Seni Membaca Buku

Minggu lalu, seorang ayah mengajak anak perempuannya mengunjungi toko buku langganan yang kebetulan beberapa bulan lalu membuka cabang di kota tempat tinggal mereka. Toko buku bukan terletak di sebuah mall, tetapi menempati gedung sendiri yang lumayan keren.

Tempat wisata paling menyenangkan bagi mereka adalah toko buku.

Sejak dini ia memang mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mencintai buku. Dan meskipun gadget selalu di genggaman, membaca buku masih menjadi tradisi mereka. Ia berharap membaca tidak sekedar hobi belaka, tetapi menjadi suatu kebutuhan bagi anak dan cucunya kelak.  Lanjut baca…

Share on Facebook

Dompet itu pun kembali kepada pemiliknya#4

Hari menjelang isya ketika Mas Suryat sampai di rumahnya. Perjalanan dari Jakarta sangat melelahkan, akibat terkena imbas macet di jalan tol Jakarta-Cikampek. Belum juga ia berganti baju dengan kaos Swan kesayangan, bel rumah nyaring berbunyi.

Ia longok dari jendela, terlihat sosok lelaki yang sangat ia kenal. Tamu yang datang bernama Sinung, ia terbiasa memanggilnya Om Sinung membahasakan panggilan untuk anak-anaknya.

Om Sinung adalah bekas tetangga depan rumah Mas Suryat di rumah yang lama. Sudah dua tahun Mas Suryat pindah rumah dan tinggal di kompleks perumahan yang lokasinya cuma sepelemparan sandal dari perumahan lamanya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Dompet itu pun kembali kepada pemiliknya#3

Syahdan, Mas Suryat beranjak dari bangku untuk menuju tempat parkir. Sekira 5 menit waktu yang ia butuhkan berjalan hingga masuk ke dalam kabin Kyai Garuda Seta. Dan tentu saja ia melupakan dompet yang ia taruh di bangku ketiga.

Tak lama kemudian datang dua orang anak muda, dan langsung duduk di bangku kesatu dan kedua. Pemuda yang duduk di bangku kedua matanya tertuju kepada dompet yang tergeletak di sampingnya. Secepat kilat ia raih dompet tersebut dan ia simpan di balik bajunya. Lanjut baca…

Share on Facebook