Mana Kaca Mata Bajak Lautnya?

Tanggal 26 Juni lalu aku pergi ke Semarang, ke rumah temanku yang kebetulan kuliah di Undip. Pada kesempatan itu, aku gunakan untuk keliling kota diantar oleh temanku tadi. Tak lupa mampir di Gajah Mada Theatre yang kebetulan memutar Rambo III.

Di depan gedung bioskop tersebut, kulihat sosok yang selama ini jadi idolaku, yakni Oom Goen, kartunis MI yang berjidat lebar dan berkumis tebal. Tanpa babibu kusapa dia dengan lantang, “Oom Goen, kaca mata bajak lautnya kok nggak dipakai?” Anda tahu khan, dalam menggambar dia selalu memberikan kaca mata bajak laut pada sang tokoh.

Namun apa yang terjadi sungguh di luar perhitungan. Dia malah melotot ke arahku sambil ngomong yang tak kupahami maksudnya. Pasti ini salah alamat, pikirku. Dan betul, sebab dia masuk mobil yang bertuliskan merk sebuah sabun alias mobil propaganda.

Tentu saja aku malu setengah mati. Sudah diomeli Oom Goen palsu ditambah diketawain temanku. Salam buat Oom Goen asli dan sekali-kali nongol di koran ini dong.

Koran Minggu Ini – Suara Merdeka Group (terbitan Semarang) Minggu IV – Agustus 1988 dalam rubrik Pengalaman Tak Terlupakan

Share on Facebook

Orang Pintar, Baca NGI

Saya begitu tertarik untuk membaca National Geographic Indonesia (NGI) sejak edisi perdana April 2005 dengan judul cover Orang Kerdil dari Dunia yang Hilang. Sampai dengan terbitan ke 6, saya masih kesulitan memahami bahasanya, hal ini bisa jadi karena saat menerjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, “roh” naskah asli tidak disertakan dalam edisi terjemahan. NGI seperti selalu memperbaiki hal ini, buktinya sekarang ini NGI enak dibaca, tidak perlu mengerutkan jidat saya lagi. Apalagi, warna Nusantara selalu ada di setiap penerbitannya.

Foto-foto yang ditampilkan NGI sungguh indah dan bagus, sebagai karya fotografer yang berpengalaman. Dan foto itu berbicara lebih banyak dari pada narasi yang disertakan. Saya sering dibuat takjub melihat foto-fotonya. Tuhan sungguh maha kreatif menciptakan alam semesta ini. Pemandangan alam di gurun, di hamparan gunung es, di hutan, di kedalaman lautan, di cakrawala nan luas bisa kita lihat di setiap penerbitan NGI. Angka Rp 50.000 jadi tidak berarti apa-apa. Lanjut baca…

Share on Facebook

Kalawarti Panjebar Semangat

Kalawarti (bahasa Jawa, yang berarti majalah) Panjebar Semangat, pada September 2008 ini telah berumur 75 tahun. Lumayan tua untuk ukuran sebuah penerbitan. Kalawarti ini familiar disebut dengan PS saja. Saya mengenal PS ini sejak SD dulu. Saya rajin membaca PS karena mbah Kakung saya yang seorang pensiunan berlangganan PS. Rubrik favorit saya di antaranya Cerkak (Cerita Cekak = Cerita Pendek), Alaming Lelembut dan CPPS (Cangkringan Prapatan PS, semacam TTS). Kalau mbah Kakung masih membaca PS tersebut, dengan sabar saya menunggu sampai dia selesai membaca. Sampai SMA membaca PS masih nebeng pada mbah Kakung.

Saya suka menyelesaikan menjawab CPPS dengan dibantu mbah Kakung. Karena tiap minggu selalu mengisi CPPS (tetapi saya tidak pernah mengirimkan jawaban ke redaksi PS meskipun untuk sekedar mendapatkan hadiah), iseng-iseng saya membuat naskah CPPS. Dan ternyata dimuat! Saya senang bukan main. Saat itu saya klas 2 SMA. Honor yang saya terima Rp 3.000,-. Jaman sekolah dulu, murid yang dapat wesel ditulis di papan depan kantor TU. Naskah CPPS pertama dimuat di PS Nomor 29 tahun 1985 kemudian secara rutin saya mengirim naskah CPPS, terakhir dimuat di PS Nomor 23 tahun 1993. Karena kesibukan saya bekerja, tidak sempat lagi membuat naskah CPPS. Lanjut baca…

Share on Facebook