Dongeng Romeo & Juliet di Tahun Monyet Api

Dalam rangka merayakan Imlek 2567 Kyai Google hari ini menampilkan doodle delapan monyet yang bergelantungan pada sebuah dahan pohon yang melambangkan tahun ini bershio monyet.

Lopburi, Thailand pada suatu ketika.

Ada dua kelompok besar kawanan monyet, yang satu bermarkas di sebuah kuil tua dan yang satunya di pasar kota. Masing-masing kawanan mempunyai bos besar yang bertugas mengorganisir kelompok monyet tersebut, termasuk melarang anggota kawanan untuk masuk ke wilayah teritori kawanan lain. Lanjut baca…

Share on Facebook

Kyai Sala dan mayat Raden Pabelan

Dongeng di bawah ini merupakan kelanjutan Cinta Playboy Berakhir Tragis.

Sultan Hadiwijaya menghela nafas panjang, ia telah puas telah membunuh lelaki yang menodai anak gadisnya. Ia cabut kerisnya dari tubuh Raden Pabelan, maka darah segar mengalir dari dada anak lelaki Tumenggung Mayang itu.

Para prajurit yang berada di sekitar istana keputren berdiri kaku menyaksikan junjungan mereka membunuh kekasih sekar kedaton. Mereka terkejut ketika Sultan memberikan titah.

“Buang mayat Pabelan ini ke Bengawan dan panggil Tumenggung Mayang untuk menghadapku!” Lanjut baca…

Share on Facebook

Batu Ratapan Angin

Pada zaman dahulu, di P. Jawa bagian tengah terdapat sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja muda bernama Pangeran Tejomantri. Ia mempunyai seorang permaisuri yang sangat disayanginya yakni Puteri Maruti. Perkawinan mereka sangat harmonis sehingga menjadi teladan rakyatnya.

Arkian, di sebelah tenggara kerajaan, ada telaga yang airnya berwarna-warni, sangat memesona siapa pun yang memandangnya. Uniknya, telaga tersebut terletak di ketinggian pegunungan sehingga untuk mencapai ke sana harus dilakukan dengan berkuda. Pangeran Tejomantri dan Puteri Maruti senang sekali berkunjung ke sana. Lanjut baca…

Share on Facebook