30 S

Akhir bulan September, kira-kira tiga puluh empat tahun lalu.

Anak-anak sekolah menyesaki gedung bioskop. Kapasitas gedung tak sebanding dengan jumlah penonton. Membludak. Tak hanya hari itu, bahkan hari sebelum dan setelahnya tetap penuh sesak, sebab anak-anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA diwajibkan menonton sebuah film di gedung bioskop yang terletak di wilayah kota. Bagi murid yang sekolahnya masih di radius perkotaan, mereka akan berjalanan kaki dengan berbaris rapi menuju gedung bioskop.

Saya ingat betul nama gedung bioskop tersebut, yakni Lawu Theatre di Karanganyar, sebuah kota kecil di lereng gunung Lawu, tempat kelahiran saya. Kenapa murid-murid sekolah diwajibkan nonton bioskop pada saat jam belajar? Mereka konon sedang belajar sejarah, dengan nobar film di gedung bioskop. Film yang diputar mengandung pelajaran sejarah bangsa yang terjadi pada tahun 1965. Ya, mereka sedang nobar film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI sebagai film pendidikan dan renungan karya Arifin C. Noer1.

Waktu itu, saya sudah duduk di bangku SMA. Apa yang ditayangkan di film tersebut sedikit-banyak menggambarkan penjelasan di buku sejarah [yang terbit saat itu], mengenai lokasi, nama-nama tokohnya, dan sebagainya misalnya peristiwa di Istana Bogor, Lubang Buaya, nama-nama petinggi negeri, rapat-rapat gelap tokoh-tokoh PKI, dan lain-lain atau adanya istilah Manipol Usdek (Manifesto Politik/Undang-Undang Dasar 1945 Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia) yang dikenalkan oleh guru sejarah. Di film tersebut digambarkan dalam poster tulisan Manipol Usdek bertebaran di tembok dan atap rumah.

Nobar di gedung bioskop itulah untuk pertama kalinya saya menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI. Nanti, saban tahun film tersebut akan ditanyangkan oleh TVRI dan TV swasta hingga berhenti tayang pada Orde Reformasi, ketika rezim Orde Baru tumbang.

Barangkali, anak sekolah zaman itu sudah nonton film itu berkali-kali (sampai bosan) – saya pun demikian, sehingga tidak heran kalau sampai hafal dengan setiap adegan di film itu, seperti suasana rapat-rapat PKI yang dipenuhi asap rokok DN Aidit, adegan Bung Karno yang terbaring lemah di tempat tidur, penembakan dan penculikan jenderal dan sebagainya. Bahkan kalimat “Darah itu warnanya merah, Jenderal!” masih saja teringat hingga kini.

Informasi yang dulu tersimpan rapat, kini terkuak lebar ketika orang bebas berpendapat dan mudahkan akses mendapatkan informasi. Ada banyak tafsir mengenai peristiwa kelam tanggal 30 September 1965 yang lalu, tak melulu dari buku pelajaran sekolah dan film Pengkhianatan G30S/PKI. Siapa pun (bisa) menuliskan sebuah peristiwa menurut versinya masing-masing2.

Terserah kita bagaimana menyikapinya. Saya sih ndak percaya kalau PKI sudah bangkit dari kuburnya. Kalau pun bangkit ya gebug saja. Gitu aja kok repot.

Catatan kaki:
1Sebetulnya tak hanya film Pengkhianatan G30S/PKI saja murid-murid sekolah zaman itu diwajibkan nobar di saat jam sekolah. Film-film perjuangan seperti Janur Kuning juga wajib ditonton. Untuk Janur Kuning, ada tokoh yang diidolakan anak-anak sekolah waktu itu siapa lagi kalau bukan Temon.
2Silakan datang ke toko buku atau browsing di internet, ada banyak informasi yang menguak peristiwa kelam tersebut.

Share on Facebook