Suami dan penghasilannya

Nomer Satu

Ia seorang suami yang berpenghasilan tetap. Gaji yang ia terima dari tempatnya bekerja, sepenuhnya ia berikan kepada istri untuk mengelolanya. Bahkan, untuk kebutuhannya ia tinggal minta jatah kepada istrinya itu: untuk beli bensin kendaraannya dan rokok. Tak perlu minta uang makan, sebab di tempatnya bekerja ia mendapatkan jatah makan siang/katering.

Semua penghasilan yang diberikannya tersebut, cukup tidak cukup, ya harus dicukup-cukupkan sampai saatnya tanggal gajian bulan berikutnya. Biarlah istrinya yang mikirin bagaimana mengelola uang untuk rumah tangga mereka.

Nomer Dua

Ia seorang suami yang berpenghasilan tetap, tetapi ia bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari penghasilan tambahan. Ia cukup jeli membaca peluang. Sama seperti suami Nomer Satu, semua gaji ia berikan kepada istri yang ia anggap sebagai manajer keuangan. Hanya bedanya, ia tak mau mengganggu uang yang telah diberikan kepada istrinya. Ia merasa punya ‘uang lelaki’ yang sewaktu-waktu dapat ia gunakan untuk menunjukkan status sebagai seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Pulang kerja ia akan membawa oleh-oleh martabak misalnya, atau tahu-tahu mengajak anak istrinya makan-makan di luar dan ia yang membayarinya.

Jika tiba-tiba ada keperluan mendadak di rumah tangganya, ia tak segan mengeluarkan tabungan ‘uang lelaki’ yang dimilikinya.

Nomer Tiga

Ia seorang suami yang berpenghasilan tetap. Tak semua penghasilannya itu diberikan kepada istri. Ia mematok pada angka tertentu dan jika sewaktu-waktu anak atau istrinya membutuhkan uang, ia mau bertanggung jawab meskipun nantinya mencari hutang di koperasi atau menggadaikan surat kendaraan yang dimilikinya.

Nomer Empat

Ia seorang suami yang berpenghasilan tetap. Setelah menerima gaji ia akan menggunakan gaji tersebut untuk melunasi tagihan aneka kredit, bayar listrik, bayar PDAM, iuran RT, dan sebagainya. Sisa gaji, akan ia bagi: dua pertiga ia berikan ke istri, sepertiga ia gunakan untuk keperluan pribadinya seperti beli bensin, rokok, makan siang, potong rambut dan lain-lain.

Sama seperti suami Nomer Dua, ia ingin juga menunjukkan status sebagai seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Pulang kerja ia akan membawa oleh-oleh nasi goreng misalnya, atau tahu-tahu mengajak anak istrinya berbelanja di mal yang tak jauh dari rumahnya.

Nomer Lima

Ia seorang suami yang berpenghasilan tetap. Ia juga bertindak sebagai manajer keuangan di rumah tangganya. Saban hari ia membagi uang kepada istrinya untuk memasak dan membeli kebutuhan rumah tangga, membagi uang kepada anak-anak mereka untuk bekal ke sekolah.

Jika uang sudah menipis, tak segan ia akan bilang ke istrinya untuk mencari hutangan. Kalau sudah begitu, uang jajan anak-anak mereka menjadi tanggungan istrinya.

***

Entah beruntung atau buntung jika ada seorang suami yang tidak termasuk golongan Nomer Satu hingga Nomer Lima di atas, sebab masing-masing rumah tangga mempunyai cara tersendiri dalam mengelola keuangannya.

Selamat kepada Mas Boi yang dalam hitungan hari akan melepas masa lajang dan jadilah suami Nomer Jitu.

Share on Facebook