mBah Kakung

Semalam saya bermimpi ketemu mBah Kakung yang sudah marhum sekian puluh tahun lalu. Kalau sudah begitu, nanti ketika saya ke Karanganyar mesti nyekar ke kuburnya. Jangan-jangan mBah Kakung sedang kangen putu.

mBah Kakung yang saya maksud bapak dari ibu saya, yang biasa dipanggil oleh orang sekitarnya dengan mBah Reso atau mBah Dhuwur, karena tinggi badannya. Ia adalah pensiunan polisi (entah apa pangkat terakhirnya). Saya tak pernah menangi ia menggunakan seragam polisinya, sebab sependek ingatan saya, waktu saya ‘mengenal’ mBah Kakung ia sudah pensiun dari dinas kepolisian.

Waktu kecil dulu, rumah mBah Kakung dan rumah ibu saya beda kampung sehingga kalau saya ingin main ke rumahnya, mesti menyeberangi sungai Siwaluh – sebuah sungai yang membelah Kota Karanganyar – dalam arti menyeberang yang sebenarnya, karena jembatan Siwaluh cukup jauh dari rumah saya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mengatasi perut buncit

Kira-kira dua minggu lalu saya ketemu seorang kawan yang hampir setahun tidak bersua. Ia kaget melihat kondisi postur tubuh saya: saiki kok lemu banget. Wetengmu kok kaya wong meteng. Iya sih, saya menyadari kalau saya sekarang gemuk banget dan perut mirip bumil 7 bulan.

Bagaimana tidak gemuk dan buncit, untuk bergerak saja malas rasanya. Gerakan paling ekstrem yang saya lakukan misalnya saat ngepel, selebihnya jalan kaki yang cuma beberapa langkah saja. Tapi gerakan-gerakan tersebut tentu saja tidak maksimal membakar lemak, sementara makanan yang masuk ke perut saya jumlahnya lumayan banyak.

Bukannya saya tidak menyadari kondisi tubuh yang semakin membengkak. Makin tambah makmur ya? Demikian seloroh kawan saya tadi. Tepatnya, subur dan makmur untuk menggambarkan tubuh saya saat ini. Lanjut baca…

Share on Facebook

Nge-grab di Yogyes

Dalam bulan Agustus kemarin, saya dua kali mengunjungi Jogja. Tak seperti biasanya – minta tolong ke mas Yoga carikan mobil rental – kali ini saya memanfaatkan transportasi online. Lebih murah, pastinya.

Banyak cerita menarik yang saya gali dari para supir yang mengantar saya. Sekali saya pancing dengan pertanyaan, banyak kisah yang keluar dari mulut mereka.

(1)

Anak saya juga lulusan UGM. Ia seorang dokter yang saat ini ambil spesialis. Adiknya sedang ambil kuliah di UIN, sedang yang bungsu masih SMA. Jadi supir adalah jiwa saya. Dulu saya supir bus, kemudian beralih ke angkot. Saya menyekolahkan anak-anak dari nyupir. Makanya, begitu ada online saya mendaftar.

Mobil yang saya pakai ini dibelikan oleh anak saya yang dokter itu. Silakan bapak tetap nyupir, tapi pakai mobil yang baru ya. Demikian kata anak saya. Sebagai orang tua, saya bangga kepada anak-anak saya. Lanjut baca…

Share on Facebook