Gita Cinta-Rangga Dari SMA

Dalam sejarah perfilman Indonesia, ada dua film kategori remaja yang menyedot banyak perhatian penonton yakni Gita Cinta Dari SMA (GCDS) dan Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Jika diukur dengan periode umur saya, kedua film tersebut salah mangsa (salah waktu). Kok bisa?

Film GCDS yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman tersebut diproduksi tahun 1979. Pada tahun 1979 saya masih kelas 5 SD, usia yang masih piyik untuk memahami kisah cinta remaja usia SMA. Kelak, saya akan menyaksikan GCDS saat diputar di TVRI beberapa tahun setelah film tersebut booming, sehingga terkesan menyaksikan film jadul.

Pada tahun 2002 lahir sebuah film remaja-romantis karya Rudi Soedjarwo yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo, judulnya AADC. Lagi-lagi salah mangsa, sebab pada tahun tersebut, jelas sekali saya ndak remaja lagi. Sudah tuwir. Lanjut baca…

Share on Facebook

Cara menyegarkan fikiran

Jadwal diklat kali ini cukup padat. Kelas dibuka jam 7.30 dan akan berakhir jam 21.00 WIB. Meskipun akses internet sangat mudah didapatkan, main ponsel selama kelas berlangsung rasanya tidak sempat, sehingga mau tidak mau sekedar membaca email atau memantau pekerjaan kantor yang saya tinggalkan nanti dilakukan pada saat istirahat makan siang atau makan malam.

Karena peserta diklat dari berbagai wilayah di Indonesia, cara mereka menyegarkan fikiran di malam hari sehabis jadwal diklat bermacam-macam. Lokasi diklat memang sangat strategis, ada di jantung Jakarta. Mau ke arah mana pun mudah untuk mendapatkan hiburan untuk menyegarkan fikiran.

Kebetulan di depan tempat diklat ada sebuah mal. Tinggal menyeberang melalui jembatan penyeberangan busway. Di sana saya mencari hiburan untuk menyegarkan fikiran: nonton bioskop. Dua malam berturut-turut saya menyaksikan film yang berbeda. Jika gedung bioskop tersebut mempunyai lima studio, bisa jadi kelimanya saya masuki semua. Lanjut baca…

Share on Facebook

Majalah terakhir

Persis sudah dua bulan ini saya tak berlangganan media massa cetak. Alasan utamanya karena tak sempat lagi membacanya secara keseluruhan. Zaman dulu kebiasaan saya dalam membaca media massa tak hanya judulnya atau sub judul tetapi semua isi. Belakangan saya baca sepintas judulnya saja dan beberapa artikel saya lewati begitu saja.

Ketika marak media online, media massa yang menjadi langganan saya teronggok di atas meja konsul pojokan ruang tamu. Lanjut baca…

Share on Facebook