Menjadi duta nego #4

Ada rasa kagum yang luar biasa ketika saya dan rombongan memasuki area Istana Gu Gong, tempat tinggal Kaisar Cheng Tsu. Kekaguman saya bercampur kegumunan setelah menyaksikan betapa megah dan indahnya Istana Gu Gong.

Saya dijadwalkan bertemu Kaisar Cheng Tsu, esok harinya. Saya dan rombongan dijamu dengan sewajarnya sebagaimana penerimaan tamu kenegaraan. Setara, meskipun Majapahit mempunyai kesalahan fatal terhadap pemerintahan Kaisar Cheng Tsu.

“Saya utusan Prabu Wikramawardhana raja Majapahit menghaturkan salam sejahtera bagi Kaisar dan seluruh rakyat Tiongkok.”

Saya membuka percakapan. Kaisar Cheng Tsu mengangguk pelan. Kembali saya berkata dengan sangat hati-hati.

“Kami sangat menyesalkan insiden penyerangan terhadap awak kapal Laksamana Cheng Ho, sebab kami mengira armada kapal Laksamana Cheng Ho akan membantu pihak pemberontak yang tengah kami tumpas. Maaf, rupanya kami keliru. Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke bumi Nusantara bukan membawa misi peperangan tetapi misi kebudayaan dan perdagangan.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Menjadi duta nego #3

Lelaki sepuh berbalut jubah serba putih itu tersenyum pada saya, dan kami saling berpelukan. Dua sahabat lama berjumpa lagi.1 Gajah Mada yang selama ini seperti hilang ditelan bumi paska peristiwa Perang Bubat, kini muncul di kapal yang saya tumpangi menuju Tiongkok.

“Ke mana saja kau selama ini, kakang Mada?”

“Aku tidak ke mana-mana. Aku sengaja mundur dari hingar-bingar perpolitikan Majapahit. Biarlah anak-anak muda yang kini menggerakkan Majapahit.”

“Tapi, kenapa kakang Mada muncul di kapal ini? Hendak ke mana?”

“Aku ingin pergi ziarah ke Mongol negeri leluhurku sebelum raga ringkihku ini menyatu dengan bumi.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Menjadi duta nego #2

Arkian, dalam urutan esok-lusa-tulat-tubin atau hari ke empat setelah pertemuan dengan Prabu Wikramawardhana saya pun berangkat ke Tiongkok untuk menjadi duta negoisasi mewakili Majapahit. Kapal yang saya tumpangi berangkat dari Tuban. Kapal semakin menjauhi pantai, saya masih di buritan menyaksikan Majapahit dari arah senja.

Tubuh lelaki tua seperti saya ini sudah tidak tahan terkena angin laut. Maka, saya pun segera masuk ke kabin saya. Kepergian saya ke Tiongkok tidak sendiri, melainkan ditemani oleh dua cantrik yang setia: Kono dan Kene, dan beberapa prajurit pengusung kotak emas yang beratnya hampir empat kuintal tersebut.

“Wedang jahenya diunjuk, Kyaine?!” Kono menawarkan secangkir wedang jahe yang masih panas.

Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lanjut baca…

Share on Facebook