Ibu guru yang cantik itu pun menangis

Kisah ini terjadi ketika saya kelas 2 SMA (tahun 1985).

Pada tahun 1979 pernah beredar film Indonesia bergenre remaja yang berjudul Guruku Cantik Sekali, waktu itu saya kelas 5 SD. Dan ketika kelas 1 SMP ungkapan Guruku Cantik Sekali kembali terdengar saat kami mendapatkan wali kelas yang, menurut penilaian kami, cantik sekali.

Sang waktu bergulung dengan cepatnya, saya pun duduk di kelas 2 SMA.

Pelajaran favorit saya saat itu: Kimia. Hanya gara-gara ibu gurunya cantik sekali. Waduh, ternyata mayoritas murid cowok mengidolakannya meskipun pelajaran kimia sering membuat pusing.

Waktu ibu guru tersebut pertama kali mengenalkan diri di depan kelas, saya jadi membayangkan tokoh wayang yang pernah dimainkan oleh Ki Anom Suroto yakni Dewi Titisari, putri nan cantik anak perempuan Prabu Kresna dengan Dewi Rukmini.

Wajah ibu Dewi Titisari ini putih, jidat agak jenong, dan hidungnya mbangir, miriplah wajah wayang kulit kalau dilihat dari arah samping.

***

Konon, anak kelas 2 SMA itu sedang nakal-nakalnya. Kelas IPA, jumlah murid cowok dua pertiga dari seluruh jumlah murid. Kenakalan secara berjamaah sering kami lakukan, termasuk pada suatu siang pas pelajaran kimia.

Ketukan sepatu ibu Dewi Titisari terdengar sangat merdu ketika memasuki ruang kelas. Buku paket Kimia segera saya buka – tapi saya lupa, waktu itu materi pelajaran apa yang sedang diajarkan, dengan takzim saya menyimak wajah Dewi Titisari papan tulis.

Tiba-tiba teman yang berada di depan saya memberikan selembar kertas sobekan buku, di sana ada gambar coretan tangan sosok Dewi Titisasari yang sedang berada di depan kelas. Iseng saya tambahi tulisan, kemudian kertas tersebut saya geser ke meja belakang saya, dan kertas tersebut beredar ke seluruh meja.

Ketawa cekikikan mulai terdengar. Dewi Titisari merasa terganggu. Kami diam. Tapi cuma sebentar, setelah itu tertawa lagi dan hal itu membuat Dewi Titisari menghentikan pelajaran dan mencari sumber masalah.

Ia merebut kertas bergambar dirinya yang sudah penuh dengan coretan tulisan aneh-aneh dari tangan teman saya, ia menatap sebentar kertas tersebut maka wajahnya menjadi kesumba.

Rasa marah, malu, dan kesal, bercampur jadi satu. Dewi Titisari kita berlari ke kantor guru sambil menangis.

***

Guru BP melakukan investigasi. Beberapa murid jadi tersangka, termasuk saya. Kami minta maaf kepada ibu Dewi Titisari dan berjanji tidak mengulangi perbuatan itu.

Pada ulangan Kimia akhir semester, murid dari kelas saya paling banyak diminta untuk remedial.

Termasuk saya.

Note:
Tulisan ini dibikin menjelang acara Reuni 30 tahun tanggal 6 Feb 2016 nanti

Share on Facebook