Meneladani Diponegoro

Dalam humor-humor yang sering kita dengar ada pertanyaan semacam ini : kapan perang Diponegoro terjadi? Jawabnya : di saat maghrib, karena terjadi pada 18.25 – 18.30. Kalau Anda ingin mengetahui siapa itu Pangeran Diponegoro yang nama mudanya Ontowiryo ini, silakan membaca novel Pangeran Diponegoro karangan Remy Sylado, jilid 1 dengan judul “Menggagas Ratu Adil” dan jilid 2 dengan judul “Menuju Sosok Khalifah”. Jarak terbit kedua buku ini sekitar 4 bulan, mestinya jilid 3 sudah terbit, karena saya menunggu cerita berikutnya.

Diponegoro memang sosok pahlawan sejati. Dia pernah berucap, di usia 40 akan membebaskan bumi-Nya dari angkara dari belenggu angkara. Perang Diponegoro (atau Perang Jawa) yang terjadi pada tahun 1825 – 1830 sangat dahsyat kejadiannya. Sekitar lima belas ribu serdadu Belanda tewas dalam perang ini, sementara sekitar dua ratus ribu orang Jawa pun menjadi korban perang yang sangat ganas ini. Kas VOC terkuras hingga 25 juta gulden Belanda. 

Saya tuliskan kata-kata Diponegoro dalam buku “Menuju Sosok Khalifah” hal. 426 : 

“Dalam hal ini, saya ingatkan Saudara-saudara, bahwa kita, sebagai bangsa yang taat kepada Allah – tidak seperti Smissaert kafir yang hanya bisa berpesta-pora dan mabuk-mabukan di Bedoyo – haruslah kita berdiri di tanahair yang dikaruniakan Allah kepada kita dengan sikap sejati manusia beriman, dengan mengingat teladan yang diiktibarkan nabi besar kita Muhammad yaitu empat dasar kepemimpinan menuju jihad, yang insya Allah akan sanggup saya miliki : 

Satu, shidiq, bertindak benar berdasarkan kaidah hukum dan peraturan. 
Dua, amanah, berlaku jujur dalam menasrulkan kekayaan negara di atas tanahair. 
Tiga, tabligh, tegar dan berani membasmi angkara. 
Empat, fathonah, cerdas dalam melepas diri dari segala rintangan kesulitan.” 

Para calon pemimpin yang saat ini sedang berlomba-lomba berebut kursi di 2009 sudah pada meneladani Diponegoro tidak ya? 

Share on Facebook

Sihir Laskar Pelangi

Sejak film Laskar Pelangi diputar pertama kali di layar lebar, baru Minggu 12/10/08 kemarin mendapatkan kesempatan nonton. Mudik lebaran ke Solo kemarin, bolak-balik ke Grand 21 tidak dapat tiket. Saat main ke Djogja, demikian juga. Di Ambarukma Mall, juga full. Di Metmal 21 Bekasi dan di Lippo 21 Cikarang, sama saja, antri karcis mengular, itupun untuk nonton bukan di jam saat antri itu. Akhirnya, berkesempatan nonton di Ciwalk XXI, Bandung, meski mendapatkan kursi deretan kedua dari depan layar.

Seperti orang lain, saya pun menitikkan air mata sejak film diputar. Gila bener tuh si Riri Riza dan Mira Lesmana, bikin film bagus banget begitu. Masih pengin lihat lagi. Entah kapan. Masih terngiang-ngiang nasehat pak Harfan : “Hiduplah untuk memberi yang sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya” kira-kira begitu isi nasehatnya. Adegan-adegan lucu mengingatkan masa kecil, seperti ketika Mahar menjemur battery. Ah.. itu seperti yang dilakukan oleh mbah Kakungku, ketika radio Phillipsnya mulai bunyi “soak”. Atau ketika si Ikal jatuh cinta sama A Ling. Eh, untuk tokoh Ikal ini ada sedikit kritik buat Riri Riza. Ikal kecil punya tahi lalat di bawah mata kiri, tapi begitu dewasa (diperankan oleh Lukman Sardi) kok tahi lalatnya hilang. Dioperasi kali ya…he..he..

Tidak tanggung-tanggung, presiden kita pun menyaksikan film tersebut, juga terharu katanya. Kita tunggu, ada perubahan kebijakan atau tidak terhadap pendidikan nasional kita. Mudah-mudahan saja.

Saya ingat, kira-kira dua tahun lalu saya menyaksikan film Denias, anak pedalaman Papua yang ingin menikmati pendidikan yang “layak”. Ini juga film yang bagus, tapi rasanya belum menyentuh hati para pembuat kebijakan di bidang pendidikan. Sampai saat ini masih kita rasakan biaya sekolah masih mahal, gedung-gedung sekolah negeri hampir roboh (kalau saya tidak salah ingat, terakhir pemerintah membangun gedung-gedung SD masih rezim orde baru dengan Program SD Inpres-nya) dan wajib belajar 9 tahun terabaikan.

Kembali ke film Laskar Pelangi. Baik buku maupun filmnya, rasanya masih menyihir saya. Nyatanya, sekarang ini saya mengulang membaca buku Laskar Pelangi untuk kali ketiga (buku Sang Pemimpi dan Edensor, baru sekali saya baca), ring tone ponsel saya pun terinstall lagu “Seroja” yang dinyanyikan oleh Veris “Mahar” Yamarno. Sungguh mendayu-dayu, indahnya jatuh cinta.

Share on Facebook

Pelangi di Atas Gelagahwangi

Buku Pelangi di Atas Gelagahwangi (PAG) ini saya dapatkan ketika main ke Gramedia Solo Square. Pengarangnya S. Tidjab. Siapa sih yang tidak kenal nama ini. Dulu di era 80an namanya berkibar seluruh nusantara, melalui karya sandiwara radio yang spektakuler seperti “Tutur Tinular” dan “Mahkota Mayangkara” yang mengudara di radio-radio Indonesia.

Kaget juga, ketika lihat sampul bukunya. Kok S. Tidjab membuat novel, soalnya setahu saya dia piawai banget bikin naskah drama radio. Ternyata, PAG ini sebelumnya pernah mengudara sebagai sandiwara radio di tahun 2007. Saya tidak tahu ada sandiwara radio PAG, maklum jarang mendengarkan radio selain i-Radio, Trijaya atau Elshinta, di mana ketiga radio ini tidak ada program sandiwara radionya. Itu pun saya nikmati ketika berangkat dan pulang kantor. Jadi, buku PAG ini versi novelnya. Lanjut baca…

Share on Facebook