Mereka mengulas buku saya #1

Judul buku: Kita Sangat Akrab Dengan Tuhan • Penulis: Guskar Suryatmojo • Penerbit: Smart Writing Revolution (Yogyakarta, Maret 2014) • Tebal: 110 halaman • Harga: Rp 29.000 (belum termasuk ongkos kirim) • Pesan: via email ke kyaine2010@gmail.com atau SMS 081288630551

***

[1]

TUHAN ITU SANGAT DEKAT

Oleh: Mugniar Marakarma

KITA SANGAT AKRAB DENGAN TUHAN, judul buku ini, menggambarkan isinya yang membeberkan bahwa Tuhan itu dekat. Ia terjangkau dan menjangkau. Maka jangan menjauh.

Dalam do’a-do’a kita, kita memanggil Tuhan dengan sebutan “Engkau” atawa “Mu” di belakang kalimat. Beranikah kita memanggil pak Bupati atawa pak RT, misalnya dengan sebutan engkau (Kita Sangat Akrab dengan Tuhan, halaman 29).

Kesimpulannya: kita sangat akrab dengan Tuhan tetapi kenapa kita masih susah merangkai kalimat saat berkomunikasi dengan Tuhan, padahal dengan mudahnya mencari bahan obrolan bila kita bertemu kawan?  (Kita Sangat Akrab dengan Tuhan, halaman 30).

Kesimpulan yang menohok tetapi benar karena Tuhan itu Maha Pengabul Do’a maka jangan sungkan dan malas untuk berdo’a. Dalam tulisan berjudul Rejeki Terakhir (halaman 27)  diceritakan tentang seorang lelaki tua yang tengah sakratul maut. Menjelang penghujung ajalnya, lelaki tua itu berdo’a agar anak bungsunya hadir di hadapannya sebelum ia meninggal: “Duh malaikat pencabut nyawa, tunggulah barang sejenak. Anakku masih di jalan.”

Bahagianya ia ketika bungsunya muncul. Dan begitu kalimat suci usai dilantunkan si bungsu di telinganya, lelaki tua itu tersenyum lalu pergi untuk selamanya.

Buku ini memuat dua hal pokok, yaitu:

  1. Penekanan bahwa Islam itu mudah.

Ketika lama menunggu lampu lalu-lintas berubah warna menjadi hijau misalnya, jangan ditanggapi dengan negatif. Sebetulnya, daripada hati dongkol menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, mendingan jeda waktu itu untuk berdzikir (Lampu Merah dan Dzikir, halaman 94). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya berdzikir itu mudah.

  1. Menjawab persoalan-persoalan seputar Islam (di antaranya tentang puasa, haji,  dzikir, dan sedekah) dengan cara sederhana.

“Bagi manusia yang lemah iman, ia akan menjadi kader setan. Mungkin saja ia menjadi kader kesayangan setan. Kader semacam ini membuat meringankan tugas setan menggoda hati manusia, karena orang yang sudah menjadi kader setan sangat mudah menularkan perbuatan buruknya kepada orang lain di sekitarnya.” (Ketika Setan Terbelenggu, halaman 88).

Kutipan di atas dan penjelasannya menjawab pertanyaan pada halaman sebelumnya: “Pak Ustadz, tanya dong. Katanya pas bulan Ramadhan gini para setan tangan dan kakinya dirantai, kok masih ada aja orang yang tergoda oleh bujuk rayu setan, sih?”

Gaya bahasa yang digunakan mengalir dan ringan sehingga mudah dibaca oleh siapa saja. Bahkan terdapat sentilan-sentilan yang mampu membuat pembaca mengoreksi diri, mempertanyakan kadar keimanannya. Sentilan-sentilan itu, beberapa di antaranya dituturkan amat halus karena penulis menggunakan POV (point of view) orang pertama tunggal, seperti dalam penggalan berikut:

Ketika terdengar ringtone telepon atawa SMS masuk, dalam hitungan detik saya mengangkat ponsel saya. Ingin segera tahu, saya mendapatkan telepon atawa SMS dari siapa, jangan sampai mengecewakan orang yang menelepon saya. Bahkan saat saya sedang beraktivitas lain, saya sempatkan segera mengangkat ponsel atawa membalas SMS tadi.

Tetapi, azan terdengar memanggil saya untuk segera melaksanakan shalat, gendang telinga saya tidak bergetar. Bahkan sejam setelah adzan selesai saya baru ambil wudlu. Gusti Allah saya cuekin (Berhala Ponsel, halaman 107).

***

Buku yang memuat 42 tulisan lepas ini sangat pas bila dibaca oleh semua golongan karena bahasanya yang mudah dicerna. Sayangnya ada sedikit ganjalan, yaitu:

  1. Pemakaian kalimatnya belum efektif dan beberapa masih kurang tepat. Contohnya pada paragraf berwarna biru di atas, masih bisa dipangkas sebagai berikut:

Kapan saja ketika terdengar ringtone telepon atawa SMS masuk, dalam hitungan detik saya mengangkat ponsel, ingin segera tahu dari siapa.  Jangan sampai mengecewakan orang yang menghubungi, saya sempatkan segera mengangkat ponsel atawa membalas SMS tadi.

Tetapi, saat azan terdengar, gendang telinga saya tidak bergetar. Bahkan sejam setelah adzan selesai saya baru ambil wudlu. Gusti Allah saya cuekin.

  1. Pada tulisan berjudul Tiket Masuk Surga (halaman 100), sebaiknya dituliskan dari mana referensi tulisan itu. Apakah dari hadits (sebutkan hadits), hanya analogi sederhana ala penulis, ataukah cerita fiksi (mudah-mudahan bukan). Informasi mengenai referensi penting agar pembaca benar-benar tercerahkan atau tidak merasa dibodohi jikalau ternyata merupakan analogi saja.

