Warsito yang Bersahaja itu …

Rubrik Tamu Kita Majalah UMMI No. 10/XIX Pebruari 2008, dengan judul DR. Warsito Peneliti Kelas Dunia yang Pantang Menyerah, membuat saya terhenyak ketika membaca sampai di paragraf : untuk teknologi yang disebut-sebut banyak kalangan sepantasnya mendapat Hadiah Nobel ini, Warsito menghabiskan waktu bertahun-tahun dimulai sejak lelaki kelahiran Karanganyar, 15 Mei 1967 ini, menjalani studi S1 Teknik Kimia  awal 90-an di Universitas Shizuoka, Jepang. Warsito, Karanganyar dan Jepang, ketiga kata inilah yang “menyetrum” fikiran saya. Saya merasa kenal dekat dekat nama tersebut : Warsito, ya..hanya Warsito saja. Ketika SMA saya mempunyai teman namanya Warsito, anak desa yang sangat bersahaja (rumahnya di lereng G. Lawu, cukup jauh dari sekolah) tetapi mempunyai otak professor. Kami, teman sekelasnya biasa menyebut dia “professor” selain professor satunya lagi. Namanya Mujiyono, sekarang jadi dokter yang mumpuni. Lanjut baca…

Share on Facebook

Orang Pintar, Baca NGI

Saya begitu tertarik untuk membaca National Geographic Indonesia (NGI) sejak edisi perdana April 2005 dengan judul cover Orang Kerdil dari Dunia yang Hilang. Sampai dengan terbitan ke 6, saya masih kesulitan memahami bahasanya, hal ini bisa jadi karena saat menerjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, “roh” naskah asli tidak disertakan dalam edisi terjemahan. NGI seperti selalu memperbaiki hal ini, buktinya sekarang ini NGI enak dibaca, tidak perlu mengerutkan jidat saya lagi. Apalagi, warna Nusantara selalu ada di setiap penerbitannya.

Foto-foto yang ditampilkan NGI sungguh indah dan bagus, sebagai karya fotografer yang berpengalaman. Dan foto itu berbicara lebih banyak dari pada narasi yang disertakan. Saya sering dibuat takjub melihat foto-fotonya. Tuhan sungguh maha kreatif menciptakan alam semesta ini. Pemandangan alam di gurun, di hamparan gunung es, di hutan, di kedalaman lautan, di cakrawala nan luas bisa kita lihat di setiap penerbitan NGI. Angka Rp 50.000 jadi tidak berarti apa-apa. Lanjut baca…

Share on Facebook

Kalawarti Panjebar Semangat

Kalawarti (bahasa Jawa, yang berarti majalah) Panjebar Semangat, pada September 2008 ini telah berumur 75 tahun. Lumayan tua untuk ukuran sebuah penerbitan. Kalawarti ini familiar disebut dengan PS saja. Saya mengenal PS ini sejak SD dulu. Saya rajin membaca PS karena mbah Kakung saya yang seorang pensiunan berlangganan PS. Rubrik favorit saya di antaranya Cerkak (Cerita Cekak = Cerita Pendek), Alaming Lelembut dan CPPS (Cangkringan Prapatan PS, semacam TTS). Kalau mbah Kakung masih membaca PS tersebut, dengan sabar saya menunggu sampai dia selesai membaca. Sampai SMA membaca PS masih nebeng pada mbah Kakung.

Saya suka menyelesaikan menjawab CPPS dengan dibantu mbah Kakung. Karena tiap minggu selalu mengisi CPPS (tetapi saya tidak pernah mengirimkan jawaban ke redaksi PS meskipun untuk sekedar mendapatkan hadiah), iseng-iseng saya membuat naskah CPPS. Dan ternyata dimuat! Saya senang bukan main. Saat itu saya klas 2 SMA. Honor yang saya terima Rp 3.000,-. Jaman sekolah dulu, murid yang dapat wesel ditulis di papan depan kantor TU. Naskah CPPS pertama dimuat di PS Nomor 29 tahun 1985 kemudian secara rutin saya mengirim naskah CPPS, terakhir dimuat di PS Nomor 23 tahun 1993. Karena kesibukan saya bekerja, tidak sempat lagi membuat naskah CPPS. Lanjut baca…

Share on Facebook