Banyak petunjuk jalan ke Danau Cipule Karawang

Danau Cipule Karawang, Venue Dayung SEAG XXVI yang saya publikasikan tanggal 10 Nopember 2011 sampai hari ini setidaknya sudah diklik >1.230 kali. Kata kunci yang sering diketik di mesin pencari untuk sampai di artikel Danau Cipule Karawang, Venue Dayung SEAG XXVI tersebut antara lain ‘danau cipule’, ‘cipule karawang’ atawa hanya ‘cipule saja’. Saya tidak tahu persis informasi apa yang ingin mereka cari dengan mengetikkan kata kunci tersebut. Saya hanya menduga, mereka ingin tahu di mana Danau Cipule Karawang itu berada. Lanjut baca…

Share on Facebook

Danau Cipule Karawang, Venue Dayung SEAG XXVI

Warga Karawang boleh bangga. Danau Cipule yang berlokasi di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang  dijadikan venue dayung dalam SEA Games XXVI. Beberapa hari ini, banyak pihak yang sibuk dengan persiapan venue ini. Mulai memuluskan jalan menuju ke Cipule, sampai pemasangan umbul-umbul dan spanduk di titik-titik tikungan jalan menuju Cipule.

Kemarin pagi, saya memerhatikan ada dua orang petugas memasang spanduk penunjuk arah ke lokasi Cipule. Mereka saling berdebat di mana harus memasang spanduk itu. Kalau dipasang di sisi kiri jalan, spanduk itu tidak akan terlihat, bisa membuat bingung orang yang akan menuju Cipule. Jika dipasang di sisi kanan jalan, arah panah dalam spanduk akan menunjuk ke arah kanan, padahal lokasi Cipule menuju ke arah kiri.

Apa akal? Akhirnya, mereka memasang spanduk itu pun secara terbalik: tulisan Cipule terbalik, arah panah pun benar menunjuk ke kiri.

SEAG XXVI ini acara internasional Bung! Kira-kira apa yang ada di benak para atlet dan official negara lain ketika memandang spanduk aneh ini ya? Ssstt… Pak Menteri kemarin juga nggak lihat spanduk itu kok… Lanjut baca…

Share on Facebook

Pembantaian di Rawagede Karawang, 1947

Rawagede, selasa pagi tanggal 9 Desember 1947

Pagi itu suasana desa dalam keadaan sepi. Semalaman hingga subuh hujan turun, membuat warga desa masih bermalas-malasan turun ke sawah dan tegalannya. Jalanan di desa itu becek dan berlumpur karena hujan tiada henti. Matahari belum juga terbit di ufuk timur, ketika terdengar rentetan tembakan yang memecah kesunyian desa itu. Para penduduk segera keluar rumahnya masing-masing untuk mengetahui apa yang terjadi di desa mereka.

Betapa terkejutnya para penduduk desa itu ketika menyadari bahwa mereka telah dikepung oleh Batalyon III dari Resimen Infanteri IX tentara Belanda yang dipimpin oleh Mayor Wijman. Tujuan pasukan mengepung Desa Rawagede Karawang tak lain adalah ingin menangkap Kapten Lukas Kustarjo, pejuang kemerdekaan RI yang diduga oleh Belanda bersembunyi di Desa Rawagede. Lanjut baca…

Share on Facebook