Es puter Pak Gombil

Setiap kali melihat orang jualan es puter keliling, saya selalu teringat Pak Gombil. Siapa itu Pak Gombil?

Ini kenangan waktu saya masih SD dulu. Saya bertetangga dengannya. Pak Gombil dan teman-temannya yang asli Wonogiri menyewa sebuah rumah, sebagai tempat memproduksi es puter. Saya dan teman sepermainan sering berkunjung ke rumah Pak Gombil untuk melihat bagaimana es puter tersebut dibuat.

Pagi-pagi sekali, ia dan teman-temannya sudah duduk manis di depan “mesin” es puter miliknya: sebuah tong yang terbuat dari kayu, di tengahnya dimasukkan sebuah tabung aluminium yang di dalamnya telah berisi adonan es puter yang masih cair. Kemudian pada ruang yang kosong (di dalam tong tersebut) diisi dengan bongkahan es batu kemudian ditaburi garam kasar. Dengan kesabaran ekstra-tinggi, tabung aluminium tersebut diputar pelan-pelan sampai adonan di dalamnya membeku dan siap disajikan/dinikmati.

Di kampung saya, es puter semacam itu dinamakan “es thong-thong” karena dijajakan dengan cara memukul gong kecil yang berbunyi “thong-thong”. Dan di gerobaknya es puter diberi tulisan “Es Pak Gombil”. Siapa nama asli Pak Gombil, saya tidak tahu.

Jika malam minggu, saya dan juga teman-teman saya mengunjungi rumah Pak Gombil untuk melihat dan membantu membikin wafer cone. Cara membuatnya sangat sederhana. Ada sebuah cetakan baja yang berbentuk cone, yang dipanaskan dengan kompor. Lalu adonan wafer cair yang telah disiapkan oleh Pak Gombil, dituangkan sesuai ukuran lalu dicetak. Dalam hitungan detik, jadilah wafer cone yang siap digunakan.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk membantu Pak Gombil? Karena mesin cetak waktu itu masih sederhana, maka hasil cetakan kurang sempurna. Wafer cone yang bentuknya kurang rapi, perlu dirapikan dengan digunting di sana-sini. Nah, remah-remah wafer cone sisa guntingan ini menjadi bonus bagi anak-anak yang membantu, karena enak dimakan.

Cukup lama Pak Gombil dan teman-temannya berada di kampung saya. Nanti ketika saya sudah SMA, Pak Gombil pindah tempat. Sesekali masih suka bertemu di jalanan, ketika ia menjajakan es puternya.

Share on Facebook