Rindu Partai Keadilan tanpa Sejahtera

Walau bukan anggota atau pengurus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya memiliki ikatan batin dengan partai ini. Sejumlah pendiri partai ini (awalnya Partai Keadilan/PK) adalah guru-guru saya di Ma’had Al Ishlah (Perguruan Islam), Pondok Aren, Tangerang, pada era 1990-an. Sebuah ma’had kecil dengan belasan murid saja. Saya bangga, guru-guru saya yang dulu mengajar tanpa pamrih dan sederhana kini masuk jajaran elite politik di negeri ini.

Sejak awal PK dideklarasikan, saya menyambut dengan antusias karena saya mengenal orang-orang di belakang partai ini. Saya ikut mempromosikan partai ini. Sejumlah pertanyaan dilontarkan teman dan kerabat saya. Partai apa ini? Siapa tokohnya? Dari mana dananya?

Agak sulit menjawab pertanyaan mereka. Maklum, secara umum, saat itu partai Islam selalu identik dengan ormas Islam. Sementara PK dibangun para aktivis yang berdakwah nyaris tanpa bendera ormas apa pun. Tokoh-tokohnya hanya dikenal di kalangan lingkungan aktivis Islam dan simpatisannya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Putri Solo dan Mas Joko

Sebagai lelaki tulen yang berasal dari trah Solo, Mas Joko punya klangenan khas yakni: leyeh-leyeh di balai-balai sambil nglaras tembang campursari. Suara cemengkling mBak Waldjinah yang menyanyikan lagu Putri Solo membuat mata Mas Joko liyer-liyer sementara fikirannya sibuk mereka-reka sosok Putri Solo yang dideskripsikan dalam lagu tersebut. Simak saja syairnya:

putri Solo, ayune kepara nyata/pancen pinter anglelewa/ dasar putri Solo/ nganggo selendang pelangi/ sumampir ana pundhake/ cunduke kembang melati/ dadi lan pantese
melakune kaya macan luwe/ sandal jinjit penganggone/ kiyet-kiyet swarane/ kelap kelip ya suwenge/ dasar, putri Solo
putri Solo/ yen, ngguyu dekik pipine/ ireng manis kulitane/ dasar putri Solo Lanjut baca…

Share on Facebook

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan

Majalah Tempo edisi 7 Januari 2013 memilih tokoh seni 2012. Ada empat kategori yang dipilih, yakni Musik, Sastra, Seni Rupa dan Teater. Dalam kategori musik, Tempo menobatkan Dunia Batas (milik Payung Teduh) sebagai album terbaik. Musik milik Payung Teduh – grup musik yang asing di telinga saya, mendapatkan puja-puji dari tim juri yang menyeleksi lebih dari seratus album dalam pelbagai genre dari rock, pop, jazz hingga reggae.

Didasari oleh rasa penasaran, maka saya pun berburu album Payung Teduh. Saya beruntung menemukan CD-nya di salah satu rak Harika Musik. Album yang dirilis di bawah bendera Ivy League Music ini diberi nama Dunia Batas, berisi delapan lagu yakni Berdua Saja, Menuju Senja, Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan, Rahasia, Angin Pujaan Hujan, Di Ujung Malam, Resah dan Biarkan. Semuanya nyiamik, temponya mengalir pelan, tenang menghanyutkan dan tentu saja terasa meneduhkan. Tak salah jika Tempo memilihnya menjadi album musik terbaik. Lanjut baca…

Share on Facebook