Korupsi level jelata

Aku mengendarai pelan bus AKAP jurusan Solo-Jogja yang berangkat dari Terminal Tirtonadi Solo. Penumpang belum ada separoh bus. Aku berharap di Terminal Kartosuro nanti banyak penumpang yang naik.

Apalagi hari minggu sore seperti ini. Mahasiswa yang kuliah di Jogja kembali dari mudiknya di sekitaran kota Solo. Aku menjadi sopir bus lima belas tahun lebih, sehingga hapal benar dengan tren penumpang bus.

Dalam perjalanan aku dibantu oleh seorang kenek dan kondektur. Tugas kenek lebih sering menjadi co-driver. Ia tahu persis ke mana arah stir-ku. Komunikasi kami lakukan dengan kode-kode tertentu. Prinsip kami, bus melaju cepat dan penumpang pun selamat sampai di tujuan.

Tugas utama kondektur menarik ongkos para penumpang. Ia juga nanti yang melakukan laporan dan setor uang kepada juragan bus.

Dari kaca spion aku dapat memperkirakan berapa jumlah penumpang dalam satu rit. Sehingga laporan keuangan yang disampaikan oleh kondektur bisa aku cross-check dari jumlah penumpang berdasarkan perkiraanku.

Jika engkau berpendapat bahwa perilaku korupsi sering hanya dilakukan oleh kalangan para pejabat, engkau salah menilai, kawan. Korupsi juga dilakukan di kalangan jelata. Contohnya kondektur-ku.

Misalnya, tarif pada jarak tertentu IDR 9 dan penumpang tersebut membayar dengan uang IDR 10, kondektur sering tidak memberikan pengembalian IDR 1. Kalau penumpang menanyakan pengembalian, ia baru memberikan yang IDR 1 tersebut.

Ia juga sering menyelipkan uang: kalau di lipatan baju/celana atau di bawah sepatunya gampang ketahuan, ia akan menyimpan di bawah jok yang kosong (dengan pura-pura duduk). Nanti ketika aku curigai, ia akan melepas bajunya untuk menyakinkan diriku kalau ia tak menyimpan uang sepeser pun di tubuhnya, bahkan di balik celana dalamnya.

Modus korupsi yang terbilang cerdik (baru aku sadari belakangan) saat kami bertiga makan bersama di sebuah warung. Misalnya, kami makan habis IDR 36, ia akan membayar IDR 50 dan ia tak mengambil kembalian. Modus korupsi semacam ini mesti ada kolaborasi dengan pemilik warung. Nanti, setelah seminggu atau sebulan, ia akan mendatangi warung tersebut untuk mengambil “deposit uang kembalian” yang jumlahnya lumayan besar.

Ada beberapa modus yang lain. Tiap kondektur punya cara berkorupsi sendiri-sendiri. Tapi ngomong-ngomong, adakah kondektur yang jujur? Ada, bahkan jumlahnya banyak. Aku sangat senang jika bermitra dengan kondektur yang jujur.

***

Kisah di atas diceritakan oleh sopir taxi kepada saya, dalam perjalanan dari Karanganyar menuju Stasiun Balapan.

Share on Facebook