Balada Sang Murai Gagap

Telaga yang terletak di tengah taman, siang itu sungguh tenang airnya. Bunga-bunga yang bermekaran warna-warni di sekitarnnya menambah keindahan telaga itu, bahkan sangat memesona mata siapa pun yang mengaguminya.

Nun di salah satu sudut telaga, pada pohon yang rindang bertenggerlah seekor Murai yang sedang bermuram durja. Sudah dalam hitungan tujuh kali matahari terbit ia selalu berada di sana. Matanya tidak pernah lepas dari memandang air bening di bawahnya. Tanpa sepengetahuannya, seekor ikan Nila selalu memperhatikan tingkah Murai. Lanjut baca…

Share on Facebook

Istana Hujan

sudah kubangunkan untukmu
sebuah istana hujan Lanjut baca…

Share on Facebook

Buah Laku Jujur

Sudah lama Baginda Jagadira tidak mengadakan penyamaran untuk melihat keadaan rakyatnya. Dia ingin sekali melihat langsung keadaan hidup rakyatnya, karena selama ini menterinya selalu melaporkan bahwa keadaan rakyat dalam keadaan aman, sehat, makmur tak kurang satu apa. Untuk membuktikan kata menterinya Baginda akan melihat langsung.

Memang selama ini kerajaan Sekar Mayang aman-aman saja. Rakyatnya tetap makmur, tak ada gejolak. Baginda Jagadira memerintah dengan arif bijaksana, maka tak heran apabila rakyat amat menghormatinya. Apalagi sekarang banginda telah mempunyai seorang anak laki-laki, yaitu adik Puteri Andini, putri Baginda yang pertama. Berarti dia telah mempunyai putera mahkota sebagai penggantinya apabila dia wafat.

Malam itu Baginda ingin melaksanakan niatnya dan untuk itu dia telah berpakaian sebagaimana rakyat biasa. Sebagai teman di perjalanan Baginda mengajak bawahannya yang bernama Kimanutan. Sepanjang perjalanan Baginda bercerita banyak dengan Kimanutan. Banyak sekali hal yang ingin diketahui Baginda dari Kimanutan mengenai rakyatnya. Misalnya tentang penghidupan rakyatnya, apakah telah layak. Juga tentang makan, apakah rakyatnya ada yang menderita kelaparan atau tidak. Lanjut baca…

Share on Facebook