiar. Hati saya bersorak gembira bakal bertemu dengannya. Agar kebersamaan dengannya cukup lama, kami tak membawanya pulang ke rumah tetapi nginep di Bandung. Maklum, ia punya waktu hanya 24 jam keluar asrama. Sebetulnya, acara di Bandung ya begitu-begitu aja: makan malam, main internetan di hotel dengan wifi gratis, paginya muter-muter sekitar Taman Lansia melihat pedagang K5 yang menjual aneka kebutuhan, siangnya ke Gramed Merdeka, terus kembali ke asrama sebelum jam 4 sore.

Minggu lalu ia mengabarkan kalau kesehatannya terganggu dan klinik di asrama katanya obatnya ‘begitu-begitu saja’ maka Jumat malam sepulang kantor saya menjemputnya (dengan izin khusus dari Kepala Asrama). Bukan penyakit yang mengkuatirkan sih – penyakit khas anak pesantren – tetapi kalau dibiarkan bisa berakibat fatal.

Sabtu paginya, Lila berobat ke Bekasi – tidak betul kawan, kalau Bekasi itu ada di planet lain, sebab saya mudah banget menjangkaunya – sebab di sana praktek dokternya lebih lengkap dan tokcer. Kali ini lumayan lama waktu yang dihabiskan bersama Lila. Minggu sorenya, Lila sudah berada kembali di kamar asramanya.

Waktu Lila datang ke asrama, anak-anak kelas 3 sedang bermain bersama di halaman asrama: mengekpresikan isi hati mereka. Lila buru-buru mengambil kameranya (ia masuk kelompok eskul fotografi) mengabadikan aksi teman-temannya, sebuah ekspresi yang lucu dan kocak, menurut saya.

Lalu saya mendekati Lila bertanya apa yang terjadi. Ia menjawab kalau angkatannya sedang di-“freeze“. Sebuah hukuman level gawat yang diberikan oleh pihak asrama karena terjadi kesalahan/tindakan fatal yang dilakukan salah satu penghuni asrama. Sampai sekarang saya belum dapat kabar apakah freezing-nya telah dicabut atau belum. Bayangkan saja betapa gundah hati mereka jika satu angkatan dianggap tiada pernah bersekolah di sana.

Belum kelar rasa kangen kepada Lila, kali ini gejolak rindu kepada Kika.

Ia berkirim WA kepada saya kalau di akhir bulan ini ia mendapatkan tugas menjadi fotografer pada acara kumpulan anak Karawang yang kuliah di Jogja. Ia minta supaya saya mengirimkan kamera ke Jogja. Kesempatan nih menyembuhkan sakit kangen padanya, pikir saya.

Dari pada mengirimkan kamera dengan resiko – alasan yang saya cari – saya minta kepadanya supaya pulang ke Karawang. Ia pun bilang pantang pulang kalau tidak libur semesteran. Selain itu, ia sedang sibuk membikin laporan praktikum yang sangat banyak. Saya pun merayu, dan akhirnya terjadi kesepakatan: saya yang urus tiketnya dan sewaktu-waktu ia bisa membatalkan tidak pulang. Ia dijadwalkan ke Karawang berangkat Jumat selepas subuh. Deal.

Sesungguhnya ia sangat berat melangkahkan kakinya pulang ke rumah sebab ada data yang masih di tangan temannya, sementara Senin pagi ia harus serahkan laporan praktikumnya.

Jam 6 pagi saya sudah menunggunya di Halim, padahal jadwal Kika jam 7. Tak ada delay, malah lebih cepat 10 menit sehingga jam 7 saya sudah membawanya keluar dari Halim. Sepanjang jalan kami banyak ngobrol ngalor-ngidul, saya teringat masa-masa ketika mengantarnya ke sekolah dulu. Karena saban Jumat pagi saya ada meeting, perjalanan Halim-Karawang saya kebut.

Sorenya Kika mengabarkan kalau data dari temannya sudah di-share di laman fesbuk, tapi ia bingung bagaimana membuat histogram-nya di excel. Malam Sabtu dan Minggu saya belajar bersamanya membuat histogram sesuai yang diinginkan dosen Kika. Bahkan sampai lepas dini hari. Menyenangkan betul kebersamaan kali ini.

Kebersamaan dengan Kika cepat berlalu, Minggu siang ia mesti kembali ke Jogja. Aroma keringat Kika dan Lila setidaknya telah sedikit menyembuhkan rasa kangen saya kepada mereka.

Share on Facebook