Perlu Sumur Resapan Air Hujan

Air merupakan salah satu sumberdaya yang sangat penting bagi kehidupan manusia,terlebih bagi bangsa Indonesia yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi. Masalah kebutuhan akan air tak terlepas dari kebutuhan akan tempat tinggal, di mana untuk mendapatkan tempat tinggal harus membuka lahan-lahan berupa hutan. Dampak yang ditimbulkan antara lain terganggunya siklus hidrologi di wilayah tersebut.

Jika siklus hidrologi berlangsung tanpa campur tangan manusia maka ia akan berjalan teratur. Dan apabila manusia mulai mengganggu, maka akan mengganggu keberlangsungan siklus tersebut. Contoh kasus misalnya dibangunnya areal permukiman di atas lahan yang cukup luas. Akibat pembangunan pemukiman di atas lahan ini akan mengurangi areal peresapan air hujan ke dalam tanah. Sementara penyerapan air tanah berlangsung terus dengan intensitas yang semakin besar maka akan terjadi penurunan timbungan air tanah. Lanjut baca…

Share on Facebook

Konservasi Tanah dan Air dengan Metode Vegetatif

Bulan Januari silam, Presiden Soeharto mencanangkan tahun 1993 sebagai Tahun Lingkungan Hidup dan Gerakan Satu Juta Pohon. Ini merupakan gerakan untuk menanam minimal satu juta pohon di setiap propinsi.

Kegiatan tersebut sangat penting terutama dalam usaha konservasi tanah dan air. Sehingga musibah longsor lahan seperti terjadi di beberapa propinsi beberapa waktu lalu tidak akan terulang lagi untuk masa yang akan datang. Salah satu lahan yang perlu mendapat perhatian kita adalah tanah kritis, di mana tanah semacam ini hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia terutama di daerah rural (pedesaan). Lanjut baca…

Share on Facebook

Pentas Teater: Penontonnya Sudah Terseleksi

Setelah lakon Sampek Engtay dibredel, kemudian diikuti pula secara berturut-turut dengan pelarangan pementasan Suksesi, pentas si Burung Merak, dan terakhir Opera Kecoa (TEMPO, 8 Desember 1990, Teater), alasan pelarangannya bermacam-macam, dari yang mengandung unsur SARA sampai dapat mengganggu stabilitas masyarakat.

Yang jelas, saya belum pernah mendengar ada pementasan teater yang menyebabkan penonton berbuat “brutal”. Hal itu justru terjadi pada pertandingan sepak bola atau pementasan rock, yang sering membuat penonton bertindak brutal sampai merusak stadion.

Saya kira penonton pentas seni – dalam hal ini pentas teater – sudah terseleksi. Hanya golongan tertentu yang menyenangi teater. Contohnya Teater Gandrik Yogyakarta. Setiap kali pentas, penontonnya membludak dan kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa. Sambil duduk lesehan mereka menonton lakon yang dipentaskan. Tertawa bila sang tokoh ndagel. Bertepuk tangan jika kritikan mengena sasaran. Setelah pertunjukan selesai, mereka tertib pulang ke rumah masing-masing.

Itu Teater Gandrik, yang harga karcisnya sesuai dengan kantung mahasiswa kos. Tentu lain dengan Teater Koma. Penonton Teater Koma adalah kalangan menengah ke atas. Mereka sudah tidak sempat lagi memikirkan lakon di pentas tadi. Betapa pun telanjangnya kritik dilontarkan, penonton kelas ini tak akan mudah “terbakar” (TEMPO, 20 Oktober 1990, Laporan Utama)

Untuk Bung Nano dan Bung Rendra, silakan Anda menangis sepuasnya, sebelum seorang penyair dilarang menangis.

Majalah TEMPO, 29 Desember 1990 dalam rubrik Surat

 

 

 

 

Share on Facebook