Gajah Mada: segala sesuatu itu indah pada waktu-Nya

Judul buku: Erstwhile Persekutuan Sang Waktu • Penulis: Joseph Rio Jovian Haminoto • Penerbit: Gramata Publishing, 2015 • Tebal: 460 halaman

Rasa bahasa novel Erstwhile ini berasa makan Selat Solo, sebuah makanan khas Kota Solo yang konon tercipta karena olah rasa perpaduan antara lidah orang Belanda dan Keraton Surakarta Hadiningrat. Demikian dengan novel ini, ada citarasa bule di sana.

Syahdan, Picaro Donevante seorang warga kota Paris terinspirasi perjalanan Marcopolo ke Negeri Timur. Ia pun melakukan perjalanan bersama para sahabat yang ditemuinya di sepanjang perjalanannya. Tak diduga, Picaro berkelana hingga masuk ke wilayah Kerajaan Sriwijaya dan melanjutkan perjalanan hingga ke Majapahit!

Kerajaan Majapahit saat itu kondisinya sedang kacau balau, sebab sedang terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti. Prabu Jayanegara – Raja Majapahit kala itu – melarikan diri untuk bersembunyi. Rumah Picaro lah yang menjadi tempat bersembunyian Raja Majapahit itu. Di sinilah awal mula perkenalan Picaro dengan Bekel Gajah Mada, pimpinan pasukan Bhayangkara yang perkasa.

Picaro adalah saksi dan bahkan pelaku yang terlibat dalam kejayaan Majapahit. Ia sahabat akrab Gajah Mada. Picaro menyaksikan bagaimana Ra Tanca membunuh Prabu Jayanegara dan kemudian dengan secepat kilat Gajah Mada gantian membunuh Ra Tanca. Picaro juga sangat akrab dengan Ibu Gayatri dan putrinya Tribhuwana Tunggadewi, pada beberapa kesempatan mereka minta diceritakan apa dan bagaimana Kota Paris.

Karena dekat dengan kekuasaan dan di-back up oleh Gajah Mada, peran Picaro sebagai pengusaha jelas mendapatkan berbagai kemudahan dalam berniaga. Boleh dikatakan ia menikmati sebagai mafia logistik dan kapitalisme ia lakukan di Tanah Majapahit. Pokoknya Enjoy Capitalism.

Sumpah Hamukti Palapa yang diucapkan Gajah Mada digambarkan dengan dramatis di novel ini. Picaro mengikuti invansi kapal-kapal Majapahit dalam menaklukkan berbagai negeri dan menyatukan dalam Nusantara. Perjodohan Pitaloka dengan Hayam Wuruk yang berakhir pada tragedi Bubat yang menewaskan Pitaloka dan rombongan tak luput dari peran Picaro.

Meski Picaro kecewa dengan Gajah Mada yang membasmi rombongan Pitaloka, tetap saja ia setia mendampingi Gajah Mada yang mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih dan menyepi di Madakaripura. Belakangan, Prabu Hayam Wuruk kembali memanggil Gajah Mada untuk kembali menjabat Mahapatih. Hidup Gajah Mada memang telah dihibahkan untuk Majapahit semata.

Picaro mengajak Gajah Mada ke Paris. Dalam perjalanannya, Gajah Mada membuka identitas dirinya. Tahukah Anda, siapa Gajah Mada yang sebenarnya?

Bagi Anda pecinta Mahapatih Gajah Mada, buku ini wajib Anda baca! Ini peringatan serius dari saya. Apalagi nekjika Anda pernah tersihir oleh imajinasi ‘liar’ sang penulis Pentalogi Gajah Mada, Langit Kresna Hariadi. Novel Erstwhile ini akan melengkapi imajinasi Anda tentang Gajah Mada.

Share on Facebook