Tapi kedua ganjalan itu tak menghilangkan esensi pengetahuan yang hendak dibagi oleh penulisnya. Membaca tulisan-tulisan renyah di dalam buku ini, sungguh membuka wawasan tentang banyak hal, terutama mengingatkan pembaca bahwa Tuhan itu sungguh dekat.

Makassar, 15 Agustus 2014

Note:
Mugniar Marakarma adalah pemilik dan pengelola Blog Mugniar’s Note: Sebuah Renungan. Ulasan ini diposting di blog tersebut dengan judul Tuhan Itu Sangat Dekat.

[2]

KITA SANGAT AKRAB DENGAN TUHAN

Oleh: Kanianingsih

Dalam Bahasa Indonesia, posisi Tuhan ditempatkan sangat akrab dengan keseharian kita. Kita memanggil Tuhan dengan sebutan Dia atau Nya, bukan dengan sebutan Beliau atau Paduka. Dalam berdoa, kita memanggil Tuhan dengan sebutan Engkau atau Mu. Kita memanggil Tuhan dalam bahasa tulisan hanya dibedakan dengan huruf kapital.

Inilah yang ingin disampaikan penulis, bahwa dalam hidup kita sehari-hari kita sangat akrab dengan Tuhan. Suatu saat, penulis berada dalam perjalanan dan mobilnya mogok. Mobil itu harus didorong oleh tukang ojek agar bisa parkir di pinggir jalan. Penulis memanggil montir dan harus mengeluarkan sejumlah uang yang cukup banyak untuk memperbaiki mobilnya. Musibah hari itu terjadi karena penulis telat membayar zakat penghasilan!

Kita sering melihat kotak amal di mana-mana. Di luar masjid, di rumah makan, di depan pintu masuk mini market, di tukang pangkas rambut, di sudut toko, dibawa berkeliling di tengah pasar, ditaruh di tengah jalan, dan sebagainya. Kita tak akan mengalami kesulitan jika hendak bersedekah. Ada kata-kata bijak dari penulis, “Tak perlu ada prasangka untuk bersedekah. Jika hati sreg untuuk memasukkan rupiah ke kotak amal tersebut, ya masukkan saja. Mudah kan?” (halaman 15).

Di saat yang lain, seorang kawan penulis bercerita bahwa ia sangat prihatin dengan orang-orang yang tidak menggunakan jejaring sosial untuk sesuatu yang positif. Malah dimanfaatkan untuk menghina orang lain atau ikut campur urusan orang lain, bahkan menjelekkan orang yang hanya dikenal lewat dunia maya. Jejaring sosial sebaiknya digunakan untuk menjalin persahabatan dan menambah ilmu. Karena semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Sang Pemilik Dunia Nyata dan Dunia Maya (halaman 36).

Ada satu cerita penulis tentang kewajiban seorang muslim untuk melindungi saudaranya yang didzalimi. Dikisahkan, Mat Kohar sedang bersantai di rumahnya. Tiba-tiba ada orang yang minta ijin bersembunyi di rumahnya. Orang itu difitnah mencuri uang di toko Wan Tajir. Mat Kohar pun mempersilahkan orang itu untuk sembunyi. Begitu Wan Tajir dan pengawalnya datang, Mat Kohar berusaha melindungi orang yang difitnah itu. Dia bersedia membayar ganti rugi uang yang hilang dengan setiap tetes ketingat yang keluar dari tubuhnya. Orang yang difitnah pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dia tidak rela Mat Kohar yang baik hati berkorban untuknya. Dia rela dipotong tangan walau sebenarnya dia tidak mencuri uang tersebut. Mat Tajir diam mendengar perdebatan Mat Kohar dan orang yang difitnahnya. Dia pun minta maaf dan akhirnya sadar bahwa setiap muslim itu bersaudara (halaman 53).

Dalam cerita yang lain, penulis meminjam tokoh Pangeran Diponegoro. Dikisahkan, Pangeran Diponegoro mempunyai kuda perkasa bernama Kyai Gentayu. Banyak orang yang ingin menukar Kyai Gentayu dengan emas dan tanah berhektar-hektar, namun Pangeran Diponegoro bergeming. Suatu saat, ada orang yang ingin memiliki Kyai Gentayu dengan cara licik. Ia berpura-pura sakit dan tidak kuat berjalan. Pangeran Diponegoro pun menyuruhnya menaiki Kyai Gentayu. Orang itu tertawa karena begitu mudahnya Pangeran Diponegoro tertipu. Pangeran Diponegoro membiarkan orang itu membawa kudanya. Namun ia berpesan agar orang itu merahasikan kejadian ini. Beliau khawatir, tak ada orang yang bersedia menolong saudaranya karena takut tertipu. Orang itu tertegun, lalu dia bersimpuh dan minta maaf pada Pangeran Diponegoro. Dia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya (halaman 62).

Buku ini mengingatkan kita agar mengingat Tuhan dalam segala hal. Sebagian tulisan adalah pengalaman pribadi penulis. Sebagian lagi adalah pengalaman orang lain dan cerita-cerita inspiratif yang dituliskan oleh penulis dengan gaya bahasa yang ringan dan sesuai dengan keseharian kita. Membaca buku ini, kita akan semakin termotivasi untuk memperbaiki diri agar semakin akrab dengan Tuhan.

Note:
Kania Ningsih adalah pemilik dan pengelola Blog Rumah Maya Kania. Ulasan ini diposting di http://dakwatuna.com dengan judu Kita Sangat Akrab Dengan Tuhan.

bersambung…

Share on Facebook