Pelaut Tua itu masih berlayar

Seminggu ke depan aktivitas saya mengikuti Diklat Ahli Kepelabuhan Indonesia, bertempat di sebuah hotel yang tak jauh dari Istana Negara. Diklat ini diadakan oleh Kementerian Perhubungan RI dan PKSPL IPB, diikuti 40-an peserta dari seluruh Indonesia.

***

Pelajaran IPS zaman sekolah dulu masih terngiang di benak saya. Letak geografis Indonesia sangat strategis, yakni berada di antara dua benua yakni Asia dan Australia serta di antara dua samudera yakni Atlantik dan Hindia. Luas wilayah Indonesia 2/3 di antaranya berupa lautan. Waktu itu pengetahuan tentang kelautan saya hanya sebatas itu saja.

“Tak hanya sebatas itu, mas!” kata Pelaut Tua mengejutkan saya yang tengah berkonsentasi mengikuti paparan dari pengajar.

“Siap, Capt!” tukas saya sambil menegakkan badan.

Pelaut Tua itu mengajak saya naik ke atas kapalnya. Ia ingin mengajak saya mengarungi lautan Indonesia yang sangat luas.

“Capt, mengapa Presiden Jokowi mencanangkan Program Tol Laut dan ingin menciptakan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia?” tanya saya kepada Captain senior itu.

“Tol laut sebuah sistem supply chain logistik Nasional agar bekerja secara efisien,” jawabnya.

“O, persepsi saya selama ini seperti jalan tol disambung di laut,” kata saya sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.

“Program Tol Laut ini tujuannya menghubungkan semua pelabuhan besar yang ada di Indonesia. Dengan terhubungnya pelabuhan-pelabuhan laut tersebut, maka dapat diciptakan kelancaran distribusi barang hingga ke pelosok. Ketika ada kapal besar yang datang dan melakukan pendistribusian logistik, kapal kecil yang ada di sekitarnya bisa membantu menyalurkan ke daerah terpencil,” papar Pelaut Tua dengan suara yang masih menggelegar meskipun dua tahun lagi usianya menginjak ke angka tujuh puluh.

“Roda perekonomian akan bergerak secara efisien dan merata ya, Capt. Bayangan saya, nanti akan ada kapal-kapal besar yang bolak-balik di laut Indonesia, sehingga biaya logistik menjadi lebih murah,” saya mencoba mencerna paparan Pelaut Tua.

“Yes! Salah satu faktor penunjang Tol Laut tersebut yakni kebutuhan akan pelabuhan laut dalam (deep sea port) untuk memberi jalan bagi kapal-kapal besar yang melintasi rute dari Sabang sampai Merauke. Jalur ini membentang sejauh lima ribu kilometer atau seperdelapan keliling bumi,” ujar Pelaut Tua sambil memberi kode agar kapal merapat ke Pelabuhan Kuala Tanjung.

***

“Mas, pulpennya jatuh!”

Teman semeja saya memberitahu kalau pulpen saya jatuh. Pelaut Tua masih memberikan materinya dengan bersemangat seperti mengarungi lautan luas. Saya mencoba mengembalikan kesadaran setelah beberapa saat lalu melamunkan naik kapal bersama Pelaut Tua.

Share on Facebook