Majalah terakhir

Persis sudah dua bulan ini saya tak berlangganan media massa cetak. Alasan utamanya karena tak sempat lagi membacanya secara keseluruhan. Zaman dulu kebiasaan saya dalam membaca media massa tak hanya judulnya atau sub judul tetapi semua isi. Belakangan saya baca sepintas judulnya saja dan beberapa artikel saya lewati begitu saja.

Ketika marak media online, media massa yang menjadi langganan saya teronggok di atas meja konsul pojokan ruang tamu.

Sejak tinggal di Karawang tahun 1994 saya berkenalan dengan Mas Ucok loper koran. Waktu itu saya berlangganan Republika. Setelah runtuhnya rezim Orde Baru dan Majalah Tempo terbit kembali – sebelumnya dibredel – saya berlangganan Tempo juga. Sementara Republika saya ganti dengan Kompas, tetapi saya tidak berlangganan penuh hanya khusus Sabtu dan Minggu. Saya juga berlangganan Tabloid Nova.

Saat Kika sudah bisa membaca, langganan media massa ditambah dengan Majalah Bobo. Ia masuk SMP ditambah langganan Kawanku. Tentu saja kedua majalah tersebut diperuntukkan buat Lila juga, meskipun kadang ia minta dibelikan Bobo Junior.

Belakangan ditambah berlangganan Majalah Ummi dan ketika National Geographic Indonesia terbit, saya pun berlangganan termasuk NG Traveller.

Oh iya, hampir lupa. Tak kalah menariknya saya juga berlangganan majalah Bahasa Jawa Panjebar Semangat. Tiga majalah yang saya sebut belakangan, saya berlangganan langsung dari penerbitnya.

***

Mencermati kondisi perekonomian global ke depan yang makin sulit, saya memutuskan hidup lebih berhemat lagi. Hidup hemat adalah sebuah pilihan. Salah satu pos pengeluaran yang perlu saya pangkas yakni berhenti berlangganan media massa.

Tak serta merta saya putus semuanya, tahap pertama menghentikan berlangganan: Kompas, Tempo, Ummi dan Nova. Majalah Bobo dan Kawanku berhenti ketika anak-anak merantau untuk bersekolah.

Tetapi kalau saya sedang kangen bau kertas cetakan koran/majalah kadang membelinya juga, dan saya membacanya dengan tuntas. Demikian juga dengan anak-anak suka membeli majalah secara ketengan, apalagi kalau ada artikel yang menarik.

Memang sangat beda sensasinya kala membaca koran/majalah cetakan daripada versi online.

Share on Facebook