Orang Pintar, Baca NGI

Saya begitu tertarik untuk membaca National Geographic Indonesia (NGI) sejak edisi perdana April 2005 dengan judul cover Orang Kerdil dari Dunia yang Hilang. Sampai dengan terbitan ke 6, saya masih kesulitan memahami bahasanya, hal ini bisa jadi karena saat menerjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, “roh” naskah asli tidak disertakan dalam edisi terjemahan. NGI seperti selalu memperbaiki hal ini, buktinya sekarang ini NGI enak dibaca, tidak perlu mengerutkan jidat saya lagi. Apalagi, warna Nusantara selalu ada di setiap penerbitannya.

Foto-foto yang ditampilkan NGI sungguh indah dan bagus, sebagai karya fotografer yang berpengalaman. Dan foto itu berbicara lebih banyak dari pada narasi yang disertakan. Saya sering dibuat takjub melihat foto-fotonya. Tuhan sungguh maha kreatif menciptakan alam semesta ini. Pemandangan alam di gurun, di hamparan gunung es, di hutan, di kedalaman lautan, di cakrawala nan luas bisa kita lihat di setiap penerbitan NGI. Angka Rp 50.000 jadi tidak berarti apa-apa. Lanjut baca…

Share on Facebook

Kalawarti Panjebar Semangat

Kalawarti (bahasa Jawa, yang berarti majalah) Panjebar Semangat, pada September 2008 ini telah berumur 75 tahun. Lumayan tua untuk ukuran sebuah penerbitan. Kalawarti ini familiar disebut dengan PS saja. Saya mengenal PS ini sejak SD dulu. Saya rajin membaca PS karena mbah Kakung saya yang seorang pensiunan berlangganan PS. Rubrik favorit saya di antaranya Cerkak (Cerita Cekak = Cerita Pendek), Alaming Lelembut dan CPPS (Cangkringan Prapatan PS, semacam TTS). Kalau mbah Kakung masih membaca PS tersebut, dengan sabar saya menunggu sampai dia selesai membaca. Sampai SMA membaca PS masih nebeng pada mbah Kakung.

Saya suka menyelesaikan menjawab CPPS dengan dibantu mbah Kakung. Karena tiap minggu selalu mengisi CPPS (tetapi saya tidak pernah mengirimkan jawaban ke redaksi PS meskipun untuk sekedar mendapatkan hadiah), iseng-iseng saya membuat naskah CPPS. Dan ternyata dimuat! Saya senang bukan main. Saat itu saya klas 2 SMA. Honor yang saya terima Rp 3.000,-. Jaman sekolah dulu, murid yang dapat wesel ditulis di papan depan kantor TU. Naskah CPPS pertama dimuat di PS Nomor 29 tahun 1985 kemudian secara rutin saya mengirim naskah CPPS, terakhir dimuat di PS Nomor 23 tahun 1993. Karena kesibukan saya bekerja, tidak sempat lagi membuat naskah CPPS. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sihir Laskar Pelangi

Sejak film Laskar Pelangi diputar pertama kali di layar lebar, baru Minggu 12/10/08 kemarin mendapatkan kesempatan nonton. Mudik lebaran ke Solo kemarin, bolak-balik ke Grand 21 tidak dapat tiket. Saat main ke Djogja, demikian juga. Di Ambarukma Mall, juga full. Di Metmal 21 Bekasi dan di Lippo 21 Cikarang, sama saja, antri karcis mengular, itupun untuk nonton bukan di jam saat antri itu. Akhirnya, berkesempatan nonton di Ciwalk XXI, Bandung, meski mendapatkan kursi deretan kedua dari depan layar.

Seperti orang lain, saya pun menitikkan air mata sejak film diputar. Gila bener tuh si Riri Riza dan Mira Lesmana, bikin film bagus banget begitu. Masih pengin lihat lagi. Entah kapan. Masih terngiang-ngiang nasehat pak Harfan : “Hiduplah untuk memberi yang sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya” kira-kira begitu isi nasehatnya. Adegan-adegan lucu mengingatkan masa kecil, seperti ketika Mahar menjemur battery. Ah.. itu seperti yang dilakukan oleh mbah Kakungku, ketika radio Phillipsnya mulai bunyi “soak”. Atau ketika si Ikal jatuh cinta sama A Ling. Eh, untuk tokoh Ikal ini ada sedikit kritik buat Riri Riza. Ikal kecil punya tahi lalat di bawah mata kiri, tapi begitu dewasa (diperankan oleh Lukman Sardi) kok tahi lalatnya hilang. Dioperasi kali ya…he..he..

Tidak tanggung-tanggung, presiden kita pun menyaksikan film tersebut, juga terharu katanya. Kita tunggu, ada perubahan kebijakan atau tidak terhadap pendidikan nasional kita. Mudah-mudahan saja.

Saya ingat, kira-kira dua tahun lalu saya menyaksikan film Denias, anak pedalaman Papua yang ingin menikmati pendidikan yang “layak”. Ini juga film yang bagus, tapi rasanya belum menyentuh hati para pembuat kebijakan di bidang pendidikan. Sampai saat ini masih kita rasakan biaya sekolah masih mahal, gedung-gedung sekolah negeri hampir roboh (kalau saya tidak salah ingat, terakhir pemerintah membangun gedung-gedung SD masih rezim orde baru dengan Program SD Inpres-nya) dan wajib belajar 9 tahun terabaikan.

Kembali ke film Laskar Pelangi. Baik buku maupun filmnya, rasanya masih menyihir saya. Nyatanya, sekarang ini saya mengulang membaca buku Laskar Pelangi untuk kali ketiga (buku Sang Pemimpi dan Edensor, baru sekali saya baca), ring tone ponsel saya pun terinstall lagu “Seroja” yang dinyanyikan oleh Veris “Mahar” Yamarno. Sungguh mendayu-dayu, indahnya jatuh cinta.

Share on Facebook