Werkudara bungkus

Perut Kunti mengandung anak ke dua, perkawinannya dengan Pandu. Usia kandungan sudah melewati masa sembilan bulan. Prediksi Kunti, anaknya itu akan lahir tak lama lagi.

Pandu yang kondisi fisiknya semakin hari semakin lemah merasa bersalah, sebab ia tak mungkin menjadi suami siaga level sempurna. Ia hanya bisa menghibur istrinya, dan ia berusaha selalu berada di sisinya.

Pada suatu malam, Kunti mengeluh sakit perut yang hebat. Tetapi kesakitan yang tidak terlalu lama, sebab dari rahimnya telah lahir seorang anak. Pandu dan Kunti tertegun menyaksikan prosesi kelahiran jabang bayi yang sangat aneh. Jabang bayi itu masih berbungkus tembuni. Seharusnya tembuni itu berada di luar tubuh bayi, tetapi ini malah membungkus tubuh si jabang bayi. Tembuni itu menutup sangat rapat, sehingga tak ada celah untuk membukanya.

Pandu sangat sedih: apa ada yang salah dengan perbuatanku di masa lalu, sehingga kelahiran anakku dengan keadaan seperti ini?

Tembuni atau plasenta itu berperan sebagai penangkal dari semua zat-zat di luar tubuh yang membahayakan si jabang bayi. Tembuni juga sangat penting artinya bagi kehamilan dan tetap akan penting sampai kelahiran si jabang bayi. Pada waktunya nanti, ketika rahim mengecil setelah bayi lahir, tembuni akan terlepas dari rahim dan lahir dengan sendirinya. Dan itu tidak terjadi pada kelahiran anak kedua Pandu dan Kunti.

Pandu bersemedi  untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Baru hari kelima ia mendapatkan wangsit untuk mengasingkan bungkusan tembuni itu ke dalam hutan. Pandu mengikuti bisikan wangsit, karena ia merasa bahwa itu jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan bayinya.

Dengan dikawal oleh anak-anak Destarastra – Raja Hastina, bayi terbungkus tembuni itu dibawa ke tengah hutan Minangsraya. Destarastra adalah adik kandung Pandu, ayah para Kurawa.

Berhari-hari anak-anak Destarastra menunggui si jabang bayi dalam tembuni itu, di antaranya Duryodana, Harya Suman, Dursasana, Durmagati dan si kembar Citraksa-Citraksi. Mereka sangat heran dengan perkembangannya. Bungkusan itu semakin hari semakin besar wujudnya.

Harya Suman menghasut Duryodana untuk menghancurkan bungkusan tembuni. Dalam perkiraannya, di dalam bungkusan tembuni terdapat seorang anak manusia yang kelak berpotensi merebut tahta Hastina dari Destarastra, padahal Duryodana sebagai putra mahkotanya. Duryodana  pun terhasut oleh siasat licik Harya Suman. Lalu, anak-anak Kurawa menghunus senjatanya masing-masing dan menusukkan ke bungkusan tembuni.

Aneh bin ajaib. Kulit tembuni tidak terkoyak. Mereka semakinpenasaran karena berbagai senjata mereka menjadi rusak dan patah. Mereka mencoba menumbangkan pohon besar ke arah bungkusan tembuni, tetapi malah pohon itu yang hancur berkeping-keping.

Mereka putus asa, dan serta merta meninggalkan bungkusan itu di tengah hutan, sementara mereka kembali ke istana dan melaporkan bahwa bungkusan tembuni telah dimakan harimau.

Tembuni itupun menggelinding menuju tempat yang aman. Tidak terasa tujuh tahun sudah si jabang bayi berada di dalam tembuni. Dan tidak ada seorang pun tahu apa yang terjadi di dalam tembuni, kecuali si jabang bayi dan Bathara Bayu. Ya, sejak ditinggalkan sendiri di tengah hutan, si jabang bayi didatangi Bathara Bayu yang menempanya menjadi manusia yang kuat.

Jabang bayi itu diberi nama Werkudara. Saban hari, manusia berujud jabang bayi hingga ia berumur tujuh atau delapan tahun digembleng oleh Bathara Bayu. Ia menjadi anak yang sangat kuat.

“Anakku, aku merasa kamu sudah saatnya keluar dari tembuni ini. Pelajaran apa yang kamu dapatkan dariku, ngger?” ujar Bathara Bayu kepada Werkudara.

Maka, Werkudara pun menjawab pertanyaan gurunya dengan sangat lancar dan fasih. Ia telah lulus dari gemblengan.

Gelang Minangkara Cinandi Rengga Endhek Ngarep Dhuwur Mburi, selalu waspada terhadap diri pribadi sebagai hamba yang harus pasrah dan berbakti kepada Yang Maha Kuasa. Pupuk Mas Rineka Jarot Asem, mempunyai watak dan budi pekerti luhur dengan selalu mengasah kebenaran dan pengetahuanku, karena aku sudah diambil putra oleh Batara Bayu. Sumping Pundhak Sinumpet, aku selalu menguasai ilmu kesempurnaan hidup, hakikat dan makrifat, tetapi tidak menyombongkan diri. Anting-anting Panunggal Sotya Manik Banyu, berarti sudah waskita, sudah paham sebelum diajari dan tidak pernah kuatir terhadap segala apa yang akan terjadi. Kalung Nagabanda, bermakna satria gagah perkasa dan prajurit sejati, lebih baik mati daripada berkhianat.”

“Ada lagi, anakku?” tanya Bathara Bayu.

“Masih, guru. Kelat Bahu Blebar Manggis kang Binelah, bermakna berhati emas, suci lahir batin. Aku tidak mau berjanji kalau tidak ada buktinya. Gelang Candra Kirana, selalu mengarahkan agar ilmu pengetahuanku terang benderang seperti bulan purnama bercahaya sempurna. Kampuh Pancawarna Poleng bang Bintulu Abang Ireng Kuning Putih miwah Wilis, bermakna dalam hidupku mampu mengendalikan panca indera terhadap godaan nafsu dan menjaga keharmonisan alam. Sabuk Cindhe Wilis Kembar Beranipun kang Binelah Numpang Wentis Kanan Kering, berarti bisa konsentrasi dalam bermeditasi. Bahasa gampangnya khusyu’, hati dan pikiran menyatu. Terakhir, Porong Nagaraja Mungwing Dhengkul, bermakna memegang kebenaran dan memantapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan tetap membuka diri dari kritik dan pendapat orang lain.”

Tembuni pun terbelah. Werkudara segera keluar dan pulang menuju Kunti.

Share on Facebook