Kula nuwun, Kanjeng Nabi

Sebelum kamu mengunjunginya, Mekkah akan selalu menantimu. Ketika kamu meninggalkannya, Mekkah akan selalu memanggilmu kembali.

Mas Suryat mendapati selembar brosur penawaran berangkat umrah terselip di pagar rumahnya ketika ia pulang kantor. Musim haji belum juga selesai, sebab ada beberapa kloter jamaah haji Indonesia yang belum semuanya pulang ke Tanah Air. Dan travel umrah mulai gencar mempromosikan aneka paket umrah.

Ia membaca sepintas brosur tersebut dan membawanya ke dalam rumah, lalu ia taruh di tumpukan surat-surat di samping meja tamu. Kapan-kapan akan dibacanya kembali. Kemudian ia sempat melupakan brosur tersebut.

***

Pada suatu malam, ia mendapatkan kabar kalau sahabatnya baru saja pulang dari ibadah haji. Esoknya, ia berkunjung ke sana untuk ngalap berkah haji baru.

Benar saja, ia mendapatkan seteguk-dua air zamzam yang diambil langsung dari galon yang berada Masjidil Haram oleh sahabatnya itu. Ia mendapatkan cerita bagaimana bisa membawa beberapa botol air zamzam yang hanya ditaruh di tas tenteng miliknya. Semua atas izin Gusti Allah, tentu saja.

Banyak kisah menarik yang diceritakan sahabatnya selama berada di Tanah Haram. Mas Suryat menyimak dengan tekun, sesekali bertanya. Mas Suryat merasa Mekkah memanggilnya untuk pergi ke sana.

Sejak saat itu, Mas Suryat rindu pergi ke Mekkah (lagi). Dan ia teringat brosur travel umroh yang sempat ia simpan.

***

Hari ini pesawat SV 817 mendarat dengan mulus di Bandara Jeddah. Waktu menunjukkan jam 02.00 KSA. Seperti yang sudah-sudah, urusan imigrasi akan berjalan lama, sekitar 3 jam.

Setelah shalat subuh, rombongan Mas Suryat dibawa bus menuju Madinah. Perjalanan Jeddah-Madinah kurang lebih 5 jam. Sesuai dengan janji biro travel, bus yang dipakai masih kinyis-kinyis ditandai dengan kursi-kursi penumpang yang masih ditutup plastik.

Rombongan sampai di Madinah menjelang waktu lohor. Setelah drop hotel, pada menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat dzuhur. Posisi hotel tempat menginap berada di samping kanan Masjid Nabawi, sehingga kalau Mas Suryat memasuki halaman masjid akan lebih dekat dari Pintu No. 7. Dari posisi ini nampak dengan jelas Kubah Hijau.

Sebagai tamu yang baik, Mas Suryat tak lupa untuk kula nuwun dulu kepada Kanjeng Nabi.

Share on Facebook