23 tahun membangun simbol cinta abadi

Kekaisaran Mughal berduka. Permaisuri Arjumand Banu Begum mangkat setelah melahirkan anak ke-14 mereka. Kaisar Mughal Shah Jahan begitu sayang dan cinta kepada permaisuri yang berasal dari Persia itu. Arjumand yang juga dikenal dengan nama Mumtaz ul Zamani meninggal dalam usia 39 tahun.

Pada suatu malam, kira-kira setahun sebelum mangkatnya Arjumand, Shah Jahan mendatangi pembaringan permaisurinya. Kaisar yang kekayaannya tiada terkira itu sangat menyayangi Arjumand.

“Dinda Mumtaz, mintalah sesuatu kepadaku dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu.”

“Kanda, saya ingin dibuatkan sebuah makam yang tak pernah disaksikan dunia sebelumnya untuk mengenangnya.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Menjadi duta nego #4

Ada rasa kagum yang luar biasa ketika saya dan rombongan memasuki area Istana Gu Gong, tempat tinggal Kaisar Cheng Tsu. Kekaguman saya bercampur kegumunan setelah menyaksikan betapa megah dan indahnya Istana Gu Gong.

Saya dijadwalkan bertemu Kaisar Cheng Tsu, esok harinya. Saya dan rombongan dijamu dengan sewajarnya sebagaimana penerimaan tamu kenegaraan. Setara, meskipun Majapahit mempunyai kesalahan fatal terhadap pemerintahan Kaisar Cheng Tsu.

“Saya utusan Prabu Wikramawardhana raja Majapahit menghaturkan salam sejahtera bagi Kaisar dan seluruh rakyat Tiongkok.”

Saya membuka percakapan. Kaisar Cheng Tsu mengangguk pelan. Kembali saya berkata dengan sangat hati-hati.

“Kami sangat menyesalkan insiden penyerangan terhadap awak kapal Laksamana Cheng Ho, sebab kami mengira armada kapal Laksamana Cheng Ho akan membantu pihak pemberontak yang tengah kami tumpas. Maaf, rupanya kami keliru. Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke bumi Nusantara bukan membawa misi peperangan tetapi misi kebudayaan dan perdagangan.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Menjadi duta nego #3

Lelaki sepuh berbalut jubah serba putih itu tersenyum pada saya, dan kami saling berpelukan. Dua sahabat lama berjumpa lagi.1 Gajah Mada yang selama ini seperti hilang ditelan bumi paska peristiwa Perang Bubat, kini muncul di kapal yang saya tumpangi menuju Tiongkok.

“Ke mana saja kau selama ini, kakang Mada?”

“Aku tidak ke mana-mana. Aku sengaja mundur dari hingar-bingar perpolitikan Majapahit. Biarlah anak-anak muda yang kini menggerakkan Majapahit.”

“Tapi, kenapa kakang Mada muncul di kapal ini? Hendak ke mana?”

“Aku ingin pergi ziarah ke Mongol negeri leluhurku sebelum raga ringkihku ini menyatu dengan bumi.” Lanjut baca…

Share on Facebook