Pawang bau badan

Barangkali sudah suratan nasib Mas Suryat, ketika ia berkali-kali berurusan dengan orang yang mempunyai bau badan semerbak “mewangi” yang sering mengganggu kenyamanan orang lain di sekitarnya.

Disebut berkali-kali artinya lebih dari sekali. Mas Suryat bukan menghindarinya, tetapi justru memberikan solusi bagaimana mengurangi – dan sokur-sokur bisa menghilangkan. Apa yang menjadi trik dan rahasianya?

[1]

Pada suatu hari, Mas Suryat dipanggil oleh Pak Bos. Ia mengeluhkan BB sopir yang saban hari melayaninya. Pak Bos ini orangnya berperasaan halus hingga sungkan untuk menegur sopirnya sendiri.

Mas Suryat mulai menyelidik. Ternyata, saban pagi setelah sampai di kantor, sopirnya Pak Bos ini rajin berolah raga lari. Tentu saja ia berkeringat. Namun sayangnya, cara hidup sehat semacam itu tak diimbangi dengan hidup bersih. Habis berolah raga, ia langsung mengenakan baju seragam sopirnya tanpa mandi dulu. Ia siap jika sewaktu-waktu ada panggilan untuk mengantar bos-nya.

Lain waktu, ia tak melakukan olah raga lari tetapi ia mencuci mobil. Sama seperti habis berolah raga, ia langsung mengenakan baju seragamnya.

Mas Suryat mengajaknya bicara. Akhirnya ada perubahan, ia akan mandi dulu sebelum mengenakan baju seragamnya. Tak lupa, Mas Suryat memberikan kepadanya sekotak PO Powder MBK. Ini bukan iklan loh ya, memang bubuk Menghilangkan Bau Keringat (makanya disingkat menjadi MBK) ini sangat cespleng khasiatnya.

[2]

Ada seorang karyawan baru. Perempuan. Wanginya sungguh luar biasa, menguar pada radius sepuluh meteran. Mas Suryat sering dibikin pusing oleh wangi parfum yang dipakainya, apalagi jika ia masuk ruangan Mas Suryat untuk mengantar surat/dokumen.

Karena nggak tahan oleh aromanya, Mas Suryat menegurnya. “Neng, mandi parfum ya?”

“Memang kenapa, pak?”

“Ambune nggawe mumet!” Ia nggak mudeng ujaran Mas Suryat, sebab ia tidak paham bahasa Jawa.

“Minta suamimu untuk membelikan parfum yang lembut aromanya.”

Ajaib. Esoknya tak ada aroma menyengat lagi.

[3]

Setiap masuk toilet, hidung Mas Suryat mengendus bekas aroma tak sedap BB seseorang. Siapa lagi nih yang punya masalah BB! Mas Suryat menyelidik, tapi belum bisa memastikan dari mana sumber BB tersebut.

Syahdan, pada suatu hari Jumat. Mas Suryat siap-siap pergi jumatan. Ia dihampiri oleh seorang house keeper kantornya untuk diajak ke masjid bareng dengan membonceng motornya. Aha, sudah rejeki anak soleh: dapat tebengan motor apalagi panasnya terik sangat.

Begitu Mas Suryat duduk manis di boncengan, syaraf hidungnya mendeteksi aroma tak sedap BB yang selama ini dicarinya. Ini rupanya sumber bau di toilet. Sungguh merupakan siksaan membonceng motor dengan cara seperti ini. Tetapi otak Mas Suryat berputar untuk membebaskan orang tersebut dari jeratan BB.

Mas Suryat mengandalkan PO Powder MBK lagi! Pada hari Senin berikutnya, ia mencari house keeper tadi.

“Kanjeng Nabi pernah bilang supaya mandi dulu sebelum jumatan. Setelah itu kenakan pakaian terbaik yang dimiliki dan jangan lupa memakai wangi-wangian.”

“Tapi saya tidak punya parfum pak.”

“Tenang, ini saya kasih wewangian alami. Begini cara memakainya.”

Mas Suryat mempraktekkan cara menggunakan PO Powder MBK dengan menyobek ujung sachet-nya, lalu menuangkan bubuk berwarna putih-wangi ke telapak tangannya. “Kemudian oleskan di ketekmu!”

Esok harinya, Mas Suryat masih mencium aroma BB di toilet. Hah?! Apa MBK-nya nggak manjur buat keteknya house keeper? Ketika bertemu dengannya, Mas Suryat bertanya, “Kamu hari ini nggak pakai MBK?”

Ia bengong, tak lama kemudian menjawab, “Kata Bapak kemarin dipakai kalau habis mandi hari jumat!”

“Maksud saya, dipakai setiap hari. Jangan takut kehabisan MBK, besok saya bawakan satu dos!”

[4]

Rupanya pekerjaan sampingan Mas Suryat sebagai pawang BB menyebar di kalangan terbatas di kantornya. Kali ini ada karyawan baru, laki-laki dan masih bujangan.

Sebagai karyawan lama tapi baru, ia tampil (sangat) rapi, dari ujung kepala hingga kaki. Rambut selalu klimis tersisir rapi, baju dimasukkan ke celana bahan miliknya. Sepatu pantopel juga tersemir kinclong. Maklum, biasa kerja di lapangan kini jadi orang kantoran. Hanya satu kekurangannya, ia punya masalah dengan BB. Beberapa kolega di sekitarnya terganggu oleh aroma tubuhnya itu.

“Tolong Pak Suryat tangani!”

Ini terjadi baru kemarin. Jadi belum ada cerita untuk dikisahkan di sini, sebab – seperti biasanya – Mas Suryat akan melakukan investigasi dan mengenal lebih akrab padanya.

Share on Facebook