Celathu

24 jam bersama Kika

Sebetulnya sejak bulan September kemarin saya sering bolak-balik Karawang-Solo atau Karawang-Jogja. Ada beberapa urusan yang mesti saya selesaikan. Hari Sabtu yang lalu saya pergi ke Jogja lagi. Tujuan utama kepergian saya kali ini untuk njagong manten. Mumpung ada di Jogja kira-kira 24 jam, saya minta Kika untuk bikin itinenary selama saya di Jogja.

Setelah nyamperin Kika di kosan, sabtu sore kami pergi ke Jl. Imogiri Barat untuk nengok proyeknya Kika. Sebelumnya ia mengingatkan supaya menghindari kawasan Jl. Kemasan Titik Nol, karena (sebagian) ditutup. Sepanjang perjalanan, terjadi dialog bapak dan anak perempuannya. Banyak hal yang diperbincangkan, sebagian besar off the record.

“Aku sudah beli tiket Taj Mahal. Filmnya mulai jam sembilan malam,” sergah Kika ketika kami menikmati makan sore pada sebuah saung di rumah makan tak jauh dari lokasi proyeknya.

Bulan kemarin Kika mulai ikutan kursus Bahasa Perancis. Sepertinya minat utamanya memang di bidang bahasa. Sebagai orang tua, sepenuhnya saya mendukung dan memberikan fasilitas untuknya. Taj Mahal ini sebuah film Perancis yang sedang diputar di Festival Sinema Perancis.

“O iya Pa, cerpen yang aku kirim kemarin tidak juara. Tetapi nggak apa-apa, setidaknya cerpenku masuk urutan kecil dari ratusan peserta yang masuk,” ujarnya kemudian.

“Cerpen yang juara sih tergantung bagaimana selera juri. Nggak usah berkecil hati. Kamu sudah berani mengirimkan cerpen naskahmu saja sudah begini,” jawab saya sambil mengacungkan ibu jari kepadanya. “Boleh nggak Pa baca cerpenmu?”

“Semalam sudah aku posting di Ependyma. Pa belum lihat?” ia balik bertanya.

Kenyang sudah perut saya yang sejak pagi belum tersentuh nasi. Kami pun menuju ke hotel untuk istirahat dan mandi, kemudian melanjutkan perjalanan ke gedung bioskop di bilangan Jl. Solo.

Minggu pagi saya mengajaknya untuk njagong manten, di mana tempat resepsi jaraknya cuma sepelemparan sandal saja dari hotel tempat kami menginap.

Kit wingi aku perbaikan gizi terus,” celathu-nya dalam bahasa campuran Jawa, sambil menikmati hidangan resepsi. Tetapi ia gelagapan tak paham ketika pembawa acara pengantin menggunakan bahasa Jawa Tingkat Dewa.

Maklum anak kos, begitu makan-makan enak dianggap sebagai upaya perbaikan gizi.

Selepas lohor, kami berpisah di kosan sebelum saya melanjutkan perjalanan balik ke Karawang.

Share on Facebook