Ngantuk berat

Saya bergegas mencari taksi yang kebetulan banyak lewat atau berhenti di depan hotel. Tujuan saya menuju Jabal Rahmah РArafah. Saya berkomunikasi dengan sopir taksi dengan campuran sedikit bahasa Inggris РIndonesia РArab, lebih banyak bahasa Tarzan-nya.

Masya Allah – dua kata ini yang sering terucap dari mulutnya disertai dengan membuka tangan. Selain menjadi sopir, kali ini ia merangkap menjadi guide bagi saya. Ia berasal dari Yaman, sudah 13 tahun tinggal di Mekkah dan Jeddah.

Dari Hadramaut, tepatnya. Saya bilang di Indonesia para habaib juga dari Hadramaut. Kemudian ia menyebut nama-nama habaib terkenal di Indonesia. Masya Allah. Ketika saya tanya apakah pernah ke Jakarta, ia bilang belum pernah ke Indonesia.

Saat mobil berhenti di lampu merah, ia memberitahu berbagai arah dengan menunjuk papan petunjuk arah: nanti kita putar arah lalu ke kiri, itulah jalan menuju Arafah.

Berikutnya ia bertanya kepada saya mengapa pergi ke Arafah sendirian saja, mana rombongan yang lain. Orang Indonesia biasanya naik bus kalau pergi ke Arafah.

Saya ketinggalan bus, Bro!

Karena saat itu saya sedang batuk-batuk saya mengkonsumsi obat batuk. Obat yang saya beli di apotik yang tak jauh dari hotel itu telah membikin saya ngantuk berat. Saya ketiduran di lobi hotel, sementara rombongan sudah masuk ke dalam bus dan pak sopir sepertinya langsung tancap gas.

***

Hari terakhir di Mekkah ditutup dengan tawaf wada. Saya sudah melakukan tawaf jam 10.30. Jam 14.00 saya sudah masuk bus yang akan membawa ke Jeddah. Kegiatan saya tidur saja, apalagi masih menunggu beberapa teman yang masih melakukan tawaf wada.

Paspor dan tiket telah dibagikan di dalam bus. Harapan saya cuma satu segera sampai ke Bandara King Abdul Aziz, dan terbang ke Jakarta. Padahal kalau lihat boarding pass, pesawat akan berangkat jam 05.00 keesokan harinya. Kira-kira masih 24 jam lebih.

Kami sampai di Pasar Balad Jeddah pas berkumandang azan maghrib. Antara sadar dan tidak saya turun dari bus, lalu menyeberang jalan menuju gedung Corniche untuk mencari toilet. Setelah putar-putar dan naik ke lantai atas, saya menemukan toilet.

Setelah itu mencari teh panas. Rupanya minum teh panas tak mampu mengusir rasa kantuk saya. Sungguh tak nyaman dalam situasi “setengah mabuk” seperti itu.

Sekitar jam 10 atau 11 malam, kami memasuki bandara. Tumben, prosesi di loket imigrasi berjalan sangat cepat. Lebih mengherankan lagi, air dalam kemasan yang saya letakkan di tas tenteng “lolos” pemeriksaan, termasuk air zamzam.

Sambil menunggu waktu boarding – yang masih sekitar 3 atau 4 jam, saya mencari posisi wenak untuk tidur. Bahkan nanti ketika di pesawat, saya lebih banyak tidur, bahkan saat pesawat take off saya tidak menyadari, tahu-tahu pramugari membangunkan saya untuk sarapan.

Sepanjang perjalanan Jeddah-Jakarta saya lebih banyak memejamkan mata. Tanpa mimpi. Pengumuman pramugari supaya penumpang tetap duduk di kursi sampai pesawat berhenti dengan sempurna telah membangunkan tidur panjang saya.

Share on Facebook