Wisuda

Lelaki setengah baya memandangi anak perempuannya yang tengah menikmati makan malam bersamanya. Tak terasa anakku sudah dewasa, berasa baru kemarin aku menimangnya sambil menyanyikan lagu Kupu-Kupu yang Lucu.

“Kenapa ayah memandangku seperti itu?”

“Ah, enggak. Ayah senang saja, kamu makan demikian lahap.”

Suasana kembali hening. Lelaki itu mengarahkan pandangan matanya ke luar ruang. Banyak bintang bertaburan di sana. Sejurus kemudian, ia sapukan mata ke seluruh ruangan restoran yang berada di rooftop itu.

Di sisi kanan ada sepasang suami-istri yang tengah merayakan ulang tahun perkawinan keduapuluh tiga, dengan candle light dinner. Beberapa foto jadoel mereka dipajang di atas meja. Agak jauh dari duduk mereka, sepasang muda-mudi yang mungkin tengah merayakan hari jadi.

“Kamu sudah punya pacar, Nduk?”

“Belum terpikir, aku mau konsentrasi menyelesaikan kuliah dulu. Aku enggak mau mengecewakan ayah dan ibu!”

“Mengecewakan bagaimana?”

“Jangan sampai molor kuliah.”

“Ha..ha..ha.. kamu baru semester berapa? Dulu ayah kuliah enam tahun, ipeka juga pas-pasan. Ayah enggak memaksamu lulus cepat, apalagi dengan ipeka yang tinggi.”

“Tapi ada temanku yang sudah mulai nulis skripsi. Bikin gumun teman yang lain. Aku KKN aja belum. Bener, ayah enggak kecewa denganku?”

Ora!

Waitress datang menyajikan teh pesanan lelaki yang separo rambutnya telah memutih itu.

“Kalau misalnya kamu punya pacar, dan ia mengajakmu makan di restoran ini, bagaimana tanggapanmu?”

“Aku akan bertanya kepadanya, dari mana kamu memperoleh uang hingga bisa mengajakmu makan di restoran mahal seperti ini. Jika ia masih mengandalkan uang kiriman orang tuanya, tak selayaknya ia menghamburkan uang demi menyenangkan hatiku.”

“Ah, itu tadi pertanyaan iseng ayah saja. Jangan ditanggapi serius.”

“Dulu waktu pacaran, apa ayah pernah mengajak ibu makan di restoran?”

Enggak pernah. Ayah enggak punya uang. Mengajaknya nonton bioskop saja mesti mikir tujuh kali.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Pertama, ayah enggak punya uang. Kedua, ayah enggak tega mengajaknya ke bioskop jalan kaki. Ayah enggak punya kendaraan.”

“Pacaran macam apa itu?”

Ayah dan anak perempuannya itu tertawa bersama.

Percakapan di atas terjadi setahun yang lalu. Pada tanggal 18 Desember kemarin, anak perempuannya diwisuda bersama 1.489 wisudawan lainnya. Lelaki itu menitikkan air mata haru saat menyaksikan anak perempuannya mengenakan toga naik ke panggung untuk menerima ijazah.

***

“Gus, ini ijazah dan transkip nilai anakku. Kalau ada info lowongan kerja, tolong bisa dimasukkan sebagai kandidat karyawan, ya?”

Saya menganggukkan kepala. Sekilas saya teringat keakraban kami selama masa kuliah dulu, bahkan ia sering mensubsidi jatah makan saya. Meskipun saya tahu, ia juga sama susah secara ekonomi seperti halnya saya.

Share on Facebook