Kyai Sala dan mayat Raden Pabelan

Dongeng di bawah ini merupakan kelanjutan Cinta Playboy Berakhir Tragis.

Sultan Hadiwijaya menghela nafas panjang, ia telah puas telah membunuh lelaki yang menodai anak gadisnya. Ia cabut kerisnya dari tubuh Raden Pabelan, maka darah segar mengalir dari dada anak lelaki Tumenggung Mayang itu.

Para prajurit yang berada di sekitar istana keputren berdiri kaku menyaksikan junjungan mereka membunuh kekasih sekar kedaton. Mereka terkejut ketika Sultan memberikan titah.

“Buang mayat Pabelan ini ke Bengawan dan panggil Tumenggung Mayang untuk menghadapku!” Lanjut baca…

Share on Facebook

Batu Ratapan Angin

Pada zaman dahulu, di P. Jawa bagian tengah terdapat sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja muda bernama Pangeran Tejomantri. Ia mempunyai seorang permaisuri yang sangat disayanginya yakni Puteri Maruti. Perkawinan mereka sangat harmonis sehingga menjadi teladan rakyatnya.

Arkian, di sebelah tenggara kerajaan, ada telaga yang airnya berwarna-warni, sangat memesona siapa pun yang memandangnya. Uniknya, telaga tersebut terletak di ketinggian pegunungan sehingga untuk mencapai ke sana harus dilakukan dengan berkuda. Pangeran Tejomantri dan Puteri Maruti senang sekali berkunjung ke sana. Lanjut baca…

Share on Facebook

23 tahun membangun simbol cinta abadi

Kekaisaran Mughal berduka. Permaisuri Arjumand Banu Begum mangkat setelah melahirkan anak ke-14 mereka. Kaisar Mughal Shah Jahan begitu sayang dan cinta kepada permaisuri yang berasal dari Persia itu. Arjumand yang juga dikenal dengan nama Mumtaz ul Zamani meninggal dalam usia 39 tahun.

Pada suatu malam, kira-kira setahun sebelum mangkatnya Arjumand, Shah Jahan mendatangi pembaringan permaisurinya. Kaisar yang kekayaannya tiada terkira itu sangat menyayangi Arjumand.

“Dinda Mumtaz, mintalah sesuatu kepadaku dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu.”

“Kanda, saya ingin dibuatkan sebuah makam yang tak pernah disaksikan dunia sebelumnya untuk mengenangnya.” Lanjut baca…

Share on Facebook