Mantraku, Mantra Sakti

Mantraku tak sembarang mantra
Aji-ajiku sakti tak terkira
Tak jin, tak peri, boleh coba sendiri

Dor!
Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa!

Dor! Dor!
Hidup Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!

Dor! Dor! Dor!
Hidup Persatuan Indonesia! Lanjut baca…

Share on Facebook

Kidung

/1/

Bayi Merah itu
kekasih Hyang Widi
dijaga Malaikat
ditimang bidadari
dipayungi Hyang Sukma
dikipasi para nabi

semua wali kutub
ulama dan para mukmin
semua menjaga si bayi
karenanya terjauhkan dari sakit
sirna penyakit si Bayi Merah
kembali sehat ia

seekor capung kecil terbang
hinggap di batu gunung
mendengar tangis si Bayi
segera turun menghampiri
untuk mengobati penyakitnya
melindungi dan menyehatkannya

apa gerangan obatnya?
daun pasrah kepada Hyang Widi
bawang merah kerendahan hati
temu kejujuran hati
adas dan garam keinginan hati
yakni salawat dan dzikir

dzikir itu maknanya
patuh kepada Kanjeng Nabi
Muhammadinalmustafa
dan makna dizikir
ingat kepada Allah
Sang Agung Yang Mahasuci Lanjut baca…

Share on Facebook

Sajak dalam Sembilan Bagian

/1/

Yang getir tak pernah tertunda:
lanskap dalam darah
gemuruh senantiasa;

lalu ledakan, begitu saja,
ketika pada hari baik bulan baik
ia ditetapkan sebagai musafir.

Anak laki-laki tak berhak menangis,
kata ibunya ketika ia pulang
kalah main gundu. Pagi ini

di depan cermin
dibetulkannya letak dasinya,
dieratkannya agar tidak disindir

sebagai pengemis.
Segeralah berangkat, cermin itu
tak lagi mengenalmu.
Getir tak tertunda,

lanskap: di padang pasir
seorang anak laki-laki menangis
ditinggalkan ibunya. Tak ada mata air,

hanya setetes air mata, setetes saja.
Selebihnya: darah yang tetap gemuruh
sehabis ledakan. Lanjut baca…

Share on Facebook