Pernikahan nenekku

Kartu undangan pernikahan berwarna krem yang tergenggam erat di tanganku bertarikh Senin Pon, 13 April 2036. Ukiran nama pengantin yang tersemat di sana: Wiji Rahayu dengan Broto Kusumo. Wiji Rahayu adalah nama nenekku, ibu dari mamaku.

Di halaman sebaliknya tertulis sebuah sajak agak panjang, berulang-kali aku membacanya karena aku sangat menyukainya.

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta Romeo kepada Juliet si majnun Qais kepada Laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu

aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

“Demikian dahsyatkah cinta nenek kepada kakek Broto, Ma?” tanyaku kepada mama yang sedang memperhatikan ke arah pelaminan.

“Mengapa kamu berkesimpulan demikian?” mama balik bertanya kepadaku.

“Dari sajak yang tertulis di undangan ini. Mama sudah membacanya, bukan?” kataku sambil menunjukkan sajak yang tertulis di undangan.

Tanpa aku minta, mama menceritakan kisah cinta nenekku. Lelaki yang bernama Broto Kusumo adalah cinta sejatinya Wiji Rahayu, meskipun mereka berdua bertemu belakangan saat keduanya masing-masing telah mempunyai pasangan.

Sekian puluh tahun mereka memendam cinta, akhirnya mereka dapat menyatukan cinta mereka dalam ikatan pernikahan.

Aku yang duduk di sebelah mama ikut memandang ke arah pelaminan. Nenekku yang berusia tujuh puluh tahun masih terlihat cantik. Gaun pengantin berwarna putih pas benar dikenakan oleh nenekku. Kakek Broto yang berdiri di sebelah nenek tak pernah lepas tersenyum dan kadang mereka saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan. Tetapi keduanya hari ini menjadi pasangan paling serasi di dunia.

Barangkali menjadi benar kalimat pertama dalam sajak di undangan mereka: cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya.

Note:
– Puisi di atas karya Gus Mus berjudul Sajak Cinta (1995)
– Artikel ini akan dikembangkan lebih detil untuk diikutkan pada sebuah Lomba Cerpen

Share on Facebook