Seni Membaca Buku

Minggu lalu, seorang ayah mengajak anak perempuannya mengunjungi toko buku langganan yang kebetulan beberapa bulan lalu membuka cabang di kota tempat tinggal mereka. Toko buku bukan terletak di sebuah mall, tetapi menempati gedung sendiri yang lumayan keren.

Tempat wisata paling menyenangkan bagi mereka adalah toko buku.

Sejak dini ia memang mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mencintai buku. Dan meskipun gadget selalu di genggaman, membaca buku masih menjadi tradisi mereka. Ia berharap membaca tidak sekedar hobi belaka, tetapi menjadi suatu kebutuhan bagi anak dan cucunya kelak. 

Setelah mereka mendapatkan buku favorit masing-masing, sang ayah menawarkan kepada anak gadisnya menikmati pizza lokal yang ada di cafe lantai dasar toko buku tersebut. Tentu saja sambil membaca.

***

Ia ingat betul pengalamannya ketika masih di SD dulu, yakni tentang pelajaran membaca. Guru bahasa Indonesia selalu menyuruh murid-murid membaca secara bergantian. Bahkan seringkali guru minta murid-muridnya membaca di depan kelas.

Ia akan merasa deg-degan menunggu giliran dipanggil untuk membaca di depan kelas. Waktu itu ia sering kesal kepada pak guru bahasa Indonesia, satu bab dibaca berulang-ulang bersama-sama teman sekelas. Ia sampai hapal betul titik komanya. Kemudian pak guru minta kepada murid-muridnya menceritakan kembali apa yang dibaca tadi.

Ternyata belakangan ia baru mengerti dan memahami faedah membaca yang berulang-ulang tadi. Pak guru bahasa Indonesia bukan hanya mengajarinya membaca saja, tetapi juga seni membaca buku.

Apa itu seni membaca buku?

Membaca bukan sekedar membaca, melainkan juga harus tahu artinya. Pak guru juga mengajari bagaimana membaca dalam hati, bagaimana membaca cepat, bagaimana agar murid-muridnya menjadi orang yang gemar membaca, bukan hanya bisa membaca.

Orang tua sekarang banyak yang salah kaprah mengajari anaknya membaca. Bahkan di usia bawah lima tahun sudah dipaksa untuk bisa membaca. Ada perasaan bangga ketika anak yang belum lulus TK bisa membaca. Setelah itu orang tua tidak membiasakan anak untuk membaca dan mencintai buku.

***

Mereka tenggelam dalam buku bacaan pilihan mereka hingga menjelang waktu asar, alih-alih sibuk dengan gadget-nya masing-masing yang selama ini terlihat di tempat makan.

Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2017. Tanggalkan sejenak telepon pintar dari jemari tangan untuk membaca beberapa lembar halaman buku.

Share on Facebook