Rasa legi, rasa kecut

Minggu Legi, 17 Desember 2017

Akhirnya jadi juga mengunjungi Pasar Legi Kotagede pada pasaran Legi. Waktu tempuh dari SBR (yang jadi basecamp selama di JOG) hanya 10 menitan. Saya melalui Jl. Tegalgendu-Mondorakan, tetapi belum juga sampai di ujung jalan pasar, Kyai Garuda Seta yang saya kendarai diminta untuk putar balik oleh Mas Jukir, karena memang tidak bisa/boleh lewat di hari pasaran seperti itu.

Kemudian saya masuk melalui Jl. Kemasan yang legendaris itu dan diarahkan oleh Mas Jukir supaya parkir di Jl. Karanglo. 

Kami mengelilingi pasar untuk menikmati berbagai macam etalase pedagang: anak ayam yang bulunya dengan aneka warna, obat gatal, senjata tajam semacam arit berbagai model dan pisau dapur, lem super lengket untuk menempelkan material yang terbelah (seperti ember atau sandal jepit, bahkan untuk menempelkan dua material yang berbeda = potongan sandal jepit ditempelkan pada sebuah batu) dan masih banyak lagi. Tentu saja, lebih dari dua pelantang dari lapak para pedagang telah membikin semarak suasana pasar.

Setelah puas berkeliling, kami masuk pasar untuk membeli jajanan pasar khas JOG buat sarapan, karena destinasi kami berikutnya pergi ke Tebing Breksi yang lokasinya tak jauh dari Candi Ijo Desa Sambirejo Prambanan. Waktu tempuh menuju Tebing Breksi dari Pasar Legi sekitar 30 menit.

Dari atas tebing, kita bisa menyaksikan sebuah lansekap yang eksotis. Jika mata jeli, di kejauhan kita dapat melihat Bandara JOG atau Candi Prambanan dan beberapa candi berlatar belakang Gunung Merapi.

***

Sabtu Kliwon, 16 Desember 2017

Karena Lila dan ibunya libur duluan maka saya mengantarkan mereka ke JOG, dengan membawa 4 kucing kami. Karena sudah beberapa kali membawa kucing dalam perjalanan panjang, maka selama perjalanan tidak perlu repot mengurus kucing. Toh, sepanjang perjalanan mereka lebih banyak tidur karena tidak mau makan.

Karena tujuan ke JOG, saya mesti cari jalan alternatif dari Jalan Pantura menuju arah selatan. Jika dibandingkan antara jalur utara dan selatan, saya lebih suka lewat jalur utara. Selain ada tol sampai Brebes Timur, jalan negara yang ada sudah menggunakan empat lajur. Pilihan tempat istirahat di jalur utara juga lebih banyak.

Jalan alternatif untuk menuju selatan, saya memilih jalur Kaliwungu – Sumowono, baru nanti ke Secang – JOG.

Senin Pahing, 18 Desember 2017 sekitar jam 06.50 WIB saya sudah berada di kabin Nyai Pikan untuk perjalanan Jakarta – Karawang.

Nanti, setelah menempuh perjalanan 2.5 jam dan sampai di kantor, saya mesti kembali melakukan perjalanan ke Jakarta. Melihat padatnya lalu-lintas tol Japek yang nggilani seperti itu, bikin hati kecut.

Share on Facebook