Cancer #49

Meskipun ini soal matematika, namun bukan salah satu soal yang keluar di UN atau tes SMPTN yang diujikan bagi anak-anak SMA beberapa waktu lalu.

Perintahnya begini: buatlah suatu persamaan sederhana pada susunan tanggal kelahiran seseorang yang jatuh pada 12-7-1967. Pada tahun ini, ia berusia 49 tahun.

Jawabannya:

1 – 2 – 7 – 1 – 9 + 67 = 49

Matematika itu unik dan menyenangkan. Utak-atik sebentar, deretan tanggal kelahiran dapat dibuat suatu persamaan seperti di atas.

***

Meskipun kehidupan tak lepas dari hitungan matematis, namun perjalanan kehidupan seseorang tak bisa dihitung dengan rumusan matematika. Umur, rejeki, jodoh, masa depan seseorang misalnya, tak dapat dirumuskan dengan angka-angka. Kita tak pernah tahu berapa jatah panjang usia yang diberikan oleh Gusti Allah. Umur memang disimbolkan dengan angka, tetapi ia tak dapat digunakan untuk menghitung probabilitas saat ajal datang. Pun dengan rejeki, jodoh dan masa depan kehidupan.

***

Lihatlah hitungan matematika di atas itu. Jumlah simbol – (kurang) jauh lebih banyak daripada simbol + (tambah). Artinya apa? Mengurangi hal-hal yang tidak baik atau tidak bermanfaat, baik itu dalam perbuatan atau pun makanan yang masuk ke dalam mulut.

Jumlah rambut yang berwarna perak juga jauh lebih banyak daripada yang berwarna hitam. Hal itu sebagai simbol sebagai sebuah peringatan untuk segera meninggalkan ‘dunia hitam’ dan berhijrah kepada ‘dunia putih’.

Jika angka 67 diibaratkan jatah usia yang diberikan Gusti Allah, berarti masih punya 18 tahun untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah untuk bekal kelak di kehidupan akherat yang kekal, suatu kehidupan yang sejati. Namun sayangnya, perkara jatah umur seseorang itu menjadi hak prerogatif Gusti Allah dan akan terus menjadi rahasia-Nya. Maka, tak perlu menunggu waktu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jadi, usia 49 sudah lumayan masuk kategori sepuh. Aneka penyakit sudah mulai mudah menyerah tubuh jika tak dijaga dengan baik. Waspadai serangan cancer versi 49!

Jika usia 49 dianggap sebagai nikmat Gusti Allah, lalu nikmat mana lagi yang mesti didustakan? Tidak ada.

Bersyukur adalah cara terbaik untuk menikmati hidup ini. Terlalu banyak nikmat Gusti Allah yang telah diberikan selama 49 tahun ini. Tak mungkin mengkalkulasi jumlah kenikmatan tersebut.

Sekali lagi, lebih baik banyak bersyukur agar nikmat selalu bertambah banyaknya.

Pripun, Paklik?

Share on Facebook