Cinderella

Karena sentuhan tongkat sihir ibu peri, penampilan Cinderella menjadi seperti puteri. Ia telah siap berangkat menuju istana sebab raja mengundang seluruh gadis seantero kerajaan untuk hadir dalam pelantikan pangeran mahkota menjadi raja pengganti.

Sudah bisa diduga kalau penampilan Cinderella memesona setiap mata yang memandangnya tak terkecuali pangeran sendiri. Gadis ini barangkali akan menjadi jodohku. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sedah dan Prabarini

piaAkhirnya aku memberanikan diri menghadap Prabu Jayabaya untuk mengutarakan isi fikiran yang mampat di otakku. Tak biasanya aku segrogi ini memasuki halaman istana Kediri.

“Sudah sampai di mana kepenulisanmu, Mpu?” Prabu Jayabaya bertanya kepadaku tentang wiracarita Mahabharata yang sedang aku tulis. Ia memberi proyek kepadaku untuk menerjemahkan naskah Mahabharata yang berasal dari Negeri Hindustan ke dalam bahasa Kawi.

“Seharusnya sudah masuk ke bab Salya dan istrinya, Setyawati. Untuk itulah aku menghadap kepadamu untuk minta izin menulis bab tersebut di istana ini,” ucapku kepada Raja Kediri. “Dengan didampingi oleh permaisurimu, Prabarini.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Bara dalam sekam Jayabaya kepada Mpu Sedah

Mpu Sedah adalah brahmana yang tenar dan namanya harum di kalangan Kerajaan Jenggala. Pada usia dua puluh tiga tahun, Mpu Sedah bermaksud melamar gadis pujaan hatinya, Dyah Ayu Prabarini yang berumur tujuh belas tahun. Mpu Sedah masih keturunan Mpu Baradah yang pada masanya diminta oleh Prabu Airlangga membelah kerajaan menjadi dua bagian, yakni Jenggala dan Panjalu.

Syahdan, Prabu Jayadarma yang saat itu bertahta di Panjalu gerah dengan ketenaran Mpu Sedah. Ia ingin menjatuhkan martabat Mpu Sedah dengan menculik Prabarini, calon istri Mpu Sedah. Setelah berhasil menculik Prabarini, ia menjodohkan dengan cucunya, yakni Jayabaya. Rupanya, Mpu Sedah berbesar hati, ia tak melakukan perbuatan yang bisa mencemarkan status brahmana yang disandangnya. Lanjut baca…

Share on Facebook