Lastri mulih: OB kesayangan

Nama aslinya Subardi, tapi entah sejak kapan ia dipanggil dengan Gino dan siapa yang pertama kali mempopulerkan nama ini tidak ada yang ingat persis. Belakangan saya tahu, Gino ini singkatan dari gigi nongol – bibirnya kurang bisa mingkem secara sempurna maka akan ada 2 ujung giginya yang nongol. Pada saat guyon atawa berbicara santai saja saya ikutan memanggilnya Gino. Padahal Kanjeng Nabi mengajarkan bahwa memanggil seseorang dengan sebutan yang bagus/baik). Herannya, Subardi senang-senang saja mendapatkan panggilan: Gino, sebuah nama yang ngrejekeni (selalu memberikan rejeki), katanya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Lastri mulih: ketemu pacar

08.30

Saya membuka rapat yang dilakukan di ruang meeting yang baru. Semua bagian hadir, termasuk Lastri, dengan tugas utama mencatat hasil rapat. Kami sedang merencanakan suatu event promosi yang cukup besar, di akhir bulan ini. Saya memaparkan point-point target yang harus bisa dicapai dalam promosi nanti.

09.15

Saya meninggalkan ruang meeting, untuk menghadiri rapat di kantor pemerintah.

11.50

Makan siang. Lanjut baca…

Share on Facebook

Lastri mulih: jatuh cinta

Tumpukan map di meja saya buka satu per satu. Setiap sore sebelum pulang, Lastri selalu menyiapkan beberapa dokumen yang harus saya tanda tangani esok harinya. Saya teliti, ada dua draft surat yang janggal. Weladalah, tumben Lastri membuat kesalahan yang sepele tapi bisa fatal akibatnya. Ah, jangan-jangan ini terkait dengan wajah cemberutnya kemarin.

Pagi-pagi begini sebetulnya malas bagi saya untuk memberikan kuliah kepada anak buah yang melakukan kesalahan. Bisa dibayangkan kalau anak buah sebelum berangkat ke kantor sudah memendam persoalan di rumahnya, lalu sesampainya di kantor kena semprot atasannya. Bisa jadi dunia kiamat baginya. Ya, paling tidak menunggu sampai suasana hati terbaur dengan ritme kerja di kantor.

Pucuk dicita ulam tiba. Tanpa saya panggil Lastri datang ke ruangan saya. Lanjut baca…

Share on Facebook