Dongeng dari Istana Bawah Tanah

Di tengah hutan, seorang penebang kayu berjalan sambil matanya melihat-lihat ketinggian pohon, memilah pohon mana yang akan ditebangnya. Kaki penebang kayu itu terantuk sebuah besi, dan membuatnya jatuh dan mengerang kesakitan karena kaki kirinya terjepit besi ini. Dia sibakkan daun-daun kering yang menutupi besi tersebut. Dia terkejut, dia menemukan kayu, mirip pintu ruang bawah tanah. Rupanya, kakinya tadi terantuk besi pegangan pintu.

Dia penasaran ingin membuka pintu bawah tanah tersebut, barangkali di bawah sana tersimpan harta karun, begitu pikirnya. Dia menghancurkan gembok pintu dengan kapaknya. Pelan-pelan dia buka pintu, ada tangga turun di sana. Dengan hati-hati dia mulai turun, ruangan semakin gelap. Tetapi tidak lama, dia segera menemukan cahaya yang terang benderang. Lanjut baca…

Share on Facebook

HM

“Pelangiku,” bisik Bumi, “tataplah aku”.
Tangan Bumi menyentuh lembut bahunya. Temaram cahaya di kamar itu cukup bagi mereka berdua untuk saling bertatapan dan entah siapa yang memulai, mereka membiarkan diri hanyut dalam pelukan. Pelangi merapatkan tubuhnya erat-erat seakan takut kehilangan sesuatu yang telah dia temukan. Bumi pun menyambutnya, melindunginya.

Kembali, mereka saling menatap, embusan angin yang dahsyat seakan memenuhi ruangan, menyapu semua ketakutan, keraguan dan kegelisahan. Penuh kerinduan, tangan mereka saling bersentuhan, mereka berciuman. Inikah angin atau apikah yang menelan mereka? Lanjut baca…

Share on Facebook

Cinta Playboy Berakhir Tragis

Di masa kerajaan Pajang dulu, tersebutlah nama Raden Pabelan putra Tumenggung Mayang, salah satu menteri kepercayaan Sultan Pajang Hadiwijaya. Pabelan mempunyai wajah yang sangat tampan, konon di wilayah Pajang tidak ada yang mampu mengalahkan indahnya paras mukanya itu. Tetapi, sifat Pabelan tidak seelok wajahnya. Pabelan seorang playboy. Jari-jari tangan tidak akan cukup untuk menghitung sudah berapa wanita yang menjadi korban Pabelan. Baik yang masih perawan, janda atau bahkan yang masih menjadi istri orang.

Tumenggung Mayang tentu saja malu atas perilaku Pabelan dan selalu gelisah memikirkan kelakukan anak laki-laki satu-satunya itu. Kelakuan Pabelan mengancam kedudukannya sebagai tumenggung, karena dia telah mendapatkan peringatan keras dari Sultan Pajang agar menghentikan tingkah Pabelan yang buruk itu. Satu-satunya jalan, dia harus membunuh Pabelan, putranya sendiri. Lanjut baca…

Share on Facebook